Kolom

Kisah Bli Nyoman: Tinggalkan Gengsi Pariwisata Bali Selatan Demi Sulap Desa Sendiri Jadi Juara

Kisah Bli Nyoman: Tinggalkan Gengsi Pariwisata Bali Selatan Demi Sulap Desa Sendiri Jadi Juara
Petani garam di Desa Les, Tejakula, Buleleng, Bali (Ist.)

Anak-anak muda mengejar mimpi, membangun kehidupan yang lebih baik, lebih sejahtera, merantau ke negeri orang. Mereka meninggalkan desa yang berjalan tertatih dengan sisa-sisa sumber daya. Nyoman Nadiana hadir dengan kepedulian dan ketulusannya mengembangkan Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali.

Ketika banyak generasi muda pesisir utara Bali memilih pergi, Nyoman Nadiana memilih pulang dan bertahan. Pria yang akrab disapa Don Dare atau Don Rare ini dulunya bekerja sebagai pemandu wisata di Bali selatan, tempat pariwisata sudah lebih dulu mapan. Namun, kerinduan pada kampung halaman membuatnya kembali, membawa serta gagasan sederhana nan berani: mengapa potensi Desa Les yang masih orisinal dengan laut, garam, dan perbukitan hijau tidak bisa dikenal dunia seperti desa-desa wisata lain di Bali?

Wajah Desa Les dalam Nyegara Gunung

Bermula dari gagasan itu, langkah kecil Nyoman berubah menjadi gerakan. Sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Les, ia mulai mengenalkan konsep wisata "Nyegara Gunung", sebuah perjalanan yang membawa wisatawan dari pantai, melewati pasar desa hingga ke air terjun di kawasan perbukitan.

"Kalau kayak anatomi tubuh, kakinya di laut, pusat desanya panjang, dari pantai, pasar, sampai air terjun itu sudah masuk bukit," katanya suatu pagi, menjelaskan mengapa desanya ia sebut satu-satunya yang formatnya komplit.

Kesungguhan itu membuahkan hasil. Pada 2024, Desa Les dinobatkan sebagai desa wisata terbaik dalam Indonesian Tourism Village Awards oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sekaligus diakui sebagai destinasi wisata hijau.

Sejak tahun 2024 pula, Bli Nyoman tidak lagi berjalan sendirian. Penghargaan itu menjadi jalan bagi Desa Les untuk mulai bergabung dalam Program Desa Sejahtera Astra.

Tentu saja sebagai penggagas konsep wisata Nyegara Gunung, Nyoman dipercaya sebagai penggerak atau local champion di desanya. Baginya, kehadiran Astra bukan untuk memulai semuanya dari nol, melainkan memperkuat inisiatif yang sudah lebih dulu tumbuh di tengah masyarakat.

"Dengan hadirnya Astra, program yang sudah berlangsung ini menjadi tambah bagus," ujarnya singkat tanpa berusaha terdengar berjasa.

Langkah Bersama Bli Nyoman dan Astra Menghidupkan Desa Les

Di bidang kesehatan, warga bersama kader kesehatan aktif menjaga kesehatan ibu dan anak melalui kegiatan posyandu, edukasi kehamilan hingga pemberian makanan tambahan bagi anak-anak yang mengalami stunting dan gizi buruk. Layanan dasar ini menjadi fondasi penting agar generasi berikutnya tumbuh sehat sebelum diarahkan mengembangkan potensi desa.

Pada bidang pendidikan, program menyasar generasi muda melalui kelas Bahasa Inggris dan kelas alam yang diikuti belasan peserta dari jenjang SD hingga SMA/SMK. Anak-anak Desa Les dibekali kemampuan berkomunikasi dan wawasan kepariwisataan, dipersiapkan menjadi pemandu wisata lokal yang mampu menyambut wisatawan mancanegara yang datang menikmati konsep Nyegara Gunung.

Kepedulian Nyoman juga merambah lingkungan. Ia menjadi bagian dari upaya konservasi dan transplantasi terumbu karang di perairan Desa Les sekaligus mendorong pengelolaan sampah berbasis warga lewat program Les Grow. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos yang dimanfaatkan untuk kebun terpadu di tempat pengolahan sampah terpadu. Baginya, laut bukan sekadar objek wisata, melainkan ruang hidup yang harus dijaga keberlanjutannya.

Sementara di bidang kewirausahaan, Nyoman ikut menjaga warisan garam palungan, garam tradisional yang dibuat dari air laut dan sinar matahari tanpa bahan tambahan, yakni menggunakan alat-alat warisan leluhur seperti tinjung dan tulud.

"Jumlah petani garam memang tidak sebanyak dulu. Karena itu, pelestarian dan pengembangannya sangat penting," katanya menjelaskan mengapa hanya tersisa sekitar lima belas petani yang masih aktif memproduksi garam ini.

Dalam satu musim kemarau, desa mampu menghasilkan dua hingga tiga ton garam palungan. Selanjutnya, garam palungan dipasarkan lewat BUMDes Giri Segara hingga ke Pulau Jawa dan Batam. Ia menyebut proses pembuatannya mengikuti ritme alam sendiri.

"Gunung memberi, laut menerima," Nyoman menggambarkan garam yang lembut dan gurih itu lahir dari perpaduan keduanya.

Tak berhenti di situ, Nyoman turut membantu memasarkan produk lokal lain seperti gula juruh, minyak kelapa, arak tradisional hingga kerajinan warga. Ia membuka jalan bagi produk-produk kampung menembus pasar yang lebih luas.

Hasil dari kerja bersama ini terasa nyata. Program Desa Sejahtera Astra di Desa Les telah menjangkau lebih dari 800 warga. Program ini mendorong peningkatan pendapatan masyarakat hingga 25 persen, membuka lapangan kerja baru, dan memperluas akses pasar produk lokal.

Ketika anak-anak muda lain memilih merantau, Bli Nyoman memilih menanam akarnya lebih dalam. Bagi wisatawan yang datang, kelas alam dan ladang garam yang ia perkenalkan bukan sekadar tontonan, melainkan pelajaran tentang kearifan lokal desanya.

"Ini menjadi edukasi yang sangat menarik," ujarnya tersenyum setiap kali menjelaskan proses menekang tanah garam kepada pengunjung yang baru pertama kali melihatnya. Dari sana, ia membuktikan bahwa desa kecil di pesisir utara Bali ini bisa tumbuh sejahtera tanpa harus kehilangan laut, tradisi, dan jati dirinya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda