Kolom
Jebakan Narsisme Kebudayaan: Mengapa Delegasi Mahasiswa Harus Berhenti Sekadar Jadi 'Performer'
Setiap kali delegasi mahasiswa Indonesia berangkat ke forum internasional, narasi yang membanjiri ruang publik hampir selalu seragam: rasa bangga karena sukses "mengenalkan" budaya Nusantara. Kabar terbaru dari empat delegasi Universitas Airlangga (UNAIR) di Asian Youth Cultural Forum (AYCF) 2026 di Guiyang, China, kembali memperlihatkan pola ini. Mereka tampil memukau membawa Tari Topeng Rahwana Betawi, wayang, batik, hingga kuliner Nusantara.
Tentu ini prestasi yang patut diapresiasi. Namun, pernahkah kita bertanya: apakah diplomasi budaya di tingkat pemuda harus terus-menerus menjadi panggung pertunjukan satu arah?
Jebakan "Narsisme Kebudayaan" dalam Diplomasi
Selama ini, cara pandang kita terhadap diplomasi publik cenderung egosentris. Kita datang membawa checklist kebudayaan: menari, memamerkan kain tradisional, menyuguhkan rendang, lalu pulang membawa pujian. Kita sering abai bahwa pertukaran budaya—seperti kata dasarnya—harus berjalan dua arah.
Pola pikir "yang penting budaya kita dikenal" kerap memenjarakan pemuda dalam jebakan narsisme kebudayaan. Padahal, forum internasional seperti AYCF menyajikan ruang yang jauh lebih strategis daripada sekadar arena pameran.
Menguji Cultural Humility: Belajar Ink Painting dan Preservasi
Di ajang AYCF 2026, delegasi tidak hanya pentas. Mereka juga diajak melakukan napak tilas di Museum Provinsi Guizhou, serta mempelajari seni rupa tradisional China seperti Chinese ink painting, printmaking, dan paper cutting.
Di sinilah letak poin krusial yang jarang dibahas: cultural humility atau kerendahan hati budaya.
China, melalui investasi besarnya pada sektor kebudayaan, berhasil mengemas tradisi kuno menjadi komoditas modern yang terkelola rapi. Sistem museum mereka canggih, seni lukis tinta diajarkan secara sistematis, dan kerajinan potong kertas dijadikan industri kreatif yang mendunia.
Ketika mahasiswa kita mempelajari ink painting atau menyusuri museum di Guiyang, mereka sebenarnya sedang dihadapkan pada studi banding tata kelola kebudayaan. Menampilkan wayang itu luar biasa, tetapi menyerap cara negara lain merawat warisan budayanya agar tidak punah adalah langkah cerdas yang jauh lebih bernilai.
Solusi Konkret: Dari Panggung Seni ke Policy Brief
Agar anggaran dan energi mahasiswa yang terbang ke luar negeri tidak menguap bersama tepuk tangan penonton, sudah saatnya kita merombak paradigma diplomasi budaya kampus.
Pihak universitas dan kementerian terkait perlu mewajibkan setiap delegasi internasional menyusun policy brief atau laporan rekomendasi pascakunjungan. Laporan ini memuat analisis mengenai sistem preservasi museum, pengelolaan seni tradisional, atau strategi pemasaran budaya negara tuan rumah yang dapat diadaptasi oleh pemerintah daerah maupun kampus di Indonesia.
Jika delegasi UNAIR pulang tidak hanya membawa cerita sukses Tari Rahwana, tetapi juga membawa cetak biru strategi pengelolaan museum digital atau preservasi seni lokal berbasis pengalaman di China, dampak positifnya akan dirasakan langsung oleh ekosistem seni Tanah Air.
Diplomasi budaya sejati bukanlah soal siapa yang paling nyaring memamerkan identitasnya, melainkan siapa yang paling bijak memetik pelajaran untuk memajukan bangsanya sendiri. Sudah siapkah kampus-kampus kita melatih delegasinya untuk tidak cuma menjadi performer, tetapi juga analyst kebudayaan?