Kolom
Ongkos Sebuah Kegagalan: Mengapa Orang Dewasa Sulit Mencoba Hal Baru?
Sebagai orang dewasa, kadang terlintas keinginan untuk belajar dan mencoba banyak hal baru, seperti bermain alat musik, mengkikuti kelas olahraga, traveling sendirian, atau hal-hal lain yang belum dieksplor saat masih muda.
Namun, kebanyakan dari kita mengurungkan niat sebelum benar-benar terjun ke dalamnya. Hal itu wajar, karena mencoba sesuatu memang membutuhkan biaya. Ada perlengkapan yang harus dibeli, kelas yang harus dibayar, perjalanan yang perlu dibiayai, atau modal yang harus dikeluarkan lebih dulu.
Tidak semua orang punya kemewahan untuk mencoba berkali-kali sampai menemukan apa yang mereka sukai atau kuasai. Ongkos sebuah kegagalan bisa membuat ruang eksplorasi semakin sempit. Orang dewasa akhirnya lebih sering memilih sesuatu yang aman, bukan karena tidak ingin berkembang, tetapi karena kegagalan punya harga yang terlalu berat untuk ditanggung.
Banyak Orang Dewasa yang Tidak Punya Ruang untuk Gagal
Banyak orang dewasa sebenarnya punya daftar panjang hal yang ingin dicoba. Keinginannya ada, rasa penasarannya juga ada. Hanya saja, keinginan tersebut sering berhenti di kepala karena selalu muncul kebutuhan lain yang harus didahulukan.
Urusan uang jadi salah satu pertimbangan paling besar. Penghasilan yang terbatas membuat setiap pengeluaran harus punya alasan yang jelas. Mengeluarkan uang untuk hal di luar kebutuhan primer akhirnya terasa seperti mengambil risiko yang terlalu besar.
Padahal, hidup yang terus-menerus diisi dengan pilihan aman juga membuat kita kehilangan banyak kemungkinan. Kita mungkin tidak pernah tahu kalau ternyata punya kemampuan bermain musik, cocok menjalankan bisnis, atau justru menemukan sesuatu yang benar-benar disukai dari sebuah hobi baru. Bukan karena kesempatan itu tidak ada, tetapi karena kita tidak pernah cukup leluasa untuk mencobanya.
Mungkin karena itu, eksplorasi diri tidak bisa selalu dibicarakan sebagai perkara keberanian. Nasihat untuk keluar dari zona nyaman memang mudah diberikan, tetapi keberanian untuk mencoba juga membutuhkan ruang untuk gagal. Dan bagi orang yang hidup dengan uang terbatas, ruang tersebut sering kali sangat sempit.
Ada Orang yang Bisa Menganggap Gagal sebagai Pengalaman
Kita sering disuruh menganggap kegagalan sebagai bagian dari proses. Masalahnya, pengalaman tidak bisa mengembalikan uang yang sudah habis. Bagi orang yang punya cukup pegangan, kegagalan mungkin hanya membuat tabungan berkurang. Bagi orang yang uangnya pas-pasan, kegagalan bisa membuat kebutuhan lain ikut berantakan.
Coba bayangkan seseorang yang menghabiskan seluruh tabungannya untuk memulai usaha kecil. Usahanya tidak berjalan dan modalnya habis. Ia memang mendapat pengalaman, tetapi pengalaman tersebut tidak bisa dipakai untuk membayar kebutuhan bulan berikutnya.
Ceritanya tentu berbeda bagi orang yang masih punya tabungan, penghasilan lain, atau keluarga yang bisa menjadi tempat meminta bantuan. Gagal tetap menyakitkan, tetapi hidup tidak langsung ikut berantakan.
Hal serupa juga bisa dilihat dari keputusan-keputusan lain. Ada orang yang bisa meninggalkan pekerjaan karena merasa sudah tidak cocok, mengambil jeda untuk mencari arah baru, atau mencoba switch career meski harus memulai dari awal.
Di sisi lain, ada orang yang tetap bertahan di pekerjaan yang tidak disukai karena kehilangan penghasilan selama beberapa bulan saja sudah cukup untuk membuat kondisi keuangannya goyah.
Mencoba Hal Baru Seharusnya Tidak Jadi Kemewahan
Ada ironi dalam tuntutan hidup modern. Orang dewasa terus didorong untuk berkembang, menemukan passion, meningkatkan skill, membangun network, memiliki hobi, bahkan memiliki side hustle. Namun, kesempatan untuk melakukan semua itu tidak tersedia secara merata.
Menemukan sesuatu yang kita kuasai biasanya membutuhkan proses coba-coba yang tentunya membutuhkan waktu dan sumber daya. Artinya, kemampuan seseorang untuk mengenali dirinya sendiri juga sedikit banyak dipengaruhi oleh seberapa luas kesempatan yang ia miliki untuk bereksperimen.
Itulah mengapa menurut saya, mencoba hal baru juga merupakan privilege. Ada orang yang bisa mencoba berbagai hal hanya bermodalkan rasa penasaran, sementara yang lain harus menghitung berkali-kali sebelum mengeluarkan uang.