Kolom
Lelah Jadi Konselor Gratisan Pasangan? Waspada Taktik Weaponized Incompetence!
Jika kamu rajin melintasi lini masa TikTok atau X (Twitter), kamu pasti sering menemukan unggahan tentang perempuan yang lelah sendiri menghadapi pasangannya. Mereka merasa harus mengajari pasangan dari nol, mulai dari etika dasar bermedia sosial, cara menghargai batasan (boundaries), hingga makna kesetiaan yang paling mendasar.
Tanpa disadari, banyak perempuan terjebak menjadi "konselor gratisan" sekaligus pengasuh emosional bagi pasangannya sendiri. Kita rela mengetik pesan berparagraf-paragraf di WhatsApp hanya untuk menjelaskan mengapa tindakannya melukai perasaan. Namun, sampai kapan kita harus terus mengedukasi laki-laki dewasa tentang hal-hal yang sebetulnya merupakan basic human decency?
Setiap kali tertangkap basah tebar pesona melalui fitur once-view DM, rajin follow-unfollow perempuan di media sosial, atau memelihara micro-cheating berkedok "enggak enak menolak", tameng utama yang sering digunakan biasanya seragam: "Aku polos banget, aku enggak tahu kalau kamu bakal marah," atau "Aku memang orangnya kurang peka."
Di media sosial, kita kerap memaklumi hal ini dengan dalih "cowok memang cuek". Padahal jika kita mau berpikir kritis, seorang laki-laki dewasa dengan kesadaran penuh tentu memahami konsekuensi dari setiap tindakannya. Mengabaikan rasa aman pasangan bukanlah bentuk ketidaktahuan, melainkan pilihan sadar (conscious choice) demi memuaskan egonya sendiri.
Fenomena ini dalam psikologi sering disebut sebagai weaponized incompetence—sebuah taktik pura-pura tidak mampu atau tidak paham agar tanggung jawab menjaga hubungan sepenuhnya dibebankan kepada pasangan. Ketika kita harus turun tangan menjelaskan logika kesetiaan layaknya guru mengajari anak kecil, di situlah energi emosional kita dikuras habis. Peka dan menghargai bukanlah keterampilan tingkat tinggi, melainkan standar paling mendasar dalam sebuah relasi.
Ketika argumen kita sudah logis dan tidak tertandingi, laki-laki yang belum matang secara emosional biasanya akan mengeluarkan kalimat pamungkas yang sering dijadikan bahan lelucon di media sosial:
"Maaf ya, sepertinya aku memang belum selesai sama diriku sendiri."
Sekilas, kalimat ini terdengar reflektif, dewasa, dan penuh kesadaran diri (self-awareness). Namun dalam dunia nyata, ini sering kali hanya taktik gaslighting halus dan pity party untuk melarikan diri dari tanggung jawab tanpa harus terlihat sebagai pihak yang salah.
Ironinya, saat sedang berburu validasi digital dan menikmati kenyamanan status hubungan, mereka merasa sangat siap. Namun begitu dituntut komitmen, konsistensi, dan diminta menunjukkan iktikad baik—seperti sekadar menghapus kontak mantan atau berhenti menanggapi perempuan asing—mereka mendadak berubah menjadi jiwa trauma yang "belum selesai dengan dirinya". Mereka ingin keluar dari hubungan dengan tetap dikasihani, sementara pihak perempuan ditinggalkan dalam keadaan lelah secara emosional (emotional burnout).
Salah satu hal yang paling memicu rasa ilfil (ick) dari dinamika ini adalah standar ganda soal rasa "enggak enak". Banyak laki-laki beralasan tidak bisa tegas kepada perempuan lain karena takut dianggap sombong atau tidak ramah.
Di sinilah terlihat betapa timpangnya skala prioritas tersebut. Mereka lebih takut membuat orang asing atau temannya merasa canggung ketimbang melihat pikiran pasangannya berantakan. Demi terlihat sebagai sosok yang ramah (nice guy) di mata publik, mereka rela menumbalkan rasa aman orang yang katanya paling mereka sayangi. Padahal, alasan "enggak enak" itu sering kali hanya kedok untuk menutupi kecanduan validasi dan keengganan menutup pintu kesempatan lain.
Hubungan yang sehat seharusnya didasari oleh kerja sama dua orang dewasa, bukan relasi antara tutor dan murid. Ketika seorang perempuan terus-menerus mengambil peran sebagai perbaikan karakter pasangannya, ia sedang melakukan emotional labor yang tidak seimbang. Kita menguras daya analisis, empati, dan kesabaran hanya untuk membentuk seseorang menjadi pasangan yang layak.
Masalahnya, proses ini sering kali bertepuk sebelah tangan. Laki-laki yang terbiasa "diasuh" tidak akan pernah belajar dewasa secara mandiri karena mereka tahu akan selalu ada jaring pengaman bernama permakluman dari pasangannya.
Satu hal yang wajib kita tetapkan sebagai standar baru: cinta yang sehat tidak membutuhkan modul pelatihan dasar. Laki-laki yang memiliki kesadaran penuh tidak perlu didikte berulang kali hanya untuk memahami hal-hal yang bisa mematahkan hatimu. Ia tahu, ia sadar, dan ia akan menjaga batasan itu secara sukarela.
Kamu adalah pasangan, bukan bengkel penampungan atau tempat transit pendewasaan bagi orang-orang yang enggan tumbuh dewasa. Memelihara harapan bahwa seseorang akan berubah hanya karena kamu rajin menasihati dan memaafkan adalah bentuk pengabaian terhadap diri sendiri.
Jika ia mulai mengeluarkan jurus "belum selesai dengan diri sendiri", saatnya kamu melangkah mundur. Terapkan radical detachment—hentikan debat panjang, balas seperlunya, atau cukup biarkan pesan itu tanpa balasan. Tunjukkan bahwa kamu tidak lagi bersedia menjadi penonton, apalagi pengasuh, dalam skenario drama yang ia buat.
Biarkan orang-orang yang belum selesai dengan dirinya menyelesaikan urusannya sendiri. Sebab, tugas utamamu hari ini bukanlah memanusiakan orang lain dengan mengorbankan dirimu, melainkan menjaga batas diri dan menghargai kesehatan emosionalmu sendiri.