Kolom
Side Hustle Kini Jadi Tren: Solusi Finansial atau Malah Bikin Kewalahan?
Sudah kerja dari pagi sampai sore, begitu sampai di rumah bukannya istirahat malah buka laptop dan lanjut kerja sampingan sampai malam. Pola yang sama diulang setiap hari. Weekday maupun weekend nggak ada bedanya. Seolah semua waktu yang dimiliki hanya dihabiskan untuk bekerja, bekerja, dan bekerja.
Tentu, rasanya sangat melelahkan. Namun, bagi banyak orang yang pekerjaan utama saja belum terasa cukup untuk memenuhi kebutuhan, hal semacam itu sudah menjadi rutinitas yang memang perlu dilakukan demi memperoleh penghasilan tambahan.
Bukan tanpa alasan mengapa kini semakin banyak anak muda yang tertarik untuk memiliki pekerjaan sampingan. Kebutuhan yang semakin beragam, biaya hidup yang terus meningkat, hingga keinginan untuk mencapai tujuan finansial tertentu menjadi beberapa faktornya.
Di tengah semua tren dan perkembangan teknologi yang kian pesat, banyak generasi muda yang kini semakin kreatif dalam memilih pekerjaan sampingan yang mereka jalani di luar job utamanya. Ada yang mulai merintis karier sebagai content creator, berjualan secara online dengan sistem affiliate maupun dropship, membuka usaha makanan kecil-kecilan, hingga menawarkan berbagai jasa, seperti jasa foto dan video, jasa teman nongkrong dan traveling, jasa antarjemput, hingga jasa bersih-bersih rumah.
Saya akui tidak ada yang salah dengan memiliki dua, tiga, atau bahkan empat pekerjaan sekaligus. Dan memang tak bisa dipungkiri jika punya side hustle sangat membantu menambah pemasukan ketika pekerjaan utama belum cukup dijadikan sebagai satu-satunya sumber penghasilan. Bahkan tidak jarang anak muda yang bisa mencapai target finansialnya melalui berbagai pekerjaan sampingan yang ia lakoni setiap hari. Selain itu, di tengah tren produktivitas yang banyak bermunculan di media sosial, side hustle juga terasa seperti kesempatan memanfaatkan skill atau waktu luang yang kita miliki.
Sayangnya, realitas yang harus dialami oleh orang-orang yang memiliki banyak pekerjaan bukan hanya berkaitan dengan tambahan penghasilan saja. Lebih dari itu, tetap ada harga yang harus dibayar. Mulai dari tubuh yang kadang merasa muak dan kewalahan menghadapi semuanya, hingga waktu istirahat yang harus dikorbankan. Hobi yang sebelumnya bisa dinikmati, tak jarang juga harus tersingkirkan dari kehidupan yang dijalani. Jam kerja yang awalnya teratur bisa terasa seperti tidak lagi punya batas yang jelas. Hingga pada akhirnya, side hustle yang semula dianggap sebagai solusi finansial berubah jadi tekanan yang tak bisa dielakkan.
Seperti yang saya singgung sebelumnya, sebetulnya nggak masalah bagi kita memiliki pekerjaan sampingan apapun selagi kita mampu menjalaninya. Namun, yang perlu menjadi perhatian di sini adalah tidak semua orang memiliki kapasitas energi yang sama. Ada orang yang mampu menjalani banyak pekerjaan sekaligus, tapi ada pula yang sudah merasa kehabisan energi setelah menjalani satu atau dua pekerjaan saja.
Oleh karena itu, ketika kita berpikir untuk menambah pekerjaan, mungkin sebaiknya kita pikirkan juga konsekuensi yang turut menyertainya. Dengan bertambahnya sumber penghasilan, uang yang kita miliki memang akan bertambah. Namun, harga yang harus dikorbankan untuk memperoleh hal itu seharusnya juga menjadi bahan pertimbangan sebelum membuat keputusan.
Memilih menjalani pekerjaan sampingan pun tidak seharusnya membuat kita merasa harus selalu mengubah setiap waktu yang kita miliki menjadi sumber penghasilan. Di titik inilah, kita mungkin perlu kembali merenungkan satu pertanyaan ini. Kalau kita mengambil pekerjaan tambahan demi membuat hidup lebih nyaman, tetapi pekerjaan itu justru membuat kita tidak punya waktu untuk menikmati hidup, sebenarnya apa yang sedang kita kejar?
Side hustle bisa menjadi solusi finansial selama masih berada dalam kapasitas yang mampu kita jalani. Dan dalam prosesnya pun, kita juga tetap perlu untuk menjaga diri agar tetap waras dan tidak merasa kewalahan karenanya.