Kolom
Katanya Lowongan Kerja Banyak, Kenapa Cari Kerja Tetap Susah?
Mencari pekerjaan bukan perkara sederhana bagi banyak orang. Setelah menyelesaikan pendidikan, seseorang masih harus berhadapan dengan berbagai tuntutan yang muncul dalam proses rekrutmen.
Pengalaman kerja, keterampilan tertentu, usia, sampai ekspektasi perusahaan menjadi beberapa hal yang ikut menentukan apakah sebuah lamaran akan berlanjut atau berhenti di awal.
Padahal, lowongan pekerjaan terus bermunculan. Apalagi di era media sosial, informasinya pun semakin mudah ditemukan melalui berbagai platform.
Oleh karena itu, anggapan bahwa kesempatan kerja sebenarnya tersedia cukup banyak terdengar masuk akal. Hanya saja, pengalaman para pencari kerja sering kali menunjukkan cerita yang berbeda. Lantas, apa yang membuat mencari pekerjaan tetap terasa sulit di tengah banyaknya lowongan yang tersedia?
Lowongan Banyak, tapi Tidak Semuanya Bisa Diambil
Banyaknya lowongan kerja memang membuat kesempatan terlihat terbuka lebar. Namun, jumlah tersebut belum tentu menggambarkan berapa banyak pekerjaan yang benar-benar bisa diakses oleh pencari kerja. Setiap posisi punya kualifikasi masing-masing, mulai dari latar belakang pendidikan, pengalaman, keterampilan teknis, sampai kemampuan tertentu yang harus sudah dimiliki.
Di sinilah terlihat jarak antara apa yang dibutuhkan perusahaan dan apa yang dimiliki pencari kerja. Fresh graduate, misalnya, bisa saja menemukan banyak posisi yang sesuai dengan bidang pendidikannya, tetapi langsung tersisih karena perusahaan meminta pengalaman kerja. Ada pula posisi yang membutuhkan kemampuan spesifik yang belum sempat dikuasai kandidat.
Masalahnya, memenuhi kualifikasi pekerjaan kadang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Pengalaman perlu dibangun, sementara proses mencari kerja terus berjalan. Tidak heran jika seseorang bisa mengirim banyak lamaran, tetapi hanya mendapat sedikit panggilan.
Banyak Lowongan, Tapi Syaratnya Bikin Geleng-geleng Kepala
Selain soal kualifikasi, kualitas lowongan juga layak diperhatikan. Tidak semua pekerjaan yang tercantum di platform pencarian kerja otomatis menjadi pilihan yang masuk akal bagi pencari kerja.
Ada lowongan magang tanpa bayaran, posisi dengan upah sangat rendah, sampai pekerjaan yang mencantumkan syarat usia dan pengalaman yang terasa sulit dipenuhi.
Contohnya, seseorang baru berusia 25 tahun sudah diminta memiliki pengalaman kerja beberapa tahun. Di sisi lain, ada pula perusahaan yang membuka posisi untuk lulusan baru, tetapi tetap mencantumkan berbagai persyaratan tambahan.
Belum lagi tuntutan yang tidak selalu berkaitan langsung dengan kemampuan bekerja, seperti syarat "berpenampilan menarik" padahalperusahaan merekrut untuk posisi administrasi atau back office.
Persaingan Kerja Makin Ketat, Pilihan Makin Selektif
Ada faktor lain yang membuat mencari kerja tetap terasa sulit, yaitu persaingan. Satu posisi bisa diperebutkan oleh banyak kandidat dengan latar belakang yang berbeda. Perusahaan pun punya ruang lebih besar untuk memilih kandidat yang dianggap paling mendekati kebutuhan mereka.
Kondisi ini semakin terasa bagi pencari kerja yang baru lulus. Mereka harus bersaing dengan kandidat yang sudah punya pengalaman, termasuk orang-orang yang sebelumnya telah bekerja di bidang tertentu. Akibatnya, punya pendidikan yang sesuai belum tentu cukup untuk membuat seseorang menonjol dalam proses rekrutmen.
Perkembangan teknologi juga ikut mengubah kebutuhan perusahaan. Beberapa pekerjaan mulai terbantu oleh otomatisasi dan kecerdasan buatan, sehingga jenis keterampilan yang dicari ikut berubah. Pencari kerja pun dituntut terus menyesuaikan kemampuan agar tetap relevan dengan kebutuhan industri.
Jadi, masalahnya bukan semata-mata tidak ada lowongan kerja. Masalahnya, terlalu banyak lowongan yang hadir tanpa benar-benar menawarkan pilihan yang layak. Kalau begitu, masih pantaskah banyaknya lowongan dijadikan bukti bahwa mencari kerja kini semakin mudah?