Kolom

Kultur Palugada di Dunia Kerja: Bekerja Lintas Bidang, Berkarier Tanpa Arah

Kultur Palugada di Dunia Kerja: Bekerja Lintas Bidang, Berkarier Tanpa Arah
Ilustrasi bekerja (magnific)

Kultur palugada di dunia kerja membuat banyak karyawan terbiasa mengerjakan berbagai pekerjaan di luar bidang utamanya. Misalnya, admin ikut mengurus keuangan, bagian keuangan membantu pajak, lalu ikut menangani purchasing atau operasional. Selama masih bekerja, pengalaman seperti ini terasa sebagai nilai tambah karena kita dianggap bisa diandalkan untuk banyak hal.

Masalahnya muncul ketika ingin mencari pekerjaan baru. Pengalaman yang beragam belum tentu membuat seseorang mudah menentukan posisi yang ingin dilamar. Mau kembali ke bidang lama, merasa tidak cukup ahli. Mau pindah bidang, pengalaman belum cukup relevan. CV pun akhirnya penuh dengan berbagai pekerjaan, tetapi sulit menunjukkan satu keahlian yang benar-benar kuat.

Lantas, apakah kultur seperti ini benar-benar menguntungkan pekerja, atau justru membuat mereka kesulitan membangun keahlian utama?

Kultur Palugada Membuat Pekerja Terbiasa Mengambil Banyak Peran

Menurut saya, di sinilah kultur palugada perlu dilihat lebih jauh. Menjadi pekerja generalis tentu bukan hal yang buruk karena kemampuan memahami berbagai pekerjaan bisa menjadi bekal yang berharga. Masalahnya muncul jika seseorang terus ditempatkan untuk mengerjakan berbagai hal tanpa pernah punya kesempatan mendalami satu bidang.

Perusahaan memang cenderung untung karena mendapatkan karyawan yang fleksibel, tetapi pekerja bisa kehilangan waktu untuk membangun keahlian yang menjadi pegangan dalam perjalanan karier.

Kultur seperti ini sebenarnya mudah ditemukan dalam keseharian di tempat kerja. Seseorang yang awalnya bekerja sebagai admin, misalnya, lama-lama ikut mengurus hal-hal yang di luar jobdesk. Akhirnya, kesibukan bertambah, pengalaman menumpuk, tetapi arah keahlian semakin sulit ditentukan.

Masalah Baru Muncul Ketika Ingin Pindah Kerja

Dampak kultur palugada sering baru terasa setelah seseorang memutuskan mencari pekerjaan baru. Selama masih bekerja di perusahaan lama, kemampuan mengurus berbagai hal terasa seperti kelebihan. Atasan tahu bahwa orang tersebut bisa dimintai bantuan untuk berbagai urusan. Rekan kerja pun terbiasa mengandalkannya.

Namun, pasar kerja punya cara pandang yang berbeda. Perusahaan baru biasanya mencari kandidat berdasarkan posisi tertentu. Di titik ini, pengalaman yang terlalu melebar justru bisa membuat profil seseorang terlihat kurang fokus.

Situasinya menjadi semakin rumit bagi pekerja yang ingin melakukan career switch. Ia punya pengalaman kerja, tetapi belum tentu pengalaman tersebut cukup kuat untuk masuk ke bidang baru. Mau kembali ke bidang lama pun belum tentu merasa yakin karena selama ini tidak benar-benar mendalaminya.

Menurut saya, di sinilah ironi kultur palugada terlihat jelas. Kemampuan mengerjakan berbagai hal bisa menjadi keuntungan bagi perusahaan, tetapi belum tentu menjadi keunggulan bagi pekerja ketika ia harus mencari peluang di tempat lain.

Pekerja Juga Butuh Ruang untuk Menentukan Arah

Oleh karena itu, menurut saya, persoalan kultur palugada tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pekerja. Tidak adil jika seseorang bertahun-tahun diminta mengerjakan berbagai hal, lalu setelah ingin pindah kerja ia dianggap tidak memiliki keahlian yang jelas.

Perusahaan tentu membutuhkan karyawan yang fleksibel, tetapi fleksibilitas juga perlu punya batas. Jangan sampai kemampuan seseorang untuk mengerjakan banyak hal justru menjadi alasan untuk terus menambah tanggung jawab tanpa memberi kesempatan berkembang di satu bidang.

Jika pola ini dibiarkan, pekerja hanya akan sibuk memenuhi kebutuhan saat ini tanpa sempat memikirkan bekal untuk kariernya di masa depan.

Oleh kaena itu, pekerja juga perlu punya ruang untuk menentukan apa yang ingin didalami. Tidak harus langsung menemukan bidang yang paling ideal, tetapi setidaknya ada satu kemampuan yang sengaja dibangun dan diperkuat. Pengalaman lintas bidang tetap bisa menjadi nilai tambah, selama tidak membuat seseorang kehilangan arah tentang ke mana kariernya ingin dibawa.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda