Kolom
Dilema Gen Z! Pindah Kerja Disebut Kutu Loncat, Bertahan Malah Apes
"Anak sekarang gampang banget resign, nggak kayak dulu, kerja lima tahun di satu tempat baru dianggap serius." Kalimat semacam ini mungkin sudah sering kamu dengar, entah dari atasan, orang tua, atau paman di meja makan lebaran. Tapi sebelum ikut merasa bersalah karena sering berpindah kerja, ada baiknya kita bicarakan datanya dulu.
Menurut analisis Bank of America Institute untuk kuartal pertama 2026, pekerja Gen Z yang berpindah kerja mengalami pertumbuhan gaji empat kali lipat dibanding mereka yang bertahan di perusahaan yang sama.
Sementara itu, riset Revelio Labs mencatat porsi Gen Z dalam perekrutan baru justru anjlok dari 14,9 persen di 2022 menjadi hanya 8,8 persen di 2025 dengan arus perekrutan pekerja di bawah usia 25 tahun turun 45 persen sejak 2019.
Artinya, di tengah pasar kerja yang makin sempit dan tidak ramah bagi pekerja muda, berpindah kerja bukan gaya hidup atau ambisi berlebihan, ini strategi bertahan hidup yang rasional secara ekonomi.
Ironisnya, stigma "tidak loyal" ini muncul justru ketika loyalitas lama sudah lama kehilangan nilainya. Data yang sama dari Bank of America menunjukkan bahwa hampir separuh pekerja yang bertahan di perusahaannya sepanjang kuartal pertama 2026 tidak mengalami kenaikan gaji sama sekali, bahkan sebagian mengalami penurunan pendapatan riil akibat kenaikan biaya tunjangan dan potongan lain.
Jadi ketika seseorang dicap "tidak setia" karena resign demi gaji yang lebih layak, pertanyaan yang jarang diajukan balik adalah: setia macam apa yang sebenarnya dituntut, kalau kesetiaan itu bahkan tidak dibalas dengan kenaikan gaji yang wajar?
Menariknya, riset ini juga mengungkap sesuatu yang lebih kompleks dari sekadar "generasi muda vs generasi tua". Untuk kelompok pekerja senior dan bergaji tinggi, terutama 5 persen teratas dari segi pendapatan, pola ini justru terbalik: bertahan di perusahaan lama memberi kenaikan gaji mendekati dua digit, jauh melampaui mereka yang berpindah kerja.
Hal ini menunjukkan bahwa "loyalitas terbayar" bukan aturan universal, melainkan privilese yang hanya berlaku bagi mereka yang sudah berada di posisi aman dan bernilai tinggi bagi perusahaan. Sementara bagi pekerja awal karier, khususnya Gen Z, situasinya justru sebaliknya, struktur pasar kerja memang dirancang sedemikian rupa sehingga kenaikan gaji signifikan lebih mudah didapat lewat berpindah tempat kerja, bukan lewat bertahan dan berharap dihargai secara internal.
Di sinilah letak kesalahpahaman generasional yang sebenarnya. Ketika generasi sebelumnya membangun kariernya, sistem ekonomi memang mendukung loyalitas: kenaikan jabatan teratur, jaminan pensiun jangka panjang, dan budaya kerja yang relatif stabil membuat bertahan di satu perusahaan adalah pilihan yang masuk akal secara finansial.
Tapi struktur itu sudah lama berubah. Perusahaan modern lebih fleksibel melakukan PHK massal, menahan kenaikan gaji internal, dan lebih murah merekrut kandidat baru dibanding menaikkan gaji karyawan lama secara signifikan. Menuntut Gen Z tetap "setia" pada sistem yang sudah tidak lagi menjanjikan hal yang sama adalah bentuk nostalgia yang keliru tempat.
Yang menarik, gejala ini bukan berarti Gen Z anti-komitmen. Justru sebaliknya, banyak dari mereka berpindah kerja bukan demi validasi sosial "gaji naik", tapi karena kalkulasi hidup yang makin berat: biaya sewa, cicilan pendidikan, sampai tanggungan keluarga yang datang lebih cepat dari generasi sebelumnya.
Loyalitas pada dasarnya bukan soal berapa lama seseorang bertahan di satu tempat, tapi soal komitmen terhadap hasil kerja dan tanggung jawab yang diemban selama di sana dan itu tetap bisa dijaga meski berpindah tempat kerja setiap dua tahun sekali.
Jadi mungkin sudah waktunya kita mendefinisikan ulang makna loyalitas di dunia kerja modern. Bukan lagi soal berapa lama bertahan di satu logo perusahaan, tapi soal keselarasan antara usaha yang diberikan dan penghargaan yang diterima kembali.
Kalau perusahaan sendiri tidak lagi menjamin kenaikan gaji yang wajar, jenjang karier yang jelas, atau rasa aman jangka panjan, rasanya keliru kalau yang dituntut setia hanya satu pihak saja.
Pertanyaannya bukan lagi "kenapa Gen Z gampang pindah kerja". Pertanyaan yang lebih jujur adalah: loyalitas macam apa yang pantas diberikan, kalau sistemnya sendiri sudah lama berhenti membalas dengan setimpal?