Kolom
Jogja dan Mitos Slow Living: Ketika Kota Santai Harus Tegang Mengejar Hidup
Konon kabarnya, setiap pagi ada ritual yang semakin sulit disebut slow living di Jogja, seperti bangun, mandi, buru-buru sarapan, lalu ikut berdesakan di jalan menuju kantor. Motor mengular, lampu merah terasa semakin panjang, dan perjalanan yang seharusnya mulus-mulus saja berubah menjadi sesi meditasi paksa di atas jok. Bedanya, kita tidak sedang bermeditasi. Kita sedang takut terlambat absen.
Dulu Jogja sering dijual sebagai antitesis Jakarta. Kotanya dianggap lebih tenang, hidupnya lebih santai, orang-orangnya tidak terlalu terburu-buru. Ada angkringan, kopi, sepeda, kampus, dan senja yang seolah tidak punya agenda. Romantis sekali. Masalahnya, romantisme itu semakin mirip brosur pariwisata daripada pengalaman hidup orang yang benar-benar tinggal di dalam kota.
Lihat saja ukurannya. Data BPS Kota Yogyakarta dalam buku “Kota Yogyakarta Dalam Angka 2025” mencatat penduduk Kota Yogyakarta pada 2024 mencapai 415.605 jiwa. Dengan luas wilayah 32,82 kilometer persegi, kepadatannya mencapai 12.664 jiwa per kilometer persegi. Kecamatan Ngampilan bahkan mencapai 21.327 jiwa per kilometer persegi.
Kota sekecil itu tidak hanya menampung orang yang tercatat sebagai penduduknya. Ia juga menjadi ruang kuliah, bekerja, berdagang, berwisata, mencari hiburan, dan pulang-pergi bagi orang dari berbagai penjuru kawasan. BPS mencatat pada September 2025 saja ada 944.028 penumpang kereta api yang datang ke DIY dan 951.080 yang berangkat. Angka itu tentu bukan jumlah pendatang, tetapi cukup menggambarkan betapa aktifnya pergerakan manusia di wilayah ini.
Lantas, apakah kita masih bisa menyebutnya dengan kota yang berjalan pelan? Mungkin yang pelan adalah citranya. Kehidupan di dalamnya justru semakin cepat. Hartmut Rosa dalam buku “Social Acceleration: A New Theory of Modernity” menyebut modernitas mengalami tiga bentuk percepatan: percepatan teknologi, perubahan sosial, dan percepatan ritme kehidupan. Ironisnya, teknologi yang seharusnya membuat manusia memiliki lebih banyak waktu justru dapat membuat kita merasa semakin kekurangan waktu.
Jogja mengalami paradoks serupa. Kita bisa memesan makanan dari kasur, mengirim pekerjaan dari ponsel, dan berpindah menggunakan aplikasi dalam hitungan menit. Tetapi waktu yang kita hemat sering kembali hilang di jalan, kantor, antrean, atau pekerjaan berikutnya. Kita menjadi semakin cepat melakukan sesuatu, tetapi belum tentu memiliki lebih banyak waktu untuk hidup.
Persoalannya menjadi lebih getir ketika kita melihat pasar kerja. BPS DIY mencatat pada Agustus 2025 terdapat sekitar 2,28 juta angkatan kerja dengan 2,20 juta penduduk bekerja. Tingkat pengangguran terbuka memang 3,46 persen, tetapi hanya 46,03 persen pekerja berada dalam kegiatan formal. Pekerja paruh waktu mencapai 27,03 persen dan setengah pengangguran 5,56 persen. Jadi angka pengangguran yang relatif rendah tidak otomatis berarti semua orang sedang menikmati pekerjaan yang stabil dan layak.
Ironinya, ekonomi DIY tetap tumbuh. Pada 2025, ekonomi DIY tumbuh 5,49 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan 5,03 persen pada 2024. Pada triwulan II 2026, ekonomi bahkan tumbuh 5,75 persen secara tahunan. Kota dan wilayahnya bergerak secara ekonomi, tetapi pertumbuhan itu tidak otomatis membuat setiap anak muda bisa hidup dengan lebih tenang.
Ruang hidupnya pun semakin menjadi persoalan. Penelitian Rahma Yuninda di UGM tentang gentrifikasi Kota Yogyakarta menemukan bahwa komersialisasi ruang dan pembangunan pariwisata membuat lahan hunian semakin terbatas dan harga tanah semakin mahal. Penelitian itu, dengan menggunakan teori production of space Henri Lefebvre, menunjukkan pemuda menghadapi kelangkaan hunian, keterbatasan finansial, serta persaingan dengan pendatang berpenghasilan lebih tinggi.
Maka mungkin masalah Jogja bukan karena kota ini tiba-tiba berubah menjadi Jakarta. Jogja tetap punya angkringan, kampus, gang kecil, dan orang-orang yang duduk santai sampai malam. Tetapi di balik estetika itu, ada kota yang ruangnya semakin diperebutkan dan waktunya semakin gila mahalnya.
Kita mungkin masih bisa duduk dua jam di warung kopi. Tetapi kalau sebelumnya harus menempuh perjalanan satu jam, bekerja delapan jam, lalu pulang satu jam lagi, apakah itu benar-benar slow living? Atau kita hanya sedang beristirahat sebentar sebelum kembali berlari?
Jogja boleh tetap menjadi kota yang romantis. Namun bagi anak muda yang harus membayar kos, mengejar pekerjaan, menghadapi jalanan, mencari ruang tinggal, dan menghitung pengeluaran sampai akhir bulan, romantisme saja tidak cukup. Kota yang nyaman bukan kota yang terlihat santai dari luar, melainkan kota yang memungkinkan penghuninya benar-benar punya waktu untuk hidup.
Jadi, maaf saja. Jogja mungkin masih terlihat berjalan pelan bagi wisatawan. Tetapi bagi mereka yang harus hidup di dalamnya, kota ini sudah lama berlari tertatih-tatih.