Kolom

Soft Life In This Economy: Bisakah Tenang di Tengah Biaya Hidup Meningkat?

Soft Life In This Economy: Bisakah Tenang di Tengah Biaya Hidup Meningkat?
ilustrasi hidup yang tenang (Pexels/Min An)

Belakangan, istilah soft life semakin sering muncul di media sosial dan populer di kalangan Gen Z. Namun, bisakah hidup tenang diwujudkan ketika biaya hidup terus meningkat dan tuntutan semakin besar?

Media sosial menyuguhkan gambaran yang hampir selalu terlihat menyenangkan: bangun tanpa alarm, bekerja secukupnya, menikmati kopi di tempat nyaman, bisa me time, dan tidak terlalu memikirkan hal-hal yang memicu stres. Sekilas, soft life terdengar seperti impian hidup yang sangat masuk akal. Siapa yang tidak ingin menjalani hidup dengan tenang? Hanya saja, ada satu masalah yang sering luput dari konten media sosial: hidup membutuhkan biaya.

Di tengah harga kebutuhan yang meningkat, biaya pendidikan, transportasi, tempat tinggal, hingga kebutuhan sehari-hari yang semakin mahal, keinginan untuk menjalani soft life terkadang justru terasa seperti kemewahan.

Soft Life Bukan Sekadar Estetika

Menurut saya, salah satu kesalahpahaman terbesar tentang soft life adalah ketika konsep ini hanya diterjemahkan sebagai kehidupan yang cantik dan nyaman. Soft life seharusnya dimaknai sebagai keinginan untuk menjalani hidup tanpa tekanan terus-menerus.

Ada keinginan untuk memiliki batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, punya waktu istirahat, menjaga kesehatan, serta tidak menjadikan kesibukan sebagai ukuran keberhasilan. Masalahnya, media sosial sering membuat soft life terlihat identik dengan konsumsi.

Staycation, brunch, skincare mahal, traveling, membeli barang yang sedang tren, atau bekerja dari kafe memang bisa menjadi bagian dari gaya hidup. Namun, jika sampai harus mempertaruhkan kondisi keuangan, apakah itu masih bisa disebut hidup tenang?

Ketika Biaya Hidup Tidak Ikut “Soft

Di sinilah realita mulai berbicara. Kita mungkin ingin bekerja lebih sedikit, tapi kebutuhan hidup tidak otomatis ikut berkurang. Makan tetap membutuhkan uang. Tagihan datang setiap bulan tanpa peduli apakah kita sedang ingin menjalani “soft life” atau tidak.

Bagi sebagian orang, bekerja lembur bukan karena ambisi mengejar karier, melainkan kebutuhan tambahan pemasukan. Dalam kondisi seperti ini, mengatakan “jangan terlalu memaksakan diri” terdengar mudah. Namun, bagaimana jika seseorang memang sedang berusaha bertahan? Karena itu, menurut saya, pembahasan soft life perlu lebih realistis. Tidak semua orang memiliki privilege yang sama untuk memilih hidup dengan ritme yang lebih lambat.

Soft Life Bisa Dimulai dari Hal yang Sederhana

Meski begitu, bukan berarti kita harus menyerah pada kehidupan yang penuh tekanan. Soft life sebenarnya tidak selalu harus mahal, kok. Bukankah ritme hidup kita sendiri yang bisa mengaturnya?

Mematikan notifikasi pekerjaan setelah jam kerja, tidur cukup, menikmati family time, berjalan kaki sore hari, membaca buku, menolak ajakan yang tidak perlu, atau sekadar memberikan waktu untuk beristirahat juga merupakan bentuk menciptakan kehidupan yang lebih tenang.

Bahkan, mengatur keuangan dengan lebih bijak bisa menjadi bagian dari soft life, lho. Alih-alih mengejar gaya hidup yang terlihat mewah, mungkin kita bisa mulai mengejar financial peace. Memiliki dana darurat, mengurangi pembelian impulsif, memahami kebutuhan dan keinginan, serta tidak memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang lain justru akan memberikan rasa aman yang lebih panjang.

Bukan Hidup Tanpa Masalah, tapi Hidup yang Lebih Terkendali

Pada akhirnya, saya melihat soft life bukan sebagai kehidupan tanpa masalah. Hidup tenang bukan berarti tidak pernah stres, tidak pernah bekerja keras, bisa selalu santai dan menikmati waktu, atau selalu punya uang lebih. Soft life mungkin justru tentang kemampuan menentukan mana yang benar-benar penting dan mana yang sebenarnya hanya tekanan dari lingkungan maupun media sosial. Kita tidak harus memiliki kehidupan sempurna untuk merasa cukup.

Di tengah biaya hidup yang meningkat, mungkin definisi soft life perlu diubah. Bukan lagi tentang siapa yang paling sering traveling atau punya rutinitas paling estetik, tapi siapa yang mampu menciptakan ruang untuk bernapas tanpa terus merasa tertinggal. Karena pada akhirnya, hidup tenang bukan tentang memiliki semuanya. Bisa jadi, hidup tenang adalah ketika kita tahu apa yang benar-benar kita butuhkan dan berhenti memaksakan diri memiliki hal-hal yang tidak mampu kita bayar.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda