Kolom

Kapan Nikah? Bukan Sekadar Basa-basi, Melainkan Beban Ekspektasi Tak Kasat Mata

Kapan Nikah? Bukan Sekadar Basa-basi, Melainkan Beban Ekspektasi Tak Kasat Mata
ilustrasi pasangan menikah (Pexels/Trung Nguyen)

Saya tidak tahu sejak kapan pertanyaan “kapan nikah?” terasa lebih seperti tekanan daripada sekadar basa-basi. Awalnya terdengar ringan, bahkan kadang diucapkan dengan nada bercanda. Tapi semakin sering didengar, semakin terasa berat.

Karena di balik dua kata itu, ada ekspektasi yang tidak sederhana. Dan sebagai perempuan, saya sering merasa pertanyaan itu bukan sekadar ingin tahu—tapi seperti pengingat kalau ada “timeline” yang harus dikejar.

Pertanyaan yang Selalu Muncul di Momen yang Sama

Ada pola yang hampir selalu berulang. Acara keluarga, kumpul teman lama, bahkan percakapan santai yang tiba-tiba berubah arah. Dan tanpa aba-aba, pertanyaan itu muncul. “Kapan nikah?”

Kadang diikuti dengan senyum. Kadang dengan candaan. Tapi tetap saja, rasanya seperti sorotan yang tiba-tiba mengarah pada perempuan lajang yang dianggap sudah cukup usia untuk segera menikah seolah hidup bisa diringkas hanya dengan satu pertanyaan itu.

Ada Batas Waktu yang Tak Tertulis

Yang membuat pertanyaan ini terasa menekan adalah adanya kesan jika waktu terus berjalan dan harus segera dikejar. Seolah ada standar usia yang tidak pernah benar-benar disebutkan, tapi selalu terasa.

Jika “terlalu cepat”, dianggap belum siap. Jika “terlalu lama”, dianggap ada yang salah. Kita mungkin pernah berada di titik mempertanyakan diri sendiri hanya karena belum berada di tahap yang dianggap “seharusnya”. Padahal, setiap orang punya jalan hidup yang berbeda.

Perempuan Lebih Sering Ditanya, Lebih Sering Ditekan

Hal yang tidak bisa saya abaikan adalah pertanyaan ini lebih sering diarahkan ke perempuan. Seolah-olah, status pernikahan menjadi salah satu tolok ukur utama dalam hidup perempuan.

Saya jarang melihat laki-laki mendapat tekanan yang sama dengan intensitas yang sama. Dan ini membuat saya bertanya: kenapa standar ini terasa tidak seimbang?

Antara Pilihan dan Ekspektasi Sosial

Bukan menolak pernikahan, saya hanya beranggapan keputusan itu adalah pilihan yang indah jika dijalani dengan kesiapan. Tapi masalahnya, sering kali pernikahan tidak lagi dilihat sebagai pilihan, melainkan sebagai kewajiban.

Seolah-olah, jika belum menikah, ada bagian hidup yang belum “lengkap”. Dan itu yang membuat banyak orang, terutama perempuan, merasa tertekan. Padahal keputusan besar seperti ini seharusnya datang dari kesiapan, bukan dari dorongan luar.

Dampak yang Tidak Selalu Terlihat

Mungkin bagi yang bertanya, ini hanya pertanyaan ringan. Tapi bagi yang menerima, dampaknya bisa lebih dalam. Saya pernah merasa tertinggal dibandingkan orang lain hanya karena belum menikah.
Pernah.

Bahkan sempat mempertanyakan arah hidup sendiri. Dan semua itu berawal dari pertanyaan yang terlihat sederhana. Orang yang bertanya bahkan mungkin mengira ini pertanyaan standar yang tidak berdampak apa-apa.

Belajar Menjawab dengan Cara Sendiri

Tampaknya, belajar untuk merespons pertanyaan itu dengan lebih tenang akan menjadi solusi terbaik. Tidak selalu harus defensif. Tidak selalu harus menjelaskan panjang lebar. Kadang cukup dengan jawaban sederhana atau dengan senyum.

Karena bisa jadi tidak semua orang bertanya dengan maksud menekan. Ada yang sekadar tidak menyadari dampaknya. Tapi yang lebih penting adalah mulai mengubah cara melihat pertanyaan itu. Bukan lagi sebagai tekanan, tapi pengingat bahwa kita punya kendali atas hidup kita sendiri.

Menentukan Waktu Tanpa Tekanan

Mungkin ada baiknya mengubah mindset dengan mulai menerima bahwa tidak ada timeline yang benar-benar universal untuk menikah. Apa yang tepat untuk orang lain, belum tentu tepat untuk kita.

Tidak ada yang salah dengan keputusan dan timeline yang dibuat. Cukup dengan menjalani hidup dengan kesadaran, bukan dengan terburu-buru hanya karena ekspektasi sosial. Karena pada akhirnya, pernikahan bukan tentang kapan tapi tentang kesiapan.

“Kapan nikah?”: Pertanyaan Klasik yang Tidak Pernah Benar-benar Hilang

“Kapan nikah?” mungkin akan selalu menjadi pertanyaan yang muncul dan mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang. Tapi kita semua belajar satu hal: kita tidak harus menjadikan pertanyaan itu sebagai beban.

Karena hidup bukan perlombaan dan kebahagiaan pribadi tidak ditentukan oleh seberapa cepat kamu mencapai apa yang orang lain anggap penting. Kita semua akan sampai di titik itu—jika memang waktunya sudah tepat. Bukan karena ditanya, tapi karena kamu sudah memilih.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda