Hujan adalah anugerah bagi kita. Tanpa hujan, tanaman tidak tumbuh, air bersih tidak ada, dan kekeringan terjadi di mana-mana. Hujan juga acap kali terasa romantis. Kita bisa menikmati hujan rintik-rintik sambil menghirup secangkir kopi. Saat hujan, kita juga bisa tidur lebih lelap karena udara menjadi sejuk.
Akan tetapi, suasana itu berubah tatkala hujan turun semakin deras dan jalanan mulai tergenang air. Semakin lama airnya semakin tinggi karena sungai sudah tidak dapat menampungnya. Sungai meluap menyebabkan banjir. Belum lagi jika hutan tidak dapat menahan air hujan sehingga terjadilah limpahan air hujan dari atas gunung: banjir bandang. Siapa sangka jika hujan juga bisa menjadi musibah?
Bencana Sumatra yang terjadi pada tanggal 25–30 November 2025 lalu sangat mengejutkan kita. Bencana itu diawali dengan hujan terus-menerus, kemudian secara tiba-tiba muncul banjir bandang dan longsor di berbagai wilayah Pulau Sumatra, mulai dari Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat.
Hujan kali ini bukan hujan biasa sebab dipicu oleh badai Siklon Senyar yang jarang terjadi dan sangat mematikan. Kondisi itu juga diperparah dengan kerusakan hutan di bagian hulu sehingga banjir bandang dan longsor tidak bisa dicegah. Jumlah korban tewas akibat Bencana Sumatra sudah menyentuh angka 1.138 jiwa dan masih ada ratusan orang lainnya yang hilang. Hewan-hewan pun ikut terdampak, seperti hewan ternak warga dan satwa di hutan.
Kehidupan masyarakat yang terkena musibah pun seketika porak-poranda. Tidak hanya nyawa yang hilang, melainkan juga harta benda dan pekerjaan. Banyak perkampungan yang rata dengan tanah. Banyak pula rumah yang masih berdiri, tetapi rusak parah dan sudah tidak bisa ditinggali. Donasi dari berbagai pihak pun berdatangan, sebagian besar berupa kebutuhan hidup seperti sembako, pakaian, alat kebersihan, dan air bersih.
Namun, ada kerusakan lain yang juga perlu segera diperbaiki, yaitu kerusakan infrastruktur jalan seperti jalan yang terbelah dan jembatan yang putus. Kesulitan penyaluran bantuan disebabkan oleh putusnya jembatan penghubung. Banyak daerah yang terisolasi akibat jembatan putus. Warga pun harus menyeberang menggunakan tali. Seorang ibu menggendong bayi dan menyeberangi sungai menggunakan tali hanya demi membeli kebutuhan menjadi pemandangan yang biasa di wilayah yang terdampak.
Bayangkan saat kita berada di wilayah yang terisolasi dalam keadaan tidak ada makanan dan kebutuhan lainnya. Bantuan banyak berdatangan, tetapi hanya menyapa warga yang tidak terisolasi. Kematian bukan saja datang saat bencana, melainkan juga selepas bencana, yaitu karena kelaparan dan kedinginan.
Oleh karena itu, perbaikan jembatan dan jalan yang putus memang harus secepatnya dilakukan. Salah satu jembatan yang kini sudah selesai diperbaiki adalah Jembatan Krueng Meureudu di Kabupaten Pidie Jaya. Jembatan ini menghubungkan wilayah Pidie Jaya dan Bireuen. Perbaikan oprit jembatan telah dilakukan pemerintah melalui Ditjen Bina Marga Kementerian PU dan BPJN Aceh sehingga jembatan sudah bisa digunakan lagi sejak 12 Desember 2025.
Di berbagai tempat lain, pemulihan akses penghubung ini juga terus dipercepat agar aktivitas masyarakat kembali berjalan normal. Tidak hanya Jembatan Krueng Meureudu, Jembatan Krueng Tingkeum yang menghubungkan Bireuen-Takengon juga hampir selesai diperbaiki; per tanggal 26 Desember 2025, progresnya telah mencapai 90%.
Pemulihan infrastruktur jembatan juga dilakukan dengan pemasangan jembatan darurat bailey pada lima jembatan utama yang menjadi koridor penghubung wilayah Pidie-Takengon hingga wilayah ruas nasional Banda Aceh-Medan.
Semoga dengan pulihnya infrastruktur jalan dan jembatan ini, pemberian bantuan kepada warga terdampak, pemulihan aktivitas ekonomi dan sosial, serta perbaikan sarana prasarana lainnya seperti rumah, sekolah, dan fasilitas umum akan semakin mudah.
Namun, satu hal yang harus diingat: mencegah lebih baik daripada memperbaiki. Hendaknya semua pihak melakukan introspeksi diri mengapa musibah ini terjadi dan berupaya mencegahnya agar tidak terulang di kemudian hari. Salah satunya adalah dengan memelihara bumi agar bumi pun memelihara kita.