Lifestyle

Anak Sering Minta Jajan? 6 Cara Cerdas Ubah Permintaannya Jadi Pelajaran Uang

Anak Sering Minta Jajan? 6 Cara Cerdas Ubah Permintaannya Jadi Pelajaran Uang
Ilustrasi orang tua mendampingi anak belajar mengelola uang (Pexels/Gustavo Fring)

Anak-anak mungkin belum tahu arti kata-kata seperti inflasi, investasi, atau utang konsumtif. Namun, sejak kecil, mereka sudah mulai berurusan dengan uang.

Interaksi ini mencakup banyak hal, seperti meminta uang jajan tambahan, memilih mainan di toko, menabung untuk membeli sesuatu, serta melihat orang tua menggunakan kartu saat belanja. Tanpa disadari, berbagai pengalaman ini menjadi "pelajaran" tentang uang.

Masalahnya, bukan semua materi diajarkan dalam bentuk nasihat lisan. Anak-anak juga belajar dengan melihat cara orang tua mereka membelanjakan uang, menabung, berbicara tentang uang, serta membuat keputusan ketika menghadapi masalah finansial.

Edukasi money parenting dari Eastspring menunjukkan bahwa pengalaman bersama orang tua dalam mengelola keuangan memengaruhi kebiasaan keuangan dan cara seseorang memandang uang. Para responden sering mengingat pengalaman langsung yang mereka alami ketika kecil, terutama mengenai cara mereka mempelajari soal uang.

Maka dari itu, pendidikan keuangan tidak harus ditunda hingga anak tumbuh menjadi dewasa. Pendidikan ini tidak harus dimulai dengan kata-kata yang sulit dipahami; kebiasaan sehari-hari yang sederhana justru bisa menjadi dasar yang sangat penting.

Lantas, apa yang bisa dilakukan orang tua?

1. Ajarkan Bahwa Uang Memiliki Tujuan

Menabung biasanya jadi pelajaran pertama tentang uang yang diajarkan kepada anak-anak. Namun, sekadar berkata “uangnya ditabung, ya” mungkin belum cukup. Anak-anak juga harus tahu kenapa mereka menyimpan uang tersebut.

Misalnya, jika seorang anak ingin membeli buku yang harganya Rp100.000, orang tua bisa membantu mereka membuat rencana atau tujuan. Mereka bisa berbicara tentang jumlah uang yang harus disisihkan setiap minggu dan berapa lama waktu yang dibutuhkan agar bisa mencapai tujuan tersebut.

Dengan cara ini, anak-anak memahami bahwa uang tidak hanya digunakan untuk belanja langsung, tetapi juga bisa dikelola untuk mencapai tujuan tertentu.

Konsep seperti ini termasuk dalam mengurus uang pribadi, yang mencakup semua hal mulai dari membuat anggaran dan mengatur pengeluaran hingga menabung dan memahami tentang investasi.

Orang tua juga bisa memberikan contoh nyata. Ketika anak-anak melihat orang tuanya menyisihkan uang untuk keperluan tertentu, mereka akan tahu bahwa menabung bukan berarti tidak bisa belanja, tapi adalah cara untuk menyediakan sesuatu yang dianggap penting.

2. Bedakan antara “Kebutuhan” dan “Keinginan”

“Ma, aku mau beli ini!”

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, situasi seperti ini justru bisa jadi kesempatan untuk memahami soal uang.

Sebaliknya, orang tua tidak langsung melarang atau menyetujui pembelian itu, mereka bisa bertanya, “Menurut kamu, ini termasuk kebutuhan atau keinginan?”

Anak lalu diajak untuk memikirkan alasan di balik keputusannya.

Apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan? Apakah sudah ada barang di rumah yang bisa berfungsi seperti itu? Jika uang digunakan untuk membeli barang ini, apakah ada tujuan lain yang perlu ditunda?

Kebiasaan berbicara seperti ini membantu anak belajar memilih apa yang lebih penting. Mereka tidak hanya diberi tahu bahwa "boros itu buruk", tetapi juga diajarkan mengapa suatu keputusan itu diambil.

Kemampuan dalam memutuskan apa yang lebih penting mulai menjadi hal yang sangat penting, karena anak-anak kini sering melihat berbagai iklan belanja, penawaran diskon, paylater, dan produk keuangan digital.

3. Berikan Anak Kesempatan untuk Mengurus Uang Mereka Sendiri

Anak-anak tidak akan tahu cara mengurus uang hanya dengan mendengarkan kata-kata atau penjelasan dari orang tua.

Mereka membutuhkan pengalaman praktik langsung.

Orang tua bisa kasih uang saku sesuai usia anak, lalu biarkan mereka mengurus uang itu sendiri. Misalnya, sebagian uang bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, sebagian lagi disimpan untuk tabungan, dan sisanya digunakan membeli barang-barang yang mereka suka.

Tidak apa-apa jika awalnya anak-anak membuat keputusan yang kurang tepat. Melalui pengalaman itu, mereka menyadari bahwa uang yang sudah dihabiskan tidak bisa digunakan untuk hal lain lagi.

Eastspring mencatat bahwa pengalaman langsung merupakan salah satu bentuk pembelajaran finansial yang banyak dialami responden sejak kecil, termasuk melalui uang saku dan rekening tabungan.

Tentu saja, kebebasan ini perlu disesuaikan dengan usia anak. Tujuannya bukan agar anak mengurus uang sendiri sepenuhnya, tapi untuk melatih rasa tanggung jawab secara perlahan.

4. Perkenalkan Konsep Investasi, tetapi Jangan Langsung Bicara Untung

Konsep berinvestasi bisa diajarkan sejak kecil, selama bahasa yang digunakan mudah dan cocok dengan usia anak.

Anak-anak tidak harus mulai dengan belajar cara membaca grafik saham. Mereka bisa mulai dengan memahami bahwa uang dapat disimpan dalam bentuk investasi agar bisa mendapatkan keuntungan di masa depan. Namun, nilai investasi tersebut bisa berubah-ubah, dan setiap instrumen memiliki risiko yang harus diketahui.

Sebagai contoh, saham bisa dijelaskan sebagai cara untuk memiliki bagian kecil dari sebuah perusahaan. Nilainya bisa berubah karena berbagai hal, artinya membeli saham tidak pasti akan mendatangkan untung.

Literasi keuangan bukan hanya tentang mengenal nama-nama produk investasi saja. Memahami risiko dan mampu memilih instrumen investasi yang sesuai dengan tujuan serta tingkat risiko seseorang adalah bagian penting dari memiliki kemampuan keuangan yang baik.

Oleh karena itu, jangan hanya memberi pengetahuan tentang investasi kepada anak-anak dengan tujuan agar mereka berpikir bahwa "uang bisa bertambah dengan sendirinya."

Pesan yang lebih penting adalah: sebelum mengharapkan keuntungan, pahami dulu cara kerja dan risikonya.

5. Ajarkan Konsep Utang Sebelum Anak Punya Akses Kredit

Utang bukan hanya tentang anggapan bahwa "utang itu buruk."

Anak-anak yang sudah lebih besar bisa diajarkan bahwa seseorang bisa mendapatkan dana atau fasilitas kredit, tetapi harus siap memulangkannya sesuai dengan kesepakatan yang disetujui. Pada beberapa produk, kewajiban tersebut mungkin juga meliputi bunga atau biaya tambahan.

Melalui hal ini, anak-anak bisa memahami bahwa mengambil keputusan untuk meminjam uang harus dipertimbangkan dengan matang.

Hal ini sangat penting karena mereka tumbuh di masa yang memiliki akses yang mudah ke kartu kredit, layanan beli sekarang bayar nanti, pinjaman online, serta berbagai jenis produk keuangan lainnya. Literasi keuangan berarti memahami hal-hal seperti kredit, cara mengurus utang, jenis bunga, serta risiko yang mungkin muncul saat membuat keputusan tentang uang.

Orang tua dapat mengajarkan prinsip sederhana: jangan mengambil utang hanya karena ingin mengikuti tren atau membeli sesuatu yang sebenarnya belum mampu dibayar.

Chubb juga menekankan pentingnya menghindari utang yang tidak perlu dan memahami bagaimana bunga bisa memengaruhi keuangan seseorang.

Anak mungkin belum membutuhkan semua detailnya sekarang. Namun, pemahaman dasar tersebut dapat menjadi “rem” ketika kelak mereka memiliki akses finansial yang jauh lebih besar.

6. Jadikan Rumah Sebagai Tempat Belajar Keuangan yang Pertama

Pendidikan keuangan tidak selalu harus dalam bentuk kelas resmi atau buku.

Faktanya, rumah bisa menjadi tempat utama bagi anak-anak untuk belajar tentang uang.

Libatkan mereka dalam membuat daftar belanja dan menentukan prioritas belanja yang sederhana. Tunjukkan kepada mereka perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Ajari mereka untuk berbagi dan beri kesempatan kepada mereka untuk menabung. Saat usia semakin bertambah, perkenalkan perlahan konsep-konsep seperti pajak, asuransi, dana darurat, dan investasi.

Yang sangat penting juga adalah cara orang tua membicarakan masalah uang.

Anak bisa belajar dari ucapan seperti “kita harus menabung untuk kebutuhan ini” maupun dari kebiasaan impulsif yang mereka lihat setiap hari.

Pendidikan keuangan tidak berhenti hanya ketika anak tahu cara membuat anggaran; proses belajar tetap berkembang seiring waktu, terutama ketika mereka semakin dewasa dan menghadapi berbagai keputusan keuangan yang semakin beragam.

Bank Sinarmas menjelaskan bahwa pendidikan keuangan mencakup berbagai hal, seperti memahami alur uang, membuat anggaran, menabung, berinvestasi, mengelola utang, serta menggunakan produk keuangan dengan bijak.

Saat anak-anak sudah dewasa, mereka bisa menggunakan berbagai cara belajar seperti buku, artikel, kursus online, webinar, dan materi pendidikan dari lembaga keuangan untuk memperluas pengetahuan mereka.

Tujuan pendidikan finansial sebenarnya bukan membuat anak terobsesi dengan uang. Anak harus tahu bahwa uang itu hanya alat untuk mencapai tujuan, bukan ukuran keberhasilan dalam hidup.

Mereka harus tahu kapan waktunya menabung, kapan saatnya menikmati hasil kerja keras mereka, kapan harus berhati-hati, dan kapan harus mengatakan "tidak" pada hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Investasi tidak harus dianggap sebagai jalan instan untuk menjadi kaya. Hal ini bisa dipelajari mulai dari dasar-dasar, seperti mengenali berbagai jenis instrumen keuangan hingga memahami bahwa setiap pilihan memiliki sifat, kemungkinan keuntungan, dan risiko yang berbeda-beda.

Akhirnya, anak yang memahami uang sejak kecil belum tentu memiliki tabungan paling banyak.

Anak itu secara perlahan mulai belajar bagaimana mengalokasikan uang dengan benar, mengapa uang digunakan, dan memahami akibat dari setiap keputusan keuangan yang diambil.

Meski begitu, ketika anak mulai tumbuh dewasa, dunia tetap terus memberikan banyak hal yang bisa dibeli. Selalu ada berbagai macam iklan, tren, rencana pembayaran, peluang investasi, pinjaman, serta keputusan keuangan lainnya yang menunggu mereka.

Sebelum dunia mengajarinya dengan cara yang mahal, rumah bisa lebih dulu mengajarinya dengan cara yang sederhana.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda