Kolom
Mau Bagaimanapun, Mindfulness Tidak Bisa Memperbaiki Dunia yang Membuat Kita Cemas
Ada yang terasa janggal dalam cara kita membicarakan kesehatan mental hari ini. Ketika seseorang cemas karena biaya hidup meningkat, pekerjaan tidak pasti, beban keluarga bertambah, atau masa depan terasa semakin sulit diprediksi, jawaban yang muncul sering kali sangat personal: coba mindfulness, journaling, meditasi, self-care, kurangi overthinking, belajar menerima keadaan. Semua itu tidak salah.
Bahkan, kemampuan mengelola stres memang penting. WHO menjelaskan bahwa stres adalah respons alami ketika manusia menghadapi situasi sulit, dan belajar mengelolanya dapat membantu menjaga kesejahteraan mental maupun fisik. Tetapi ada masalah ketika seluruh persoalan berhenti di sana. Kita seolah-olah mengatakan kepada orang yang sedang tenggelam, “Belajarlah bernapas dengan tenang,” tanpa pernah bertanya mengapa ia terus-menerus ditempatkan di dalam air. Di sinilah kritik terhadap budaya self-care perlu dimulai.
Bukan karena self-care buruk. Bukan pula karena mindfulness tidak berguna. Masalahnya muncul ketika persoalan yang sebenarnya bersifat sosial dan struktural dipindahkan seluruhnya menjadi tanggung jawab individu. Seseorang stres karena pekerjaannya tidak aman, lalu ia disuruh belajar mengelola stres. Seseorang cemas karena penghasilan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, lalu ia diminta mengubah pola pikir. Seseorang kelelahan karena harus bekerja panjang sambil mengurus keluarga, lalu ia diberi nasihat agar lebih pandai menjaga work-life balance. Padahal kondisi yang membuat mereka kelelahan itu terjadi sejak awal.
WHO secara eksplisit menempatkan faktor sosial dan struktural sebagai bagian dari penentu kesehatan mental. Kemiskinan, ketimpangan, kekerasan, lingkungan yang tidak mendukung, pekerjaan yang layak, pendidikan, hubungan sosial, hingga kondisi ekonomi dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Artinya, kesehatan mental tidak pernah sepenuhnya tinggal di dalam kepala seseorang. Ia juga dipengaruhi oleh dunia tempat seseorang hidup.
Sulit meminta seseorang berpikir positif ketika setiap akhir bulan ia harus menghitung uang untuk memastikan kebutuhan dasar keluarganya terpenuhi. Sulit menyuruh seseorang jangan terlalu cemas tentang masa depan, ketika pekerjaannya tidak memberikan kepastian. Sulit mengatakan jangan overthinking kepada orang yang memang menghadapi persoalan nyata yang belum selesai. Tidak semua kecemasan adalah kesalahan cara berpikir. Kadang kecemasan merupakan respons terhadap keadaan yang memang penuh ketidakpastian.
Tentu, bukan berarti setiap orang yang mengalami tekanan hidup pasti mengalami gangguan mental. WHO juga menekankan bahwa tidak ada satu faktor yang dapat menentukan kondisi mental seseorang secara pasti. Faktor individu, keluarga, komunitas, dan struktur sosial saling berinteraksi. Karena itu, persoalannya bukan memilih antara “memperbaiki diri” atau “menyalahkan keadaan”. Keduanya bisa berjalan bersama.
Kita tetap membutuhkan terapi, dukungan sosial, tidur yang cukup, olahraga, mindfulness, kemampuan mengatur emosi, dan berbagai bentuk self-care. Semua itu dapat membantu seseorang menghadapi tekanan. Namun, masyarakat juga perlu memiliki keberanian untuk bertanya pada sumber tekanannya. Kalau banyak pekerja mengalami kelelahan, apakah persoalannya hanya karena mereka kurang pandai mengatur waktu? Kalau semakin banyak orang cemas soal ekonomi, apakah semuanya hanya kurang bersyukur? Kalau anak muda takut menghadapi masa depan, apakah masalahnya hanya karena terlalu banyak membandingkan diri di media sosial?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena jawaban yang terlalu individual dapat membuat struktur yang bermasalah menjadi tidak terlihat. Orang miskin disuruh lebih resilien. Pekerja yang kelelahan disuruh lebih mindful. Orang yang tidak aman secara ekonomi disuruh berpikir positif. Lama-lama, kemampuan seseorang bertahan hidup justru dijadikan ukuran keberhasilan sistem.
Padahal kesehatan mental membutuhkan lingkungan yang memungkinkan manusia hidup dengan layak. WHO juga menekankan pentingnya pekerjaan yang layak, lingkungan aman, pendidikan berkualitas, hubungan sosial, serta kondisi ekonomi dan sosial yang mendukung sebagai faktor protektif.
Mindfulness bisa membantu kita menghadapi badai. Self-care bisa membantu kita beristirahat setelah melewati hari yang berat. Tetapi kalau badai itu terus datang karena kondisi sosial, ekonomi, pekerjaan, lingkungan, atau kebijakan yang tidak berubah, kita tidak cukup hanya mengajari manusia cara bertahan. Kita juga perlu memperbaiki cuacanya. Kesehatan mental bukan semata-mata persoalan bagaimana seseorang mengatur pikirannya. Kadang, agar manusia bisa benar-benar merasa baik-baik saja, dunia di sekelilingnya juga harus dibuat sedikit lebih layak untuk ditinggali.