Lifestyle
Ramai Isu Book Shaming: Saatnya Pembaca Bedakan Kritik Karya dengan Hinaan
Di media sosial, pilihan bacaan terkadang masih sering dijadikan tolok ukur untuk menilai kecerdasan seseorang. Pembaca novel romance, fiksi populer, atau buku yang diadaptasi dari Wattpad tidak jarang dicap memiliki selera yang kurang bermutu. Fenomena perdebatan inilah yang kemudian membuat istilah book shaming semakin ramai dibicarakan.
Book shaming sendiri merupakan tindakan mempermalukan atau merendahkan seseorang berdasarkan buku atau genre yang mereka baca. Istilah ini hadir untuk memperjelas batasannya. Fokus utamanya terletak pada sasaran apakah kritik tersebut mengulas kualitas karyanya, atau justru menyerang pribadi orang yang menikmatinya?
Jika dibedah lebih dalam, persoalan selera membaca ini erat kaitannya dengan dimensi sosial. Dalam penelitian “Hyper-Elitism in Writing Literary Criticisms” (2018), Syed Mahmudur Rahman mengkritik kecenderungan kritik sastra yang terlalu elitis sehingga sulit dijangkau pembaca umum.
Kecenderungan menyerang personal ini juga sejalan dengan konsep kekeliruan berpikir ad hominem dari Purdue Online Writing Lab, yaitu situasi ketika seseorang menyerang pribadi lawan bicara alih-alih menanggapi argumennya. Berdasarkan beberapa rujukan tersebut, terdapat beberapa patokan praktis yang bisa digunakan untuk membedakan antara kritik karya yang sehat dan tindakan merendahkan pembaca.
Periksa Sasaran Komentar
Kritik terhadap karya yang sehat fokus membahas unsur-unsur yang bisa ditelaah, seperti alur, penokohan, gaya bahasa, struktur argumentasi, atau nilai yang dibawa oleh buku tersebut. Seseorang tentu boleh saja menilai sebuah novel memiliki konflik yang klise atau karakter yang kurang berkembang, asalkan penilaian itu disertai dengan alasan yang logis.
Sebaliknya, komentar seperti “pembaca novel itu bodoh” jelas sudah keluar dari pembahasan karya. Kalimat semacam itu langsung menyerang pribadi seseorang hanya berdasarkan pilihan bacaannya. Dalam kajian logika, pola ini disebut sebagai kekeliruan berpikir ad hominem, yaitu menyerang personal alih-alih menilai esensi dari karya yang sedang dibahas.
Bedakan Penilaian Karya dari Penghakiman Selera
Menyebut sebuah buku memiliki kelemahan secara sastra tetap sah sebagai sebuah penilaian, asalkan indikator dan alasannya jelas. Akan tetapi, menggeneralisasi bahwa semua orang yang menyukai genre tertentu tidak berkelas sudah masuk ke ranah penghakiman terhadap selera pembaca.
Sosiolog Will Atkinson dalam penelitiannya, “The Structure of Literary Taste: Class, Gender and Reading in the UK” (2016), menjelaskan bahwa selera sastra erat kaitannya dengan kelas sosial, gender, modal budaya, dan dominasi simbolik.
Temuan ini membantu kita memahami bagaimana sebuah selera bisa mendapatkan status yang dianggap lebih tinggi, yang kemudian sering digunakan untuk membeda-bedakan kelompok pembaca.
Lihat Apakah Kritik Disertai Alasan
Kritik yang bertanggung jawab idealnya menunjuk langsung ke bagian buku tertentu dan menjelaskan letak persoalannya. Sebagai contoh, alur cerita dirasa terburu-buru karena konflik selesai tanpa adanya perkembangan karakter yang memadai. Dari sini, pembaca lain pun bisa berdiskusi secara sehat atau menyanggah penilaian tersebut dengan menunjukkan bagian cerita yang berbeda.
Di sisi lain, ucapan seperti “buku ini sampah” tanpa penjelasan tambahan memang belum tentu menghina pembacanya, tapi komentar singkat tersebut jelas belum bisa dikategorikan sebagai kritik yang kuat. Sebuah ketajaman penilaian tetap perlu ditopang oleh argumen yang jelas, bukan sekadar pelabelan.
Waspadai Generalisasi terhadap Pembaca
Satu novel yang dirasa kurang bagus tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh genrenya buruk. Begitu pula sebaliknya, seorang pembaca yang menyukai cerita ringan tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai kecerdasan atau kualitas berpikir seluruh penikmat genre tersebut.
Purdue Online Writing Lab menjelaskan bahwa ad hominem adalah serangan terhadap karakter seseorang, bukan pemeriksaan atas argumennya. Prinsip ini membantu kita melihat batasan bahwa kritik boleh saja disampaikan secara tegas terhadap isi buku, namun pilihan bacaan seseorang tidak semestinya dijadikan dasar untuk memvonis kepribadian atau martabatnya.
Kendati demikian, perbedaan pendapat mengenai kualitas sebuah buku adalah bagian yang wajar dari diskusi intelektual, karena buku bukanlah benda sakral yang kebal dari penilaian. Menganggap kritik terhadap plot sebagai tindakan book shaming hanya karena penulis atau pembacanya merasa tersinggung justru berisiko menutup ruang diskusi yang sehat.
Sebaliknya, kebebasan mengkritik juga bukan berarti lampu hijau untuk merendahkan orang lain. Kita tidak harus selalu membela semua buku yang dibaca seseorang. Hal yang perlu kita jaga bersama adalah memastikan kritik tersebut tetap fokus membahas karya, bukan menghina pembacanya.