News
Masih Pakai Piring Plastik Penuh Goresan? Hati-hati, Ini Bahaya Tersembunyinya
Ada satu kebiasaan yang kelihatannya sepele, tetapi sangat umum dilakukan di rumah. Menggunakan piring, gelas, sendok, garpu, atau wadah plastik selama mungkin sampai kondisinya sudah berubah warna, penuh goresan, kusam, atau permukaannya mulai terasa berbeda. Alasannya sesederhana karena masih bisa dipakai. Masalahnya, layak dipakai tidak selalu berarti ideal untuk terus digunakan.
Peralatan makan berbahan plastik memang tidak otomatis berbahaya hanya karena sudah lama digunakan. Namun, plastik dapat mengalami keausan akibat penggunaan berulang, terutama ketika terus-menerus dicuci, digosok, terkena panas, atau digunakan untuk makanan tertentu. Goresan yang semakin banyak juga membuat permukaannya lebih sulit dibersihkan secara optimal.
Karena itu, mengganti peralatan makan plastik seharusnya tidak selalu menunggu sampai benda tersebut benar-benar pecah atau tidak bisa digunakan lagi.
Ada masa ketika sebuah barang perlu dipensiunkan sebelum menjadi sampah yang terlihat jelas. Piring plastik, misalnya, sering digunakan untuk makanan panas. Gelas plastik mungkin berkali-kali dicuci. Wadah makanan dimasukkan ke kulkas, dipanaskan, dicuci, lalu digunakan kembali. Siklus tersebut terjadi berulang-ulang selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Padahal, tidak semua produk plastik dirancang untuk menghadapi kondisi penggunaan yang sama. Yang perlu diperhatikan bukan hanya usia barang, tetapi juga kondisinya dan petunjuk penggunaan dari produsennya. Plastik yang memang dirancang untuk kontak dengan makanan dan digunakan sesuai petunjuk tentu berbeda dengan plastik yang tidak ditujukan untuk makanan panas atau pemanasan.
Kebiasaan asal masih utuh juga perlu dikoreksi. Peralatan makan yang sudah retak, terkelupas, berubah bentuk karena panas, memiliki goresan dalam, atau permukaannya semakin sulit dibersihkan sebaiknya dipertimbangkan untuk diganti. Bukan karena setiap perubahan tersebut otomatis berarti racun akan masuk ke tubuh, tetapi karena kondisi fisiknya menunjukkan bahwa barang tersebut sudah mengalami keausan.
Terlebih lagi, kita sering tidak sadar bahwa peralatan makan plastik menerima perlakuan yang cukup keras. Spons kasar digunakan untuk menggosok. Air panas digunakan untuk mencuci. Sebagian dimasukkan ke mesin pencuci piring. Sebagian lainnya dipakai untuk makanan berminyak atau sangat panas. Wadah tertentu bahkan dipanaskan berulang kali.
Semakin sering digunakan, semakin penting membaca label dan petunjuk penggunaan. Khusus untuk wadah plastik yang digunakan menyimpan atau memanaskan makanan, jangan menganggap semua plastik memiliki fungsi yang sama. Simbol pada bagian bawah wadah dan informasi produsen dapat membantu menentukan apakah produk memang dirancang untuk penggunaan tertentu. Dan satu hal yang tidak kalah penting: jangan menggunakan wadah sekali pakai secara terus-menerus hanya karena bentuknya masih bagus.
Wadah yang memang dirancang untuk sekali pakai tidak otomatis berubah menjadi wadah penyimpanan jangka panjang hanya karena kita mencucinya. Namun, mengganti peralatan makan juga bukan berarti kita harus menjadi boros dan membuang semua plastik di dapur setiap beberapa bulan.
Justru sebaliknya. Kita perlu belajar membedakan antara mengganti karena sudah aus dan membuang karena bosan. Jika sebuah peralatan masih dalam kondisi baik dan memang dirancang untuk penggunaan berulang, tidak ada alasan menggantinya hanya karena sudah lama. Tetapi jika sudah retak, tergores parah, berubah bentuk, atau tidak lagi sesuai dengan fungsi yang dirancang, jangan mempertahankannya hanya demi menghemat beberapa rupiah.
Pada akhirnya, peralatan makan adalah benda yang bersentuhan langsung dengan sesuatu yang kita konsumsi. Kita begitu teliti memilih bahan makanan, mencuci sayuran, mengecek tanggal kedaluwarsa, bahkan memperhatikan kebersihan dapur. Tetapi jangan sampai piring dan gelas yang menjadi perantara makanan justru dianggap tidak penting.
Bukan berarti semua plastik lama harus dicurigai. Bukan pula berarti plastik selalu berbahaya. Yang perlu dibangun adalah kebiasaan menggunakan peralatan sesuai peruntukannya dan menggantinya ketika sudah menunjukkan tanda-tanda keausan. Sebab merawat barang bukan berarti memaksanya bertahan selamanya.
Ada saatnya barang harus digunakan. Ada saatnya barang harus dirawat. Dan ada saatnya barang harus diganti. Jangan menunggu piring plastik pecah di tangan baru sadar bahwa masa pakainya sudah selesai.