Kolom

Candu Solusi Instan: Pemberdayaan UMKM atau Kegagalan Cipta Lapangan Kerja?

Candu Solusi Instan: Pemberdayaan UMKM atau Kegagalan Cipta Lapangan Kerja?
Pasar Surabaya (Unsplash/@hsbg99)

Alih-alih berbicara tentang strategi mendatangkan investasi dan membuka lapangan kerja dalam skala besar, yang justru dipamerkan adalah pembagian gerobak kepada pedagang kecil. Apakah memberikan gerobak benar-benar menyelesaikan akar persoalan pengangguran?

Kita perlu membedakan antara bantuan sosial, pemberdayaan UMKM, dan kebijakan penciptaan lapangan kerja. Ketiganya penting, tetapi tidak bisa saling menggantikan.

UMKM memang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Sektor ini menyerap jutaan tenaga kerja, menjaga perputaran ekonomi lokal, dan terbukti lebih tangguh saat terjadi krisis. Tidak ada yang salah dengan mendukung pedagang kecil melalui bantuan modal, pelatihan, maupun fasilitas usaha seperti gerobak.

Namun, persoalan muncul ketika bantuan semacam itu diposisikan seolah-olah sebagai jawaban atas persoalan ketenagakerjaan nasional.

Menjamurnya pedagang kaki lima, penjual makanan keliling, hingga gerobak di hampir setiap sudut kota memang bisa dibaca dari dua sisi. Di satu sisi, itu menunjukkan semangat masyarakat untuk bertahan hidup dan berwirausaha. Di sisi lain, fenomena tersebut juga dapat menjadi cerminan terbatasnya kesempatan memperoleh pekerjaan formal yang layak.

Banyak orang membuka usaha bukan karena sejak awal bercita-cita menjadi pengusaha, melainkan karena tidak memiliki pilihan lain. Setelah berkali-kali mengirim lamaran kerja tanpa hasil, setelah terkena pemutusan hubungan kerja, atau setelah lulus sekolah tetapi sulit memperoleh pekerjaan, berdagang menjadi jalan bertahan hidup yang paling realistis.

Inilah yang sering disebut sebagai entrepreneurship karena keterpaksaan, bukan karena adanya peluang bisnis yang dirancang secara matang.

Karena itu, negara seharusnya tidak berhenti pada pembagian gerobak. Yang jauh lebih penting adalah menciptakan ekosistem ekonomi yang mampu menghasilkan pekerjaan dalam jumlah besar. Caranya melalui investasi yang sehat, kepastian hukum, pembangunan kawasan industri, penguatan manufaktur, hilirisasi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Lapangan kerja yang berkualitas memiliki efek berganda. Ketika sebuah pabrik berdiri, misalnya, bukan hanya operator produksi yang bekerja. Ada kebutuhan akan tenaga administrasi, logistik, keamanan, transportasi, katering, hingga jasa pendukung lainnya. Satu investasi mampu menggerakkan rantai ekonomi yang panjang.

Sebaliknya, jika semakin banyak orang didorong membuka usaha mikro tanpa melihat daya beli masyarakat, maka persaingan justru semakin ketat. Di satu ruas jalan bisa berdiri belasan gerobak yang menjual menu hampir sama kepada jumlah pembeli yang tidak banyak berubah. Akibatnya, pendapatan masing-masing pedagang menjadi semakin kecil.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah jumlah pelaku usaha mikro. Pasar juga memiliki batas. Ketika penawaran jauh lebih besar daripada permintaan, semua pelaku usaha akan berebut pelanggan yang sama.

Bukan berarti UMKM tidak penting. Justru sebaliknya, UMKM harus terus didukung agar naik kelas, mampu memanfaatkan teknologi, memperluas pasar, dan menghasilkan produk bernilai tambah. Namun, dukungan terhadap UMKM seharusnya berjalan beriringan dengan strategi besar menciptakan pekerjaan formal yang produktif.

Masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar alat untuk berdagang. Mereka membutuhkan kesempatan untuk memilih. Memilih menjadi karyawan, menjadi teknisi, menjadi operator pabrik, menjadi peneliti, atau menjadi pengusaha. Pilihan itu hanya hadir apabila ekonomi mampu menciptakan lapangan kerja yang beragam.

Ukuran keberhasilan sebuah negara bukanlah berapa banyak gerobak yang berhasil dibagikan, melainkan berapa banyak warga yang tidak lagi terpaksa berdagang karena ketiadaan pekerjaan lain. Bantuan kepada UMKM patut diapresiasi sebagai bentuk perlindungan ekonomi rakyat kecil. Namun, menjadikannya sebagai wajah utama kebijakan ketenagakerjaan justru berisiko menutupi persoalan yang lebih besar.

Masih terbatasnya kesempatan kerja yang layak bagi jutaan pencari kerja di Indonesia.

Gerobak dapat membantu seseorang memulai usaha. Tetapi gerobak bukan pengganti strategi pembangunan ekonomi. Negara tetap dituntut menghadirkan iklim investasi yang sehat, industri yang tumbuh, dan lapangan kerja yang bermartabat. Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan cara untuk bertahan hidup, tetapi juga kesempatan untuk hidup lebih baik.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda