Kolom
Usia 20-an Bukan Batasan: Kita Boleh Melangkah Lebih Pelan saat Dunia Sibuk Berlari
Memilih menjalani kehidupan sebagai freelancer yang bekerja dari rumah setelah lulus kuliah rupanya tidaklah seindah yang saya bayangkan sebelumnya. Dulu, saya pernah berpikir jika hal itu lebih mudah untuk dilakukan karena kita bisa fleksibel menentukan jam sekaligus tempat bekerja. Namun, setelah menjalaninya selama beberapa waktu belakangan, ternyata tidak sesederhana itu.
Ada orang-orang yang masih menganggap freelancer sama seperti pengangguran. Dengan aktivitas yang hanya terlihat duduk di depan laptop, mengetik, sambil sesekali rebahan, lalu mengulang hal yang sama lagi, membuat orang mengira yang saya lakukan sehari-sehari sekadar bermalas-malasan saja. Padahal di balik keseharian pekerja lepas yang terlihat santai di mata orang lain, ada banyak proses yang sering kali tak terlihat dari luar. Mulai dari mencari ide, melakukan riset, revisi, hingga mengejar deadline yang seolah nggak pernah ada habisnya.
Meski begitu, kita tak bisa sepenuhnya menyalahkan orang yang berpikir seperti itu. Anggapan tersebut mungkin juga muncul karena kebiasaan para pekerja lepas yang berbeda. Tidak harus berangkat ke kantor pagi-pagi, tidak memakai pakaian formal, dan tidak terlihat sibuk mondar-mandir.
Akan tetapi, bagi sebagian orang yang baru memasuki usia awal 20-an, penilaian semacam itu terkadang bisa direspons sebagai bentuk standar tidak tertulis tentang hidup yang seharusnya dijalani. Ketika melihat perjalanan orang-orang sekitar, rasanya semua orang melaju dengan cepat. Kemudian tanpa sadar kita pun mulai membandingkan diri dan bertanya, "Apa aku sebenarnya terlalu lambat?"
Di titik inilah mungkin kita perlu mengingat bahwa setiap orang memiliki ritme hidup yang berbeda. Di usia yang sama, ada yang sudah punya pekerjaan tetap. Ada yang lanjut S2. Ada yang membangun bisnis. Ada yang menikah. Ada yang sudah punya rumah atau kendaraan. Dan ada juga yang masih mengeksplor banyak hal baru dan mencoba mencari bentuk kehidupan yang paling cocok untuk dirinya.
Perjalanan hidup orang lain mungkin memang terlihat lebih cepat, tapi apakah itu artinya kita juga harus mengejar standar yang sama?
Saya rasa tidak. Mungkin adakalanya kita perlu untuk produktif. Namun, kita tak harus terus-menerus berlari hanya karena merasa tertinggal dengan orang lain. Saat kehidupan mereka seolah terlihat berjalan begitu cepat, kita boleh melangkah lebih pelan. Bahkan kita bisa berhenti sejenak saat lelah mulai melanda. Karena pada akhirnya, kita semua sama-sama sedang menjalani hidup, meski dengan ritme dan kecepatan yang berbeda.
Kita tidak sedang membiarkan diri tertinggal dengan langkah yang lebih pelan. Sebab di saat yang sama, kita juga tetap bergerak, menetapkan tujuan, dan berusaha mencapai sesuatu. Hanya saja, kita tidak harus memaksakan diri mengikuti kecepatan orang lain. Sebab, yang sedang kita kejar seharusnya bukan sekadar terlihat berhasil, melainkan menemukan kehidupan yang memang ingin kita jalani.
Bagi sebagian orang, bekerja sebagai freelancer mungkin bukan pilihan ideal untuk sarjana pendidikan. Namun, hal itu tidak membuat pilihan kita lantas menjadi sesuatu yang salah. Bahkan mungkin, dengan fleksibilitas pekerjaan yang kita punya, kita bisa memiliki lebih banyak peluang untuk terus belajar dan mengeksplor hal-hal baru.
Menjadikan perjalanan orang lain sebagai motivasi mungkin bisa dilakukan. Namun, di saat yang sama, kita juga perlu mengingat bahwa usia 20-an bukan batas waktu untuk membuktikan bahwa kita sudah menjadi seseorang. Kita masih boleh mencoba, salah memilih, mengubah arah, bahkan berjalan lebih pelan dari orang lain. Dan saat dunia sibuk berlari, kita tidak harus selalu ikut berlari hanya agar terlihat sedang melakukan sesuatu.