Kolom

Kisah Kang Edai Jadikan Budaya Osing Sebagai Motor Ekonomi Desa Kemiren Banyuwangi

Kisah Kang Edai Jadikan Budaya Osing Sebagai Motor Ekonomi Desa Kemiren Banyuwangi
Desa Sejahtera Astra Kemiren berhasil meraih Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024 (sumber foto: kemiren.com)

Pagi itu, menjelang hari raya Idul Adha, pemandangan unik terlihat di depan rumah penduduk Desa Kemiren, Banyuwangi. Setiap rumah menjemur kasur berwarna hitam dan merah dengan posisi sejajar yang bermakna filosofis. Merah artinya berani dan hitam artinya abadi. Para ibu memukul-mukul kasur, berdoa, dan memercikinya dengan air bunga agar dijauhkan dari marabahaya dan penyakit. Tradisi ini disebut Mepe Kasur, sebagai pembuka festival Tumpeng Sewu. Festival yang menjadi salah satu bagian tradisi dan adat istiadat suku Osing, suku asli Banyuwangi.

Usai menjemur kasur, para ibu mengolah bahan mentah untuk festival Tumpeng Sewu. Salah satunya adalah Pecel Pitik, makanan khas suku Osing, yang dibuat dari ayam kampung panggang dengan bumbu kelapa parut. Tak hanya satu tumpeng, melainkan dua sampai empat tumpeng yang dibuat untuk memeriahkan festival Tumpeng Sewu dan menyambut tamu-tamu dari luar Desa Kemiren.  Itulah mengapa festival Tumpeng Sewu berarti festival seribu tumpeng. Tumpeng adalah makanan berupa nasi berbentuk kerucut yang dikelilingi aneka lauk pauk. Nasi tumpeng ini akan disajikan di depan setiap rumah sebagai bagian dari rasa syukur dan harapan terhindar dari musibah dan marabahaya.

Festival Tumpeng Sewu Suku Osing di Desa Kemiren

Festival Tumpeng Sewu dibuka setelah Magrib yang dimulai dengan pertunjukan Barong Kemiren, sebuah tarian dan drama khas suku Osing menggunakan topeng berwajah seram. Barong dari bahasa suku Osing artinya bersama. Pertunjukan Barong Kemiren adalah simbol kebersamaan warga di Desa Kemiren.  Barong-barong ini akan berjalan ke pusat acara yaitu kantor desa disertai orang-orang yang menyulut obor di sepanjang jalan. Setelah itu, masyarakat dan wisatawan pun dapat menikmati nasi tumpeng yang telah disediakan.

Festival Tumpeng Sewu hanya salah satu tradisi masyarakat suku Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi. Suku Osing adalah suku asli Banyuwangi yang merupakan keturunan dari Kerajaan Blambangan. Mereka menggunakan bahasa Osing, yaitu bahasa Jawa Kuno perpaduan bahasa Madura dan Bali. Tak hanya festival Tumpeng Sewu, suku Osing juga memiliki kebudayaan Osing lainnya yang menarik minat ribuan wisatawan, diantaranya: Barong Ider Bumi, Tari Gandrung. Kuliner Lokal yang unik, musik tradisional, dan arsitektur bangunan yang khas.

Mengenal Kang Edai, Penggerak Desa Sejahtera Astra Kemiren

Mohammad Edy Saputro atau akrab dipanggil Kang Edai menjadi penggerak Desa Sejahtera Astra Kemiren sejak tahun 2024 sehingga kini Desa Kemiren dapat menyejahterakan suku Osing melalui wisata budaya. Potensi masyarakat Desa Kemiren dikembangkan melalui pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan. Kang Edai adalah Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Wisata Adat Osing Kemiren yang aktif memperkenalkan adat dan budaya suku Osing di tingkat nasional dan internasional. Berkat pendampingan dari Astra pula, kini ribuan wisatawan telah mengunjungi Desa Sejahtera Astra Kemiren.

Kang Edai tergerak memajukan Desa Kemiren karena menyadari bahwa desa tersebut tidak memiliki potensi wisata alam seperti pantai yang indah atau gunung yang tinggi, tetapi memiliki adat dan budaya suku Osing yang masih lestari sampai sekarang yang bisa diperkenalkan ke seluruh dunia melalui wisata budaya. Apalagi Kang Edai adalah putra daerah yang memiliki latar belakang pendidikan pariwisata, sehingga tepat sekali jika ia tergerak untuk mengembangkan pariwisata di Desa Kemiren.

Ketika pertama kali memulai program Desa Wisata Adat Osing Kemiren ini, Kang Edai memfokuskan penyelesaian masalah di Desa Kemiren dalam hal keterbatasan sumber daya alam, optimalisasi wisata budaya dengan mengubah ritual tradisi budaya masyarakat menjadi daya tarik wisata dan penggerak ekonomi, dan melibatkan para pemuda di desanya agar ikut mengembangkan desa wisata dengan membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Dalam perjalanannya mengembangkan Desa Wisata Adat Osing Kemiren ini, Kang Edai mendapatkan bantuan dari banyak pihak yaitu Mohamad Fikri Adila sahabat dan rekan kerja yang menjadi motor penggerak, para pemuda dan komunitas Karang Taruna yang ikut mendokumentasikan setiap pentas kesenian, Kemendikbudristek yang sudah mendampingi sejak 2021, Pokdarwis, Pemda Kabupaten Banyuwangi, dan PT Astra International selaku pihak swasta yang memberikan pendampingan agar Desa Kemiren dapat memajukan wisata budaya untuk menggerakkan ekonomi.

Awal mula Kang Edai mendapatkan pendampingan dari PT Astra International yaitu pada acara Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun 2024. Tim Astra memilih Desa Kemiren yang dikelola oleh Kang Edai sebagai penerima program Desa Sejahtera Astra (DSA). Desa Kemiren memang cocok bergabung dalam program DSA karena lingkungannya yang agraris dan masyarakatnya masih sangat menjaga adat istiadat dan budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan Desa Sejahtera Astra Kemiren dalam 4 Pilar Astra

Berkat kerja keras Kang Edai, kini Desa Wisata Adat Osing Kemiren telah dikenal di kancah nasional dan internasional sehingga para wisatawan pun berdatangan. Kedatangan para wisatawan dapat menambah pemasukan warga Desa Kemiren melalui usaha homestay, kuliner, kerajinan, dan kopi khas Desa Kemiren yaitu kopi Jaran Goyang. Kopi ini diolah secara tradisional oleh suku Osing dan disajikan dengan menggunakan cangkir bunga yang khas. Para wisatawan bisa ikut mencoba menyangrai, menumbuk, hingga menyaring kopi yang terbuat dari biji Robusta, Arabica, hingga Lanang.

Kang Edai adalah Local Hero yang telah membantu mengembangkan Desa Kemiren sehingga kini sudah ada sekitar 300 warga yang dijangkau oleh program Desa Sejahtera Astra Kemiren ini, menghasilkan 50 homestay dengan 92 kamar, 40 wirausaha kuliner, kerajinan, dan kopi, 40 anggota Pokdarwis yang mengelola wisata dan budaya, kenaikan pendapatan anggota Pokdarwis hingga 33% yaitu dari Rp 1,5 juta per bulan menjadi Rp 2 juta per bulan. Kenaikan pendapatan ini sudah tentu meningkatkan perputaran ekonomi sehingga masyarakat desa menjadi tambah sejahtera.

Tak hanya mendampingi dalam program desa wisata, Astra juga mendampingi masyarakat desa dalam kegiatan Posyandu, PAUD, usaha lokal, pembuatan pupuk organik, kepedulian lingkungan dengan cara mengelola sampah, dan pengembangan biogas. Desa Sejahtera Astra Kemiren pun berhasil meraih penghargaan di bidang pariwisata dan budaya tingkat nasional salah satunya adalah Anugerah Desa Wisata Indonesia dari Kementerian Pariwisata dan penghargaan internasional The Best Tourism Villa Upgrade Program 2025.   

Menurut Kang Edai, perubahan terbesar di Desa Kemiren sejak adanya program Desa Wisata Astra ini adalah kemampuan masyarakat dalam menjadikan adat istiadat dan budaya suku Osing sebagai penggerak ekonomi dan menciptakan peluang usaha yang baru. Para calon wisatawan mendapatkan penawaran paket wisata kreatif yaitu tradisi, budaya, arsitektur, dan kuliner suku Osing dikemas menjadi paket wisata edukasi, kuliner, dan program live-in yaitu para wisatawan dapat menginap di rumah warga untuk merasakan kehidupan sehari-hari suku Osing.

Di bidang kesehatan, ada beberapa langkah nyata yang diwujudkan Desa Sejahtera Astra Kemiren yaitu penguatan layanan Posyandu, peningkatan kompetensi kader Posyandu, kesehatan ibu dan anak melalui sarana kesehatan dasar dan tumbuh kembang anak, dan edukasi berkala melalui sosialisasi dan penyuluhan pola hidup sehat.

Di bidang pendidikan, Desa Sejahtera Astra Kemiren telah berhasil melakukan penguatan PAUD, pemberian sarana belajar dan alat permainan edukatif, dan edukasi budaya sejak dini kepada anak-anak. Pengembangan pendidikan difokuskan pada penguatan kompetensi anak usia dini dan pelestarian warisan budaya lokal.

Di bidang lingkungan, fokus pengembangan Desa Sejahtera Astra Kemiren ada pada penerapan tata kelola sampah yang berkelanjutan untuk mewujudkan pariwisata bersih dan menjaga keindahan pemandangan pedesaaan. Beberapa hal yang dilakukan adalah pemilahan sampah mandiri, pendirian pusat pemilahan, pengolahan sampah organik, dan penyediaan fasilitas komposter. 

Di bidang kewirausahaan, Desa Sejahtera Astra Kemiren telah berhasil menjadikan asset budaya suku Osing menjadi penggerak ekonomi dengan paket wisata dan pemberdayaan UMKM yang memproduksi kuliner tradisional dan aneka kerajinan khas suku Osing. Selain itu juga tersedia fasilitas homestay untuk para wisatawan yang sesuai dengan standar pariwisata.

Dari keberhasilan Kang Edai bersama Desa Sejahtera Astra Kemiren, kita bisa mengambil inspirasi bahwa sebuah desa yang tak memiliki sumber daya alam ternyata masih bisa dikembangkan melalui adat istiadat dan budaya yang dilestarikan turun-temurun. Sebagaimana Kang Edai berhasil menjadikan wisata budaya suku Osing menjadi penggerak ekonomi Desa Kemiren sehingga masyarakatnya bisa hidup lebih sejahtera.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda