Kolom

Tidak Menikah Muda Bukan Berarti Tertinggal: Ini Pilihan Hidup Perempuan!

Tidak Menikah Muda Bukan Berarti Tertinggal: Ini Pilihan Hidup Perempuan!
ilustrasi perempuan menikah (Pexels/Fadime Demirtaş)

Menikah muda bukan satu-satunya pilihan bagi perempuan. Memaknai kebebasan, terutama di era emansipasi, bisa berarti memberi ruang untuk menentukan pendidikan, karier, hubungan, dan masa depan sesuai pilihan sendiri.

Bagi banyak perempuan, pertanyaan soal menikah mungkin terdengar sederhana. Namun, jika terus dilontarkan oleh keluarga, teman, bahkan lingkungan sekitar, pertanyaan tersebut bisa terasa seperti target yang harus segera dicapai.

Seolah-olah ada usia tertentu ketika perempuan dianggap “sudah waktunya” menikah. Jika belum, muncul tudingan: terlalu sibuk bekerja, terlalu pemilih, atau bahkan dianggap belum menemukan kehidupan yang sebenarnya.

Padahal, menikah adalah keputusan besar yang menyangkut kehidupan seseorang. Mungkin masyarakat perlu memahami makna kemerdekaan perempuan pada kebebasan menentukan cara menjalani hidupnya.

Menikah Bukan Perlombaan

Kita hidup di lingkungan yang sering membuat kehidupan terasa seperti perlombaan. Setelah lulus sekolah harus kuliah. Setelah kuliah harus bekerja. Setelah bekerja harus menikah. Setelah menikah ada pertanyaan berikutnya.

Masalahnya, manusia tidak selalu memiliki timeline yang sama. Ada perempuan yang memang siap menikah di usia muda. Ada yang ingin menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu lalu membangun karier. Ada yang masih ingin mengenal dirinya sendiri.

Semua pilihan tersebut bisa memiliki alasan masing-masing. Tidak ada medali untuk siapa yang paling cepat menikah. Yang lebih penting adalah apakah keputusan tersebut dibuat dengan sadar dan siap dijalani.

Perempuan Berhak Menentukan Prioritas

Salah satu bentuk kebebasan adalah memiliki kesempatan untuk menentukan apa yang ingin diprioritaskan. Bagi sebagian perempuan, pendidikan dan karier mungkin menjadi fokus utama pada fase tertentu.

Ada yang ingin melanjutkan pendidikan. Ada yang ingin membangun bisnis. Ada yang ingin mengembangkan kemampuan. Ada pula yang ingin membantu keluarga terlebih dahulu. Semua itu merupakan bagian dari perjalanan hidup.

Menunda pernikahan bukan berarti menolak kehidupan berkeluarga atau berontak pada harapan orang tua. Bisa saja seseorang hanya ingin memastikan bahwa ketika waktunya tiba, ia benar-benar siap menjalani tanggung jawab tersebut.

Pernikahan Bukan Ukuran Kesuksesan Perempuan

Menurut saya, salah satu hal yang perlu diubah adalah cara masyarakat mengukur keberhasilan perempuan. Tidak seharusnya perempuan hanya dinilai dari status hubungan atau status pernikahan.

Bukankah perempuan juga tetap bisa mengambil peran menjadi anak yang baik, profesional yang kompeten, teman yang suportif, individu yang kreatif, atau seseorang yang memberikan kontribusi pada masyarakat?

Pernikahan hanya salah satu bagian kehidupan, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Karena itu, perempuan yang belum menikah tidak otomatis sedang “menunggu hidup dimulai” sebab hidup sudah berjalan jauh sebelum seseorang menikah.

Bebas Bukan Berarti Menolak Pernikahan

Membicarakan kebebasan perempuan juga tidak seharusnya dipahami sebagai ajakan untuk tidak menikah. Baik menikah muda maupun menikah di usia yang lebih matang sama-sama bisa menjadi pilihan.

Yang perlu diperjuangkan adalah hak untuk memilih tanpa tekanan yang berlebihan. Jika seorang perempuan memang ingin menikah muda dan merasa siap atau malah memilih menunda, keputusan tersebut harus dihormati.

Kebebasan tidak berarti semua perempuan harus mengambil keputusan yang sama. Kebebasan justru berarti setiap perempuan memiliki ruang untuk menentukan keputusan yang sesuai dengan dirinya.

Jangan Membandingkan Timeline Kehidupan

Media sosial membuat perbandingan menjadi semakin mudah dilakukan. Kita bisa melihat teman sebaya sudah menikah, memiliki keluarga, membeli rumah, atau mencapai berbagai pencapaian lain. Tanpa sadar, kehidupan orang lain dijadikan standar.

Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari cerita seseorang dan kita tidak perlu merasa tertinggal hanya karena menjalani timeline hidup yang berbeda. Padahal, berbeda waktu bukan berarti berbeda nilai.

Kemerdekaan Perempuan: Kemampuan Memilih

Memaknai kemerdekaan perempuan bukan tentang memilih antara menikah atau tidak menikah. Lebih luas dari itu, kemerdekaan adalah ketika perempuan memiliki kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya dengan sadar dan bertanggung jawab.

Mau menikah muda, silakan. Mau fokus pendidikan, silakan. Mau membangun karier terlebih dahulu, juga silakan. Yang penting, keputusan tersebut tidak lahir semata-mata dari rasa takut terhadap penilaian orang lain.

Perempuan tidak harus menikah muda hanya karena masyarakat mengatakan sudah waktunya. Tidak ada kehidupan yang benar-benar ideal jika dijalani hanya demi memenuhi ekspektasi orang lain.

Sebab, salah satu bentuk kemerdekaan yang paling sederhana adalah saat seorang perempuan bisa berkata: “Ini hidup saya, dan saya berhak menentukan kapan serta bagaimana saya akan menjalaninya.”

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda