Kolom
"When Ya?" Bukan Cuma Komentar Iseng, tapi Jeritan Hati Gen Z?
Pengguna media sosial, khususnya Gen Z pasti tidak asing dengan kata-kata “when ya?” yang sering berseliweran di media sosial. Kata-kata yang bisa dibilang pertanyaan ini sering ditemui di kolom komentar.
Seringnya komentar “when ya?” ditemui pada unggahan tentang pasangan yang romantis, liburan ke tempat yang indah, membeli rumah dan kendaraan impian, atau pencapaian lainnya.
Namun, apakah ungkapan ini hanya sekadar pertanyaan singkat tanpa makna?
Mengapa pertanyaan singkat ini bisa menjadi cara Gen Z untuk menunjukkan keinginan dan harapan terhadap kehidupannya saat ini?
Arti “When Ya?” dalam Perspektif Media Sosial
“When ya?” merupakan ungkapan dari dua unsur bahasa yang berbeda. Kata when berasal dari bahasa Inggris yang artinya “kapan”, sedangkan ya merupakan partikel dalam bahasa Indonesia untuk menyatakan persetujuan atau membenarkan sesuatu.
Secara literal kata ini berarti “kapan ya?”, tetapi dalam konteks komentar di media sosial maknanya lebih luas. Arti “when ya?” yang dituliskan pada kolom komentar biasanya selaras dengan unggahan.
Contohnya:
“When ya?” = “Kapan ya aku bisa mendapatkan sesuatu ini atau mengalami hal ini?”
Jadi, arti komentar tersebut tidak selalu meminta jawaban waktu. Akan tetapi, lebih sering mengekspresikan keinginan yang serupa dengan unggahan tersebut.
Membandingkan Diri melalui Unggahan Orang Lain
Seseorang pasti menginginkan yang terbaik untuk dirinya. Begitu juga saat mengunggah sesuatu di media sosial, seseorang akan cenderung menunjukkan pencapaian dan hal-hal baik.
Di sisi lain, media sosial membuat pengguna terus melihat pencapaian, pekerjaan, penampilan, perjalanan, gaya hidup, hubungan orang lain, dan sebagainya yang terlihat manis. Hal ini akan membuat beberapa orang merespons dengan mulai membandingkan dirinya.
Namun, ada juga yang meresponsnya dengan komentar “when ya?” sebagai bentuk rasa kagum atau manifestasi keinginannya agar suatu saat juga bisa terwujud.
“When Ya?” sebagai Bahasa Keinginan
Komentar singkat “when ya?” bukan sekadar pertanyaan singkat yang terucap spontan. Dalam kalimat singkat ini terselip keinginan dan harapan besar dari hati seseorang.
Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang ingin semua yang terbaik dalam hidupnya. Saat melihat unggahan tentang pencapaian seseorang, yang lain lanjut bertanya di dalam hatinya.
“Kapan ya giliranku?”
“Kapan ya aku ke sana?”
“Kapan ya aku bisa mendapatkan itu juga?”
“Bisa tidak ya aku jadi seperti dia?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut secara tidak langsung juga menjadi sebuah manifestasi. Melihat pencapaian orang lain akan membuat seseorang mendapatkan motivasi untuk meraih mimpinya.
Wujudkan dengan Afirmasi Positif
Memang benar, ketika melihat orang lain telah memiliki sesuatu yang kita inginkan, keinginan untuk mendapatkannya justru terasa semakin kuat. Lantas, bagaimana kita menanggapinya?
Ketika melihat unggahan tentang sesuatu yang kita inginkan, ucap kalimat-kalimat baik sebagai afirmasi positif untuk diri sendiri.
“Tunggu saja giliranku pasti akan datang.”
“Aku pasti akan segera ke sana.”
“Aku pasti akan mendapatkan itu secepatnya.”
“Aku bisa seperti dia dan aku akan berusaha.”
Afirmasi positif dapat membantu seseorang dalam membentuk pola pikir yang lebih optimis. Ia akan lebih semangat menapaki tangga-tangga kesuksesan dan mewujudkan keinginannya.
Terakhir Jangan Lupa Berusaha dan Berdoa
Keinginan tanpa usaha adalah hal yang sia-sia dan akan terlewat begitu saja. Setelah melihat pencapaian orang lain kita harus menyadari bahwa hal tersebut bisa juga kita miliki dengan berusaha karena semua orang memiliki kesempatan yang sama.
Usaha menjadi bagian dari proses seseorang untuk mewujudkan keinginan. Hanya perlu bersabar menunggu waktu yang akan membuktikan hasil dari usaha kita.
Setelah usaha panjang yang sudah kita lakukan, jangan lupa untuk berdoa kepada Tuhan karena sejatinya Tuhanlah penentu segala takdir dalam kehidupan kita.
Jangan lupa juga sisakan ruang kecewa dan belajar menerima bahwa tidak semua keinginan bisa terwujud karena mungkin itu bukan yang terbaik untuk kita. Sedangkan Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk kita.