Kolom

Kenapa Notifikasi HP Sering Bikin Gelisah? Ini Sisi Gelap FOMO yang Jarang Diungkap

Kenapa Notifikasi HP Sering Bikin Gelisah? Ini Sisi Gelap FOMO yang Jarang Diungkap
ilustrasi perempuan dan konten medsos (Pexels/Kampus Production)

Saya pernah merasa gelisah hanya karena melihat notifikasi. Bukan karena ada hal penting, tapi karena takut melewatkan sesuatu.

Entah itu kabar terbaru, tren yang sedang ramai, atau sekadar unggahan teman yang terlihat seru. Dari situ saya mulai sadar: mungkin ini yang disebut FOMO.

Awalnya terdengar sepele, tapi semakin saya jalani, perasaan ini ternyata lebih dalam dari sekadar takut ketinggalan. Ada sesuatu yang lebih personal di baliknya.

Selalu Ingin Tahu, Tapi Tidak Pernah Puas

Setiap kali membuka media sosial, saya seperti masuk ke dunia yang tidak ada habisnya. Selalu ada yang baru, selalu ada yang menarik.

Saya terus scroll, berharap menemukan sesuatu yang “cukup”. Tapi anehnya, rasa itu tidak pernah benar-benar datang. Justru yang ada, saya semakin merasa kurang.

Entah kurang update, kurang cepat, atau kurang “ikut”. Dan tanpa sadar, saya jadi terus mengejar sesuatu yang bahkan tidak jelas ujungnya.

Membandingkan Hidup Tanpa Henti

FOMO sering datang bersamaan dengan kebiasaan membandingkan. Saya melihat teman yang jalan-jalan, yang sudah mencapai sesuatu, atau yang terlihat punya hidup yang menyenangkan.

Di satu sisi, saya tahu itu hanya potongan kecil dari realita. Tapi di sisi lain, tetap saja terasa nyata. Saya mulai bertanya-tanya: kenapa hidup mereka terlihat lebih seru? Kenapa saya seperti tertinggal?

Padahal, mungkin saya tidak benar-benar tertinggal. Saya hanya terlalu sering melihat ke arah orang lain tanpa menyadari apa yang sebenarnya sudah saya dapatkan.

Takut Tertinggal atau Takut Tidak Punya Tempat?

Semakin saya refleksi, saya mulai sadar kalau FOMO bukan hanya soal ketinggalan tren atau informasi. Lebih dari itu, ada rasa takut tidak menjadi bagian dari sesuatu.

Saya takut tidak dianggap, tidak dilibatkan, atau bahkan tidak diingat. Ada kekhawatiran diam-diam tentang bagaimana kalau saya tidak ada di lingkaran itu? Bagaimana kalau saya sendirian?

Dan mungkin, itu yang sebenarnya paling saya takutkan, menjadi sendirian di tengah dunia yang sangat sibuk.

Selalu Online, Tapi Tetap Merasa Kosong

Ironisnya, meskipun saya selalu terhubung secara digital, rasa kosong itu tetap ada. Saya bisa tahu banyak hal tentang orang lain, tapi tidak benar-benar merasa dekat.

Saya bisa ikut tertawa di kolom komentar, tapi tidak benar-benar merasa terhubung. Semakin sering saya online, semakin saya merasa lelah.

Seperti terus berada di keramaian, tapi tidak benar-benar punya tempat untuk pulang. Seperti memiliki dunia, tapi juga sekaligus merasa kesepian.

Belajar Melepas, Meski Tidak Mudah

Menghadapi FOMO bukan hal instan. Saya tidak langsung bisa berhenti membandingkan atau merasa cukup. Tapi saya mulai mencoba hal kecil.

Mengurangi waktu di media sosial, tidak selalu membuka setiap notifikasi, dan memberi ruang untuk diri sendiri tanpa distraksi.

Awalnya terasa aneh, seperti ada yang hilang. Tapi lama-lama, saya mulai merasakan sesuatu yang jarang saya dapat sebelumnya: tenang.

Saya mulai menikmati momen. Saya mulai melakukan sesuatu bukan karena ingin terlihat, tapi karena memang ingin.

Menemukan Makna “Cukup” Versi Sendiri

Salah satu pelajaran terbesar yang saya dapat adalah tidak semua hal harus saya ikuti. Tidak semua tren harus saya coba. Tidak semua momen harus saya hadiri. Dan tidak semua hal yang orang lain lakukan relevan untuk saya.

Saya mulai belajar menentukan apa yang benar-benar penting untuk hidup saya sendiri. Dan dari situ, saya perlahan menemukan arti “cukup”—bukan dari luar, tapi dari dalam diri saya sendiri.

Tidak Ikut Semua, Bukan Berarti Tertinggal

FOMO mungkin tidak akan benar-benar hilang. Di era digital seperti sekarang, godaannya selalu ada. Tapi saya percaya, kita bisa belajar mengelolanya karena pada akhirnya hidup bukan tentang ikut semua hal agar terlihat “ada”.

Hidup adalah tentang memilih apa yang benar-benar berarti. Dan mungkin, sesekali kita perlu bertanya ke diri sendiri: saya benar-benar takut tertinggal atau sebenarnya hanya takut sendirian?

Jawabannya bisa jadi tidak nyaman, tapi dari situlah kita mulai lebih jujur dan mengenal diri sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda