Kolom

Tone Deaf Bukan Sekadar Label: Politik Punya Andil Besar dalam Hidup Kita

Tone Deaf Bukan Sekadar Label: Politik Punya Andil Besar dalam Hidup Kita
Ilustrasi demonstrasi (magnific)

Di media sosial, pilihan untuk tidak membahas politik sangat mudah dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian. Orang yang tidak pernah membahas tentang isu-isu terkini soal pemerintahan pun pun bisa dicap tone deaf karena dianggap menutup mata terhadap masalah di sekitarnya.

Memang, tidak semua orang memiliki waktu dan energi yang sama untuk terus mengikuti perkembangan politik. Banyak orang memang sudah cukup sibuk memikirkan pekerjaan dan kebutuhan sehari-hari. Mengikuti setiap perdebatan politik terasa seperti tambahan beban yang tidak sanggup mereka tanggung.

Namun, hidup yang sedang diperjuangkan itu tidak berdiri sendiri. Besaran upah, harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, akses kesehatan, sampai sulitnya mencari pekerjaan berkaitan dengan keputusan dan kebijakan politik.

Lantas, untuk apa memisahkan politik dari urusan bertahan hidup, jika banyak hal yang menentukan kemampuan kita untuk bertahan lahir dari keputusan politik?

Politik Bukan Cuma Urusan Pemerintah

Ada kecenderungan menganggap politik sebagai sesuatu yang hanya muncul di televisi, ruang parlemen, kampanye, atau perdebatan di media sosial. Oleh karena itu, sebagian orang merasa bisa memilih untuk tidak ikut membahasnya. Padahal, politik tidak harus muncul dalam bentuk perdebatan atau pembahasan berat untuk punya pengaruh terhadap kehidupan kita.

Banyak hal dalam hidup memang terlihat seperti keputusan pribadi, padahal ada kondisi besar yang melatarbelakanginya. Memilih pekerjaan, menunda punya anak, tinggal di kawasan yang lebih jauh, hingga memangkas pengeluaran sering kali berkaitan dengan kondisi ekonomi serta kebijakan publik yang digodok pemerintah.

Oleh karena itu, menganggap politik sebagai urusan yang jauh dari kehidupan sehari-hari terasa kurang tepat. Banyak keputusan yang kita kira sepenuhnya personal ternyata dibuat di tengah kondisi yang turut dibentuk oleh kebijakan publik.

Sibuk Bertahan Hidup Bukan Berarti Boleh Tutup Mata

Saya bisa memahami alasan orang yang mengatakan tidak punya waktu mengikuti politik. Tidak semua orang pulang kerja lalu punya energi untuk membaca berita, memeriksa kebijakan terbaru, atau mengikuti perdebatan di media sosial. Ada orang yang waktunya habis untuk bekerja, mengurus keluarga, atau memikirkan bagaimana pengeluaran bulan ini bisa cukup sampai gajian berikutnya.

Namun, tidak punya waktu atau energi untuk mengikuti semua isu politik berbeda dengan menganggap politik tidak punya kaitan dengan kehidupan sendiri. Keterbatasan kapasitas untuk mengikuti berita bukan berarti kita boleh menganggap politik sebagai sesuatu yang sepenuhnya terpisah dari keseharian.

Justru, menurut saya, orang yang sedang berjuang untuk survive punya alasan kuat untuk memahami apa yang sedang terjadi. Setidaknya, ada kesadaran bahwa kondisi yang mereka hadapi tidak selalu murni persoalan pribadi yang harus diselesaikan sendirian.

Sebab, hidup yang makin mahal tidak selalu bisa diselesaikan dengan bekerja lebih keras. Ada kondisi yang berada di luar kemampuan individu, sehingga kita perlu melihat siapa yang membuat aturan, mengambil keputusan, dan punya kuasa untuk mengubah keadaan tersebut.

Peduli Politik Tak Harus Seragam

Di sisi lain, saya juga tidak sepakat jika kepedulian politik diukur dari seberapa sering seseorang membicarakan politik. Media sosial sering membuat seolah-olah orang yang paling peduli adalah mereka yang paling aktif berkomentar, paling cepat membagikan isu terbaru, atau paling keras mengkritik pemerintah. Padahal, kepedulian tidak selalu tampil dalam bentuk yang sama.

Menurut saya, kepedulian politik tidak perlu punya ukuran yang seragam. Kita tidak harus mengikuti setiap isu atau ikut dalam setiap perdebatan untuk disebut peduli. Namun, kesibukan hidup juga tidak seharusnya membuat kita menutup mata terhadap politik, apalagi menganggap keduanya tidak saling berkaitan.

Kita boleh lelah. Kita boleh tidak mengikuti semua isu. Kita bahkan boleh memilih tidak berdebat di media sosial. Tetapi rasanya agak naif jika kita menganggap politik tidak penting hanya karena kita sedang sibuk bekerja keras. Katanya terlalu sibuk bertahan hidup untuk memikirkan politik. Ironisnya, bisa jadi politik pula yang membuat kita harus terus sibuk bertahan hidup.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda