Kolom
Post-Graduation Slump: Hilang Arah karena Rutinitas Berubah setelah Kuliah
“Besok masuk jam berapa?” Dulu, pertanyaan sederhana seperti itu hampir selalu punya jawaban. Ada jadwal kuliah yang harus diikuti, tugas yang harus dikumpulkan, dosen yang harus ditemui, teman yang diajak berdiskusi, atau skripsi yang menunggu untuk dikerjakan. Kemudian wisuda datang.
Kita memakai toga, berfoto bersama keluarga dan teman, merayakan selesainya satu fase kehidupan, lalu pulang dengan perasaan lega. Setelah bertahun-tahun menjalani rutinitas sebagai mahasiswa, akhirnya kita bisa mengatakan, “Aku sudah lulus.”
Awalnya, rasanya menyenangkan Tidak ada lagi tugas. Tidak ada lagi kelas pagi. Tidak ada lagi deadline revisi. Tidak ada lagi dosen yang harus ditemui untuk bimbingan. Rasanya seperti mendapatkan kebebasan yang selama ini ditunggu-tunggu.
Namun, setelah euforia wisuda perlahan menghilang, muncul sebuah pertanyaan yang ternyata jauh lebih sulit dijawab, “Sekarang aku harus melakukan apa?”
Mungkin inilah yang disebut sebagai post-graduation slump. Sebuah fase ketika kehidupan setelah kuliah terasa sedikit membingungkan karena rutinitas yang selama bertahun-tahun kita jalani tiba-tiba menghilang. Kita tahu bahwa kehidupan harus terus berjalan, tetapi belum benar-benar tahu harus berjalan ke mana.
Aku sendiri merasakan bagaimana hari-hari setelah lulus bisa terasa sangat berbeda. Ketika masih kuliah, hampir setiap hari memiliki tujuan. Ada alasan untuk bangun pagi karena harus pergi ke kampus. Ada tugas yang membuat kita sibuk. Ada teman yang bisa ditemui. Bahkan hari-hari yang melelahkan pun tetap terasa memiliki arah karena ada sesuatu yang harus dikerjakan.
Setelah lulus, semuanya berubah. Terutama ketika belum mendapatkan pekerjaan, hari-hari terasa lebih longgar. Tidak ada jadwal yang benar-benar mengharuskan kita melakukan sesuatu pada jam tertentu. Bangun pagi tidak lagi karena harus mengejar kelas. Tidak ada deadline yang membuat kita mau tidak mau harus menyelesaikan sesuatu.
Awalnya mungkin terasa seperti liburan. Tetapi ketika berlangsung terlalu lama, kebebasan tersebut justru bisa berubah menjadi kekosongan. Hari Senin tidak lagi terasa berbeda dengan hari Rabu. Hari Sabtu tidak selalu terasa seperti akhir pekan.
Kita bangun, membuka ponsel, mencari lowongan pekerjaan, mengirim CV, menunggu kabar, lalu kembali menjalani hari seperti biasa. Besoknya diulang lagi. Sampai akhirnya kita mulai bertanya-tanya, “Aku sebenarnya sedang melakukan apa?”
Yang membuat fase ini semakin sulit adalah ketika kita mulai melihat kehidupan orang lain. Teman-teman satu per satu mendapatkan pekerjaan. Ada yang mulai membangun karier, melanjutkan pendidikan, mengikuti berbagai kegiatan, atau membagikan pencapaian mereka di media sosial.
Kita tentu ikut senang melihat mereka berhasil. Tetapi di saat yang sama, ada bagian kecil dalam diri yang bertanya tentang kapan datangnya giliran kita tiba. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan perjalanan sendiri dengan perjalanan orang lain.
Kita merasa tertinggal hanya karena kehidupan kita belum terlihat bergerak sejauh mereka. Padahal, mungkin kita hanya sedang berada di fase yang berbeda. Setelah lulus, aku juga mulai menyadari bahwa kehilangan rutinitas bukan hanya tentang kehilangan jadwal. Kita juga kehilangan struktur yang selama ini membantu kita merasa memiliki tujuan.
Karena itu, mungkin yang perlu dilakukan bukan terus menunggu kehidupan baru dimulai setelah mendapatkan pekerjaan, tetapi mulai menciptakan rutinitas kecil dari sekarang.
Aku bisa menentukan waktu untuk mencari pekerjaan, kemudian memberikan waktu untuk belajar hal baru. Aku bisa menulis, membaca, membuat konten, mengembangkan kemampuan, atau sekadar melakukan sesuatu yang memang kusukai.
Tidak harus semuanya menghasilkan sesuatu. Tidak harus setiap hari menjadi hari yang sangat produktif. Yang penting, ada sedikit struktur yang membuat kita merasa bahwa hari ini tetap memiliki arti. Aku juga mulai belajar bahwa setelah lulus, kita tidak harus langsung mengetahui arah hidup secara keseluruhan.
Ada anggapan bahwa setelah mendapatkan gelar sarjana, kita seharusnya sudah tahu akan menjadi apa. Padahal kenyataannya, banyak dari kita justru baru benar-benar mengenal diri sendiri setelah keluar dari lingkungan kampus.
Mungkin post-graduation slump bukan selalu tanda bahwa kita kehilangan arah. Bisa jadi kita hanya sedang berada di ruang kosong di antara dua fase kehidupan. Kita sudah tidak lagi menjadi mahasiswa, tetapi belum sepenuhnya tahu akan menjadi siapa setelahnya.
Rasanya memang tidak nyaman. Namun, mungkin ruang kosong itu juga memberikan kesempatan untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin kita bangun?
Tidak semua jeda harus segera diisi. Tidak semua ketidakpastian harus segera memiliki jawaban. Dan tidak semua hari harus terlihat produktif agar memiliki nilai. Barangkali, setelah bertahun-tahun hidup dengan jadwal kuliah yang teratur, kita memang membutuhkan waktu untuk belajar mengatur kehidupan sendiri.
Jadi, kalau setelah lulus kita merasa kehilangan arah, merasa hari-hari berjalan begitu saja, atau bahkan merasa tertinggal ketika melihat orang lain sudah lebih dulu melangkah, mungkin kita tidak benar-benar gagal. Kita hanya sedang beradaptasi.
Untuk sekarang, mungkin kita hanya perlu menjalani hari ini. Bangun, melakukan satu hal kecil yang berarti, beristirahat ketika lelah, dan perlahan mencari tahu ke mana langkah berikutnya akan membawa kita. Sebab terkadang, kehilangan arah untuk sementara bukan berarti kita tidak akan pernah menemukan jalan.
Mungkin kita hanya sedang diberi jeda untuk menentukan jalan mana yang benar-benar ingin kita pilih.