Kolom
Katanya Sudah Merdeka, Tapi Kenapa Ibu Rumah Tangga Sulit Berinvestasi?
Saya sering memperhatikan, urusan mengelola uang belanja bulanan itu sebenarnya keahlian tingkat dewa yang dimiliki banyak ibu rumah tangga. Bisa nombokin uang jajan anak, bayar listrik, sampai nabung buat lebaran, semua diatur dari kantong belanja yang seringkali pas-pasan.
Tapi anehnya, begitu masuk ke ranah investasi, banyak dari kita justru merasa asing dan ragu, seolah dunia itu cuma milik anak kantoran yang gajinya masuk rutin tiap tanggal muda.
Ternyata perasaan ini bukan cuma mitos. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan tahun 2026 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan bersama Badan Pusat Statistik dan Lembaga Penjamin Simpanan menunjukkan indeks literasi keuangan ibu rumah tangga memang naik 5,57 poin menjadi 68,36 persen.
Kabar baiknya, ini kenaikan yang cukup signifikan. Tapi kabar kurang baiknya, angka ini masih jauh di bawah kelompok pegawai atau profesional yang berada di kisaran 85,12 persen. Artinya, meski sudah ada perbaikan, kesenjangan pemahaman soal keuangan antara pekerja formal dan ibu rumah tangga masih cukup lebar.
Kenapa ini bisa terjadi? Menurut saya, salah satu alasannya karena hampir semua materi edukasi investasi memang dirancang untuk orang dengan penghasilan tetap. Coba deh perhatikan konten-konten finansial di media sosial, kebanyakan bicara soal auto debet gaji, dana pensiun kantor, atau strategi investasi dari THR.
Sementara ibu rumah tangga yang penghasilannya tidak tetap, entah dari usaha kecil-kecilan, jualan online, atau titipan uang belanja suami, jarang sekali dapat panduan yang benar-benar cocok dengan ritme keuangan mereka.
Padahal kalau dipikir-pikir, emak-emak justru punya kebiasaan yang sangat mendukung untuk berinvestasi, yaitu menyisihkan sedikit demi sedikit secara konsisten.
Bedanya, selama ini kebiasaan itu disalurkan ke arisan atau tabungan konvensional yang keuntungannya minim, bukan ke instrumen yang punya potensi pertumbuhan lebih baik seperti reksa dana atau emas digital.
Nah, di sinilah saya rasa perlu ada yang namanya model investasi mikro yang benar-benar disesuaikan dengan konteks emak-emak.
Bayangkan kalau ada platform investasi yang bisa dimulai dari Rp10.000, dengan bahasa yang tidak bikin pusing, dan contoh kasus yang relate dengan kehidupan sehari-hari, misalnya menabung buat biaya sekolah anak lewat reksa dana pasar uang, bukan cuma lewat celengan ayam.
Beberapa platform sebenarnya sudah mulai ke arah sana, tapi sosialisasinya masih kalah gencar dibanding promosi pinjaman online yang justru menyasar emak-emak dengan agresif.
Saya membayangkan, seandainya posyandu atau kegiatan PKK di lingkungan rumah juga menyisipkan sesi literasi investasi sederhana, mungkin akan lebih banyak ibu yang percaya diri mulai berinvestasi meski dengan uang recehan sekalipun.
Karena sejatinya, kemerdekaan finansial bukan cuma soal berapa besar uang yang dimiliki, tapi soal seberapa besar kendali yang kita punya atas masa depan keuangan sendiri.
Jadi kalau Anda kebetulan seorang emak-emak yang selama ini merasa dunia investasi terlalu ribet dan bukan buat orang seperti kita, coba deh mulai dari langkah kecil. Cari platform yang ramah pemula, mulai dari nominal yang tidak memberatkan, dan jangan ragu bertanya meski pertanyaannya terasa "receh".
Karena merdeka secara finansial itu bukan previlese anak kantoran saja, itu hak semua perempuan yang selama ini sudah terbukti jago mengatur uang, tinggal sekarang saatnya diarahkan ke instrumen yang lebih menguntungkan untuk masa depan.
Jadi, buat kalian para perempuan yang mungkin sedang membaca tulisan ini sambil berkegiatan, apakah relate?