Kolom

Kultus Mi Instan: Mengurai Sejarah Politik Pangan Indonesia

Kultus Mi Instan: Mengurai Sejarah Politik Pangan Indonesia
Semangkuk Mie Instan yang masih mengepul panas beserta sumpit, tersaji di atas meja. (Foto: Pexels/Kampus Production)

Tengah malam adalah waktu paling berbahaya untuk mengambil keputusan soal makan. Saat perut mulai berdemonstrasi menuntut haknya, otak biasanya langsung menyerah kalah. Sebungkus mi instan mendadak menjelma jadi jawaban paling jenius atas segala persoalan. Hanya butuh waktu lima menit untuk memasaknya, dan akal sehat kita seketika kalah oleh aroma kuah mi instan.

Kelucuan kecil di jam kalong ini sebenarnya menyimpan fenomena sosial yang dahsyat. Mi instan sudah begitu menyatu dengan lambung orang Indonesia, sampai-sampai produk pabrikan ini terasa seperti warisan budaya leluhur. Tengok saja variannya, ada rasa soto, rendang, hingga ayam bawang. Ironisnya, meski bahan baku gandumnya seratus persen hasil impor, mi oinstan telah sukses dinasionalisasi oleh lidah lokal kita.

Sosiolog Michaela DeSoucey punya istilah mentereng untuk urusan ini: “Gastronationalism” (2010). Intinya, beliau ini menjelaskan bagaimana makanan bisa dipakai untuk membangun identitas nasional lewat jalur produksi, iklan, dan klaim keaslian rasa. Melalui kacamata ini, sebungkus mi instan dimaknai simbol identitas kolektif yang secara sadar atau tidak, ikut merawat rasa nasionalisme kita sehari-hari.

Indomie yang lahir sejak 1982 adalah bukti sahih bagaimana lidah kita sukses dijinakkan oleh mi instan. Produk lokal yang kini mendunia ini paling jago urusan PDKT dengan selera kita. Paling baru di akhir Desember 2025 kemarin, mereka bahkan merilis varian mi nyemek ala Jogja rasa rendang. Bayangkan, tradisi kuliner Jawa dan Sumatera dilebur jadi satu dalam bungkus plastik, lalu siap dinikmati hanya dalam waktu tiga menit. 

Namun, di sebalik isi mangkuk mie yang terasa sangat lokal itu, kita bakal menemukan fakta bahwa gandum adalah biang kerok utamanya. Tanaman ini aslinya bukan tanaman asli tanah kita, bahkan Kementerian Perdagangan mencatat kita harus mengimpornya 100 persen. Data tersebut menunjukkan, dalam kurun waktu sepuluh bulan saja pada tahun 2023, Indonesia mendatangkan tak kurang dari 8,85 juta ton gandum dari luar negeri demi menjaga perut kita tetap aman. 

Urusan gandum ini sebetulnya punya silsilah panjang dalam sejarah kita. Penelitian Gita Margareta Tjim (2025) mencatat bahwa semuanya bermula sejak era 1950-an lewat program bantuan pangan Amerika Serikat bernama PL-480. Kisah ini menjadi bukti sahih bahwa sejarah isi piring kita ternyata tidak sesederhana cara memasaknya yang cuma butuh waktu tiga menit. 

Memasuki zaman Orde Baru, urusan gandum ini mendadak bermutasi jadi industri raksasa. Kajian sejarawan Dian Octaviani yang termuat di Jurnal Lembaran Sejarah (2025) menyebutkan bagaimana Bogasari resmi berdiri pada 1969 sebagai mesin penggiling utama, sementara BULOG bertindak sebagai komandan yang mengomandoi impor dan distribusinya. Kerja sama apik ini sukses menyulap tepung impor menjadi bahan pangan massal yang murah meriah dan ramah di kantong. 

Jadi, kesimpulan sederhananya. Di balik kelezatan sebungkus mi instan yang kita santap dengan lahap saat kelaparan melanda, ada sejarah panjang geopolitik dunia dan relasi kekuasaan yang ikut larut bersama gurihnya kuah kaldu.

Ini fakta bahwa urusan perut kita hari ini memang sudah terlanjur kepincut pada tepung. Data Badan Pangan Nasional tahun 2025 mencatat konsumsi terigu kita tembus 14,8 kg per kapita, sukses menyalip singkong yang cuma 10,9 kg, ubi jalar 4 kg, dan sagu yang merana di angka 0,3 kg. Pemerintah sendiri pusing tujuh keliling karena diversifikasi pangan lokal selalu mentok di urusan gengsi, atau simpelnya pangan lokal kita masih sering dianggap kalah keren ketimbang makanan berbasis terigu. 

Tentu saja, mi instan tidak perlu kita jadikan musuh bersama. Ia murah, praktis, enak, dan sudah jadi dewa penolong jutaan lambung yang kelaparan. Yang agak mengkhawatirkan itu kalau satu selera sudah terlalu dominan, sampai-sampai kita lupa kalau bumi Indonesia ini punya gudang pangan melimpah ruah daripada sekadar rak pajangan di minimarket. 

Sebab, yang namanya kedaulatan pangan juga soal kemandirian bangsa untuk menentukan apa yang mau ditanam di sawah, dimakan di meja, diwariskan ke anak cucu, dan dianggap sebagai makanan yang layak dibanggakan dengan kepala tegak. 

Jadi malam ini, silakan lanjut makan mi instannya. Tambahkan telur ceplok kalau kebetulan dompet lagi ada isi lebih. Namun setelah kenyang dan sendawa, ada baiknya kita sadar bahwa selera lidah kita ini ternyata punya sejarah. Dan sejarah, persis seperti mi instan, sering kali datang dalam bungkusan plastik yang kelihatannya sangat sederhana.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda