Kolom

Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?

Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?
Ilustrasi merawat diri (Pexels/Antoni Shkraba)

Tren skincare berlapis dan beauty spending membuat self-care semakin populer di kalangan Gen Z. Skincare routine pun jadi tuntutan gaya hidup. Tanpa sadar, aktivitas merawat diri berubah menjadi konsumerisme?

Self-care awalnya terdengar sederhana. Tidur cukup, makan dengan baik, beristirahat ketika lelah, atau melakukan sesuatu yang membuat diri merasa lebih nyaman. Namun, kini makna self-care semakin sering dikaitkan dengan produk kecantikan.

Skincare berlapis, serum dengan berbagai kandungan, masker wajah, body care, hingga produk kecantikan terbaru seolah menjadi bagian dari rutinitas wajib. Pada akhirnya, self-care perlahan berubah menjadi alasan untuk terus belanja.

Apalagi media sosial membuat kita setiap hari berhadapan dengan rekomendasi produk, ulasan influencer, hingga tren kecantikan. Pada titik tertentu, pertanyaannya bukan lagi "Apa yang dibutuhkan kulit saya?", tapi "Produk apa lagi yang belum saya punya?"

Skincare Berlapis dan Ilusi Harus Punya Banyak Produk

Tren skincare berlapis atau layering sebenarnya bisa memberikan pengalaman menyenangkan. Menggunakan produk secara bertahap juga bisa menjadi ritual efektif merawat diri.

Akan tetapi, tren tersebut terkadang menciptakan anggapan kalau semakin banyak produk berarti semakin baik hasilnya. Padahal, kebutuhan kulit setiap orang berbeda.

Tidak semua orang membutuhkan rutinitas panjang dengan banyak serum, toner, essence, masker, dan berbagai produk tambahan. Rutinitas sederhana yang konsisten bisa saja sudah cukup bagi seseorang.

Masalahnya, media sosial sering membuat rutinitas sederhana terlihat kurang menarik. Saat melihat rak penuh produk kecantikan milik orang lain, muncul perasaan bahwa rutinitas pribadi juga harus mengikuti standar yang sama.

Beauty Spending: Ketika Belanja Terasa Seperti Self-Care

Beauty spending menjadi salah satu fenomena yang menarik. Membeli lipstik baru, mencoba skincare yang sedang viral, atau mendapatkan produk edisi terbatas memang bisa memberikan rasa senang.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan membeli sesuatu yang memang kita inginkan dan mampu kita beli. Hanya saja, perlu dibedakan antara membeli karena membutuhkan dan membeli karena merasa harus mengikuti tren.

Ketika setiap rasa bosan, stres, atau tidak percaya diri diselesaikan dengan keranjang belanja, self-care bisa berubah menjadi pola konsumsi. Kita merasa sedang "merawat diri", padahal mungkin hanya sedang mencari kepuasan sesaat dari aktivitas belanja.

Media Sosial Membuat Beauty Routine Terlihat Seperti Standar

Menurut saya, media sosial memiliki peran besar dalam perubahan ini. Konten get ready with me, skincare routine, dan video rekomendasi produk membuat dunia kecantikan terasa semakin dekat.

Di satu sisi, hal tersebut positif karena konsumen mendapatkan informasi lebih banyak. Namun, di sisi lain, paparan terus-menerus berpotensi membuat kebutuhan terasa lebih banyak daripada sebenarnya.

Berawal dari mengenal masalah kulit tertentu, kemudian muncul produk yang diklaim mampu mengatasinya. Siklusnya sederhana: merasa kurang, melihat rekomendasi, membeli, merasa senang. muncul tren baru, lalu merasa kurang lagi.

Tanpa disadari, tahapan tersebut bisa membuat pengeluaran untuk kebutuhan kecantikan dan perawatan diri semakin besar saat kita terus terbawa dalam siklus yang seolah tidak ada hentinya.

Self-Care Tidak Harus Selalu Berupa Produk

Mungkin sudah waktunya kita mengembalikan makna self-care pada sesuatu yang lebih luas. Self-care bisa berarti tidur lebih awal, berhenti bekerja saat sudah lelah, atau sekadar menikmati waktu tanpa melakukan apa pun.

Bahkan, tidak membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan juga bisa menjadi bentuk self-care, terutama jika keputusan tersebut membuat kondisi keuangan lebih sehat. Jangan sampai kita merasa bersalah karena tidak memiliki produk terbaru.

Dari "Harus Punya" Menjadi "Benar-benar Butuh"

Menurut saya, persoalan utamanya bukan pada skincare, makeup, atau beauty spending. Kita tetap boleh menikmati dunia kecantikan. Membeli produk yang membuat kita senang juga bukan sesuatu yang perlu dianggap buruk.

Yang perlu diperhatikan adalah alasan di balik pembelian tersebut. Sebelum memasukkan produk ke keranjang, mungkin kita bisa bertanya: Apakah saya benar-benar membutuhkannya? Apakah saya membeli karena ingin atau takut ketinggalan tren?

Pertanyaan sederhana tersebut bisa membantu memisahkan self-care dari konsumerisme hingga merawat diri bukan tentang seberapa banyak produk yang kita miliki, atau malah membuat kita terus merasa kurang.

Sebab kulit tidak pernah meminta kita untuk mengikuti semua tren. Kadang, yang perlu dirawat bukan hanya wajah, tapi juga cara kita memperlakukan uang, waktu, dan diri sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda