Kolom

HUT ke-81 RI dan Kebebasan Digital: Saatnya Merdeka dari Scroll Tanpa Henti

HUT ke-81 RI dan Kebebasan Digital: Saatnya Merdeka dari Scroll Tanpa Henti
ilustrasi kebebasan digital (Gemini AI)

Siapa yang begitu bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel? Entah buat cek notifikasi atau malah buka media sosial dan kebablasan scrolling sampai waktu berlalu tanpa terasa. Pemandangan tersebut seolah terlihat lazim di era digital ini.

Kebiasaan ini terbentuk karena kita merasa butuh selalu mengecek media sosial agar tidak tertinggal. Kita juga merasa bebas memilih apa yang ingin dilihat. Tinggal geser layar jika tidak suka dan berhenti kapan saja.

Namun, di tengah momentum HUT ke-81 RI, ada pertanyaan sederhana yang menarik untuk direnungkan: kalau scroll tanpa henti, apakah kita benar-benar sedang menggunakan kebebasan atau justru sedang dikendalikan kebiasaan digital?

Ketika Scroll Menjadi Kebiasaan Otomatis

Scrolling media sosial sebenarnya bukan sekadar aktivitas mencari hiburan. Sering kali, tangan bergerak lebih cepat daripada kesadaran dan membuka aplikasi karena bosan, menunggu, ingin mengalihkan perhatian, atau sekadar sudah terbiasa.

Bahkan saat tidak menemukan sesuatu yang benar-benar menarik, kita tetap melanjutkan scroll. Masalahnya bukan pada aktivitas scrolling itu sendiri. Hal yang perlu dipertanyakan adalah siapa yang menentukan kapan kita berhenti?

Media sosial tentu bisa menjadi tempat mencari informasi, hiburan, inspirasi, bahkan membangun relasi. Jika tidak punya kesadaran atas alasan membuka media sosial dan kapan harus menutupnya, kebebasan digital mulai terasa semu.

FYP Tidak Pernah Benar-benar Netral

Salah satu hal yang membuat media sosial begitu menarik adalah algoritma. Konten yang muncul di layar tidak sepenuhnya acak. Apa yang kita tonton, sukai, cari, atau lewati bisa memengaruhi rekomendasi berikutnya.

Akibatnya, kita seperti berada di ruang yang semakin lama semakin disesuaikan dengan kebiasaan sendiri. Di satu sisi, ini menyenangkan karena kita lebih mudah menemukan konten yang terasa relevan dengan preferensi.

Namun, di sisi lain, kita bisa semakin jarang bertemu dengan hal-hal yang berbeda. Kita akhirnya tidak hanya memilih apa yang ingin dilihat, tapi juga menerima pilihan yang sudah disaring oleh sistem.

FOMO Membuat Kita Sulit Berhenti

Ada alasan lain mengapa scroll terasa tidak ada habisnya: FOMO atau Fear of Missing Out. Takut ketinggalan tren, berita terbaru, melewatkan video viral, hingga tidak paham pembicaraan teman karena tidak mengikuti perkembangan media sosial.

Akhirnya, kita terus memeriksa layar meski sebenarnya tidak ada sesuatu yang benar-benar harus dicari. Di titik ini, kebebasan digital bukan lagi soal punya akses internet, tapi kemampuan untuk menentukan kapan harus masuk dan kapan harus keluar.

Merdeka Digital Bukan Berarti Anti-Media Sosial

Menurut saya, merdeka digital bukan berarti harus meninggalkan media sosial. Kita tetap bisa menikmati TikTok, Instagram, YouTube, atau platform lainnya, dan mengikuti tren, menikmati konten viral, hingga berinteraksi dengan komunitas digital.

Namun, ada perbedaan antara menggunakan media sosial dan membiarkan media sosial mengatur ritme kehidupan kita. Merdeka secara digital berarti kita tahu alasan membuka aplikasi.

Kita mampu memilih konten dengan sadar dan bisa melewatkan sesuatu tanpa takut tertinggal. Dan yang paling penting, kita bisa menutup layar ketika sudah merasa cukup.

Memilih untuk Tidak Scroll Juga Sebuah Pilihan

Di HUT ke-81 RI, mungkin sudah waktunya kita memperluas makna kemerdekaan. Jika dulu identik dengan terbebas dari penjajahan, hari ini Gen Z menghadapi bentuk tantangan yang berbeda: kendali di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti.

Kebebasan digital bukan tentang konten yang bisa diakses, tapi seberapa sadar kita memilih apa yang layak mendapatkan perhatian. Mungkin bentuk kemerdekaan digital yang paling sederhana adalah berani berhenti scroll.

Bukan membenci teknologi, melainkan karena sadar bahwa kita yang seharusnya memegang kendali atas layar dan bukan sebaliknya. Merdeka berarti bisa memilih: kapan melihat, apa yang ingin dilihat, dan kapan berkata cukup lalu kembali ke kehidupan nyata.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda