Kolom
Dari Ngajar Jadi Tukang Endus: Ironi di Balik MBG
Setiap hari rasanya selalu ada saja berita tentang keracunan makanan. Begitu satu kasus selesai dibicarakan, muncul kasus lain. Berita tentang Makan Bergizi Gratis (MBG) bahkan seperti makanan yang belum sempat dingin: sudah ada kabar baru lagi.
Di Batang, ratusan orang dilaporkan mengalami keluhan setelah mengonsumsi MBG. Di Karo siswi hilang ingatan 70 % setelah konsumsi MBG, dan di Purworejo juga ratusan orang keracunan MBG. Penyebabnya masih diperiksa. Namun setiap kali kasus semacam ini muncul, pertanyaan publik hampir selalu sama: siapa yang salah?
Tukang cuci ompreng karena kurang bersih? Siswa karena tidak mencuci tangan? Guru karena tidak mengendus makanan? Petugas dapur karena kurang teliti? Koki karena salah memasak? Kepala BGN? Atau Presiden sekalian. Kalau semua kemungkinan dilempar ke bawah, lama-lama program MBG bukan cuma membutuhkan ahli gizi, koki, dan petugas kebersihan. Kita juga membutuhkan satu profesi baru: tukang endus nasional.
Humor itu memang terdengar lucu. Masalahnya, yang sedang dibicarakan bukan makanan di meja makan keluarga. Ini makanan yang dibagikan kepada anak-anak dalam jumlah besar. Saya tidak ingin buru-buru mengatakan bahwa MBG adalah program yang buruk. Meski kenyataanya begitu. Gagasannya justru memiliki tujuan yang masuk akal: membantu anak mendapatkan makanan bergizi. Ada anak yang mungkin memang terbantu karena program ini. Karena itu, kritik terhadap pelaksanaannya tidak semestinya diterjemahkan sebagai penolakan terhadap gagasan memberi makanan bergizi kepada anak.
Anak-anak tentu membutuhkan makanan bergizi. Tetapi jangan sampai demi mengejar isi ompreng, kita lupa memastikan apa yang ada di dalamnya benar-benar aman. Belum lama ini, perdebatan tentang guru yang harus melakukan pemeriksaan makanan dengan cara mengendus dan mencicipi juga ramai. Guru tentu dapat menjadi salah satu mata pengawasan di sekolah. Tetapi apakah hidung guru harus menjadi benteng terakhir keamanan pangan?
Bayangkan seorang guru pagi-pagi datang untuk mengajar. Ia menyiapkan materi, menghadapi siswa, mengejar administrasi, lalu sebelum anak-anak makan harus memastikan makanan aman dengan melihat, mencium, bahkan mencicipinya.
Besok-besok mungkin guru bukan lagi ditanya, “Sudah mengajar berapa kelas?” tetapi, “Hari ini sudah mengendus berapa ompreng?”
Tentu saja, pemeriksaan sederhana tetap berguna. Makanan yang berubah bau, warna, atau bentuk memang patut dicurigai. Namun keamanan pangan tidak bisa diserahkan kepada hidung dan lidah semata. Ada persoalan kebersihan, penyimpanan, suhu, pengolahan, distribusi, sampai kemungkinan kontaminasi yang tidak selalu bisa dikenali dari indra manusia.
Di sinilah letak persoalannya. Kalau makanan baru diperiksa serius setelah sampai di sekolah, kita sebenarnya sedang menaruh pagar di ujung jurang. Pengawasan di sekolah penting, tetapi seharusnya menjadi lapisan terakhir, bukan pertahanan utama.
Kalau dari dapur sampai distribusi sudah memiliki sistem pengawasan yang kuat, guru tidak perlu berubah profesi menjadi pencicip makanan dadakan. Begitu pula ketika terjadi keracunan. Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari siapa yang terakhir menyentuh makanan, sementara rantai pengawasannya sendiri luput diperiksa.
Tukang cuci ompreng bisa saja salah. Petugas dapur bisa saja lalai. Siswa bisa saja lupa mencuci tangan. Tetapi semua kemungkinan itu harus dibuktikan, bukan sekadar dilempar sebagai kambing hitam. Sebab kalau setiap kasus selalu berakhir dengan mencari orang paling bawah, kita hanya akan mendapatkan satu hal: tersangka baru tanpa sistem yang baru. MBG tidak harus dipertentangkan dengan keamanan pangan. Justru karena program ini ditujukan untuk anak-anak dan dijalankan dalam skala besar, standar keamanannya harus lebih besar pula.
Program sebesar ini membutuhkan pengawasan dari hulu sampai hilir: bagaimana bahan makanan diperoleh, disimpan, dimasak, dikemas, diangkut, hingga diterima siswa. Ketika terjadi masalah, yang diperiksa bukan hanya siapa yang memegang ompreng terakhir, tetapi seluruh rantai yang memungkinkan masalah itu terjadi.
Kalau memang tidak bisa dibenahi, ya sudah, tutup saja. Jangan dipaksakan terus berjalan sementara masalahnya datang bergantian: keracunan, pengawasan, sampai korupsi. Rakyat sudah bersuara berjuta-juta kali di kolom komentar. Toh, yang dipertaruhkan bukan gengsi program, tetapi keselamatan anak-anak dan uang rakyat. Kalau memperbaiki MBG ternyata lebih sulit daripada mempertahankan masalahnya, mungkin jawabannya memang sederhana: tutup MBG.