Kolom

Paradoks Sampah: Sibuk Daur Ulang, Sementara Plastik Terus Diproduksi?

Paradoks Sampah: Sibuk Daur Ulang, Sementara Plastik Terus Diproduksi?
Ilustrasi Kemasan Plastik (Unsplash/@aninge)

Ada ironi besar dalam cara dunia modern membicarakan sampah plastik. Industri memproduksi jutaan ton plastik setiap tahun, memasukkannya ke dalam botol, sachet, kemasan makanan, kantong belanja, gelas sekali pakai, hingga berbagai produk rumah tangga. Setelah barang dibeli dan kemasannya menjadi sampah, konsumen kemudian diberi pesan: jangan buang sembarangan, bawa tumbler, gunakan sedotan besi, ikut bersih-bersih sungai, dan pilah sampah dari rumah. Tentu, semua itu baik. Masalahnya, mengapa tanggung jawab terbesar seolah-olah selalu berhenti di tangan konsumen?

Kita perlu melihat persoalan plastik dari hulu, bukan hanya dari tempat sampah di hilir. Kapitalisme bekerja dengan logika produksi, konsumsi, pertumbuhan pasar, dan keuntungan. Semakin banyak barang terjual, semakin besar peluang keuntungan. Dalam sistem seperti ini, kemasan menjadi bagian penting dari bisnis karena membuat produk lebih mudah disimpan, dikirim, dipasarkan, dan dikonsumsi.

Persoalannya muncul ketika kemasan tersebut hanya memiliki nilai ekonomi selama beberapa menit atau jam, tetapi dapat bertahan jauh lebih lama sebagai limbah. Sebuah botol plastik mungkin digunakan selama beberapa menit. Bungkus makanan bahkan bisa langsung dibuang setelah isinya habis. Tetapi dampak pengelolaannya tidak selesai ketika konsumen memasukkannya ke tempat sampah. Ada proses pengangkutan, pemilahan, pengolahan, daur ulang, atau pembuangan akhir. Jika sistemnya gagal, sampah berakhir di sungai, laut, saluran air, atau tempat pembuangan yang semakin penuh.

Di sinilah kampanye lingkungan terkadang menjadi paradoks. Perusahaan dapat menjual produk dalam kemasan sekali pakai dalam jumlah sangat besar, kemudian membangun citra ramah lingkungan melalui kampanye daur ulang, penanaman pohon, gerakan bersih sungai, atau ajakan membawa wadah pribadi. Konsumen membeli produk, konsumen membuang kemasan, lalu konsumen pula yang diminta merasa bersalah atas sampah.

Padahal desain produk dan kemasan bukan keputusan konsumen. Konsumen tidak menentukan apakah sebuah makanan dijual dalam satu lapis kemasan atau tiga lapis. Konsumen tidak menentukan apakah sebuah botol mudah didaur ulang atau menggunakan material campuran yang sulit diproses. Konsumen juga tidak menentukan apakah sebuah produk harus menggunakan kemasan sekali pakai.

Keputusan tersebut sebagian besar berada di tangan produsen. Daur ulang memang penting. Namun, daur ulang tidak boleh menjadi alasan untuk terus memperbanyak produksi barang sekali pakai. Kemampuan mendaur ulang memiliki batas. Tidak semua plastik dapat didaur ulang secara efektif. Sebagian mengalami penurunan kualitas, sebagian tidak memiliki nilai ekonomi yang cukup untuk dikumpulkan, dan sebagian lainnya terlalu kompleks untuk diproses.

Karena itu, solusi tidak bisa hanya berupa “daur ulang sebanyak-banyaknya”.

Yang lebih penting adalah mengurangi sampah sejak tahap desain. Produsen harus didorong membuat kemasan yang lebih sederhana, tahan digunakan kembali, mudah dipilah, mudah didaur ulang, dan memiliki sistem pengumpulan setelah produk dikonsumsi.

Di sinilah prinsip Extended Producer Responsibility (EPR) menjadi penting. Produsen tidak semestinya menganggap tanggung jawabnya selesai ketika produk berhasil terjual. Ada konsekuensi setelah produk tersebut menjadi sampah, dan konsekuensi itu harus masuk ke dalam perhitungan bisnis.

Jika sebuah perusahaan mendapatkan keuntungan dari menjual jutaan produk, biaya pengelolaan jutaan kemasannya juga semestinya tidak seluruhnya dibebankan kepada pemerintah dan masyarakat.

Konsumen tetap memiliki tanggung jawab. Jangan membuang sampah sembarangan, kurangi penggunaan barang yang tidak perlu, gunakan kembali barang yang memang bisa digunakan kembali, dan pilah sampah. Tetapi perilaku konsumen tidak boleh dijadikan alasan untuk membebaskan produsen dari tanggung jawab struktural. Sebab, persoalan plastik bukan hanya persoalan orang yang membuang sampah. Ini adalah persoalan bagaimana sistem produksi menciptakan barang, bagaimana barang itu dikemas, bagaimana barang dipasarkan, dan siapa yang menanggung konsekuensinya setelah barang kehilangan nilai ekonominya.

Jangan sampai kita hidup dalam sistem yang menghasilkan gunung plastik, kemudian menjual sedotan besi sebagai solusi individual. Kita tidak membutuhkan konsumen yang terus-menerus merasa bersalah. Kita membutuhkan sistem produksi yang sejak awal lebih bertanggung jawab. Sebab lingkungan tidak membutuhkan lebih banyak kampanye untuk membersihkan akibat. Lingkungan membutuhkan keberanian untuk mengurangi sumber masalahnya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda