Kolom
Salah Kaprah Tren Real Food: Makan Sehat Tak Harus ala Orang Barat
Istilah real food belakangan semakin sering muncul dalam pembahasan soal pola makan sehat. Makanan yang minim proses, tidak banyak bahan tambahan, dan masih terlihat bentuk aslinya dianggap sebagai pilihan yang lebih baik.
Masalahnya, konsep ini sering ikut diasosiasikan dengan makanan ala Barat, seolah-olah makan sehat harus hadir dalam bentuk salad, oatmeal, smoothie bowl, atau menu serupa.
Di Indonesia, makanan yang dikonsumsi sehari-hari sebenarnya sudah memenuhi karakteristik real food, tanpa perlu diberi label atau mengikuti tren healthy eating dari media sosial. Lantas, mengapa konsep yang sebenarnya dekat dengan keseharian kita justru terasa seperti tren baru?
Definisi Real Food Tak Bisa Ditelan Mentah-mentah
Menurut saya, salah satu masalah dari tren real food adalah istilah ini sering dilepaskan dari konteks yang melahirkannya. Di negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, pembahasan tentang real food banyak muncul sebagai respons terhadap tingginya konsumsi ultra processed food (UPF).
Di negara tersebut, produk kemasan dan makanan yang sudah banyak diproses sangat mudah ditemukan. Wajar jika kemudian muncul ajakan untuk kembali mengonsumsi makanan yang lebih sederhana dan minim proses.
Namun, konteks tersebut tidak bisa begitu saja dipindahkan ke Indonesia. Pola makan masyarakat di sini masih sangat dekat dengan bahan makanan yang diolah sendiri atau dimasak langsung. Sayuran, ikan, telur, tahu, tempe, daging, buah, dan berbagai bahan pangan lain masih menjadi bagian dari makanan sehari-hari.
Memang, konsumsi makanan UPF dan produk kemasan di Indonesia terus meningkat. Namun, kondisinya tetap berbeda dengan negara-negara yang lebih dulu menghadapi tingginya konsumsi makanan UPF.
Di sinilah istilah real food mulai rancu. Istilah tersebut perlahan menjadi bagian dari gaya hidup dan standar makan tertentu. Makanan yang tidak sesuai dengan kriteria itu pun berisiko dianggap tidak sehat.
Makanan Sehat Tak Harus Punya Tampilan Tertentu
Hal lain yang terasa janggal dari tren real food adalah munculnya anggapan bahwa makanan yang terlihat sederhana, bersih, dan minim bumbu sering mendapat citra lebih baik dibandingkan makanan yang kaya rempah atau memiliki cara pengolahan yang lebih beragam. Padahal, tampilan makanan tidak bisa menjadi ukuran tunggal untuk menilai kualitasnya.
Menurut saya, banyak orang terlalu sibuk mencari makanan yang dianggap sebagai real food sampai lupa melihat makanan yang memang sudah biasa dikonsumsi sehari-hari.
Sepiring nasi pecel dengan sayuran, tempe, dan telur misalnya, sudah punya karbohidrat, protein, dan serat dalam satu piring. Begitu juga banyak pilihan makanan di warteg yang terdiri dari nasi, sayur, tahu, tempe, telur, ikan, atau ayam. Makanan seperti ini mungkin tidak terlihat seperti menu healthy lifestyle di media sosial, tetapi bukan berarti gizinya otomatis kalah.
Hal yang sama juga berlaku untuk makanan rumahan. Kita bisa menemukan banyak hidangan yang dibuat dari bahan pangan sederhana dan dimasak langsung tanpa perlu menyebutnya sebagai real food.
Buat saya, di sinilah tren real food seharusnya ditempatkan. Mengurangi konsumsi UPF dan lebih memperhatikan apa yang masuk ke tubuh tentu merupakan hal baik. Namun, kita tidak perlu merasa harus mengganti makanan sehari-hari dengan menu yang sedang populer di media sosial hanya supaya bisa disebut makan sehat.
Kadang-kadang, makan dengan baik memang sesederhana memilih makanan yang sudah dekat dengan kita, tanpa perlu memberinya label baru.