Kolom

Quarter Life Crisis dan Makna Kemerdekaan Gen Z: Merdeka Bekerja Belum Tentu Merdeka Hidup

Quarter Life Crisis dan Makna Kemerdekaan Gen Z: Merdeka Bekerja Belum Tentu Merdeka Hidup
ilustrasi Quarter Life Crisis (Gemini AI)

Ada satu fase kehidupan yang mungkin terasa familiar bagi banyak Gen Z: sudah punya pekerjaan, tapi masih bertanya-tanya apakah hidup sedang berjalan ke arah yang benar.

Gaji masuk setiap bulan. Rutinitas mulai terbentuk. Namun, di balik itu muncul pertanyaan seperti, “Apakah saya akan melakukan pekerjaan ini sampai tua?”, “Kapan bisa punya rumah?”, atau “Sebenarnya saya ingin hidup seperti apa?”

Inilah salah satu wajah quarter life crisis yang cukup dekat dengan kehidupan anak muda. Bukan sekadar kebingungan soal pekerjaan, tapi juga tentang identitas, masa depan, finansial, hubungan sosial, dan standar kesuksesan.

Ternyata punya pekerjaan belum tentu membuat Gen Z merasa merdeka dalam hidup. Quarter life crisis bahkan membuat banyak anak muda mempertanyakan karier, finansial, tujuan hidup, dan arti kesuksesan.

Di momentum HUT ke-81 RI, pemikiran tersebut menjadi menarik untuk dibawa ke konteks yang lebih luas: apakah punya pekerjaan dan karier yang menurut orang lain terasa normal berarti kita sudah benar-benar merdeka?

Punya Penghasilan Vs Punya Kebebasan

Bekerja dan mendapatkan penghasilan tentu merupakan langkah penting menuju kemandirian. Dengan penghasilan sendiri, kita memiliki kesempatan untuk memenuhi kebutuhan dan membuat keputusan finansial.

Namun, berkarier tidak otomatis berarti hidup sudah sepenuhnya bebas. Ada yang bekerja tapi penghasilannya habis untuk kebutuhan sehari-hari. Ada yang berpenghasilan tetap tapi tidak punya cukup waktu untuk dirinya sendiri.

Ada pula yang bekerja di bidang yang sebenarnya tidak sesuai dengan minat, tapi bertahan karena membutuhkan penghasilan. Karena itu, pekerjaan seharusnya tidak menjadi satu-satunya ukuran kemerdekaan.

Quarter Life Crisis dan Standar Pencapaian Hidup

Menariknya, quarter life crisis sering muncul ketika kehidupan mulai terlihat “baik-baik saja” dari luar. Saat seseorang sudah memasuki dunia kerja, pertanyaan tentang masa depan bisa semakin besar.

Kita mulai melihat teman mendapatkan promosi, membangun bisnis, melanjutkan pendidikan, atau mencapai target tertentu. Sementara itu, kita merasa masih berada di tempat yang sama seolah minim pencapaian.

Media sosial membuat perbandingan tersebut semakin mudah terjadi. Padahal, perjalanan hidup tidak memiliki jadwal yang seragam. Tidak semua orang harus mendapatkan pencapaian yang sama di usia yang sama.

Mungkin masalahnya bukan kita gagal, tapi kita yang terlalu sering menggunakan kehidupan orang lain sebagai ukuran untuk menilai kehidupan sendiri.

Merdeka Bukan Berarti Harus Punya Semua Jawaban

Menurut saya, salah satu tekanan terbesar bagi Gen Z adalah anggapan bahwa memasuki usia dewasa berarti harus sudah mengetahui semuanya. Harus tahu karier yang diinginkan, punya target finansial, hingga rencana masa depan.

Padahal, hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada orang yang baru menemukan minatnya setelah bekerja beberapa tahun. Ada yang berganti karier dan memulai kembali dari nol.

Ada pula yang baru menyadari kalau definisi sukses yang dulu dikejar ternyata bukan sesuatu yang benar-benar diinginkan. Dan itu tidak apa-apa. Kita tidak harus selalu punya semua jawaban untuk disebut sudah merdeka.

Kemerdekaan dalam Karier Juga Berarti Punya Pilihan

Jika dikaitkan dengan HUT ke-81 RI, mungkin kita perlu memperluas makna kemerdekaan bukan hanya tentang memiliki pekerjaan, tapi juga ruang untuk menentukan bagaimana pekerjaan itu menjadi bagian dari kehidupan.

Merdeka berarti bisa mengevaluasi apakah pekerjaan saat ini masih sesuai dengan tujuan. Merdeka juga berarti memiliki kesempatan untuk belajar, mengembangkan keterampilan, atau mencoba jalur baru.

Tentu, tidak semua orang bisa langsung meninggalkan pekerjaan yang tidak sesuai. Ada kebutuhan finansial dan tanggung jawab yang harus dipertimbangkan. Namun, setidaknya kita memiliki kesadaran tentang apa yang ingin diperjuangkan.

Quarter Life Crisis: Bukan Tanda Kegagalan

Pada akhirnya, quarter life crisis bukan tanda Gen Z gagal menjalani kehidupan dewasa. Bisa jadi fase ini justru merupakan kesempatan untuk berhenti sejenak dan bertanya kembali apa yang sebenarnya kita inginkan.

Punya pekerjaan adalah pencapaian. Namun, pekerjaan bukan satu-satunya definisi keberhasilan dan bukan pula satu-satunya bentuk kemerdekaan. Saat kita tidak lagi memaksa diri memiliki semua jawaban sekaligus, itulah kemerdekaan.

Kita boleh bekerja sambil mencari arah, mengubah rencana, memulai kembali, dan mengakui kalau kehidupan belum sepenuhnya sesuai harapan. Sebab, merdeka bukan berarti sudah sampai di tujuan.

Merdeka adalah memiliki kesempatan untuk memilih ke mana kita ingin berjalan, sekaligus keberanian untuk mengubah arah ketika ternyata jalan tersebut bukan yang kita inginkan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda