Kolom
Dilema Sandwich Generation: Ketika Memilih Diri Sendiri Terasa Sangat Egois
Selalu ada satu fase dalam hidup ketika kita mulai menyadari bahwa menjadi dewasa bukan hanya tentang menentukan apa yang kita inginkan untuk diri sendiri. Ada keluarga yang juga perlu dipikirkan, orang tua yang ingin dibahagiakan, kebutuhan rumah yang harus dipenuhi, dan mungkin adik atau anggota keluarga lain yang masih membutuhkan bantuan. Di tengah semua itu, muncul satu pertanyaan yang terkadang terasa sulit untuk dijawab, "apakah egois kalau aku memilih diri sendiri?"
Istilah sandwich generation mungkin sudah tidak asing bagi banyak anak muda. Sederhananya, istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang berada di antara tanggung jawab untuk membantu orang tua sekaligus memenuhi kebutuhan dirinya sendiri atau keluarganya.
Seolah-olah kita menjadi lapisan di tengah yang harus menopang banyak hal sekaligus. Menjadi bagian dari generasi ini tentu tidak selalu mudah. Ada keinginan untuk memiliki kehidupan sendiri, mengejar karier, menabung untuk masa depan, menikmati hasil kerja, atau sekadar membeli sesuatu yang kita inginkan.
Namun di sisi lain, ada suara dalam kepala yang mengingatkan bahwa masih banyak hal yang harus dipikirkan.
“Kalau uangnya dipakai untuk diri sendiri, bagaimana dengan kebutuhan rumah?”
“Kalau aku ingin mengambil kesempatan untuk pergi atau belajar sesuatu, apakah itu terlalu mementingkan diri sendiri?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin tidak selalu diucapkan kepada orang lain. Namun, sering kali justru menjadi percakapan panjang yang berlangsung di dalam kepala sendiri. Pada akhirnya, kita bisa merasa bersalah hanya karena memiliki keinginan untuk menikmati hidup. Padahal, memiliki kebutuhan dan keinginan pribadi bukan sesuatu yang salah.
Aku rasa salah satu hal yang melelahkan dari menjadi dewasa adalah ketika kita mulai menganggap bahwa memenuhi kebutuhan diri sendiri harus selalu berada di urutan terakhir. Kita boleh membantu orang lain, tetapi ketika tiba waktunya memperhatikan diri sendiri, rasanya selalu ada alasan untuk menundanya.
Kita menunggu keadaan ideal untuk memberikan ruang bagi diri sendiri, padahal hidup mungkin tidak akan pernah benar-benar bebas dari tanggung jawab. Di sinilah mungkin kita membutuhkan sebuah jeda. Bukan jeda untuk meninggalkan keluarga atau mengabaikan tanggung jawab, melainkan jeda untuk bertanya kepada diri sendiri, sebenarnya, apa yang juga aku butuhkan?
Mungkin kita membutuhkan waktu untuk beristirahat. Mungkin ingin belajar keterampilan baru agar mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Mungkin ingin menabung untuk impian pribadi. Atau mungkin hanya ingin menikmati sebagian hasil kerja keras tanpa merasa bersalah.
Memilih diri sendiri tidak selalu berarti memilih untuk meninggalkan orang lain. Ada perbedaan antara egois dan memiliki batas. Egois berarti hanya memikirkan kepentingan diri sendiri tanpa mempertimbangkan orang lain. Sementara memiliki batas berarti memahami bahwa kita juga memiliki kapasitas yang terbatas.
Kita tidak bisa terus memberikan sesuatu yang sebenarnya sudah tidak kita miliki. Tenaga kita terbatas. Waktu kita terbatas. Uang kita terbatas. Bahkan kemampuan untuk selalu kuat pun ada batasnya. Karena itu, menjaga diri sendiri seharusnya bukan sesuatu yang membuat kita merasa bersalah.
Justru, mungkin kita perlu belajar bahwa membantu keluarga tidak harus selalu berarti mengorbankan seluruh kehidupan pribadi. Kita bisa tetap bertanggung jawab sekaligus memiliki ruang untuk tumbuh sebagai individu. Kita bisa membantu sesuai kemampuan, bukan sesuai tekanan.
Kita juga bisa mengatakan, “Aku belum bisa,” tanpa otomatis menjadi anak yang tidak berbakti. Tentu saja, kenyataannya tidak sesederhana itu. Setiap keluarga memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Ada orang yang memang harus memikul tanggung jawab besar, dan tidak semua orang memiliki pilihan yang sama.
Namun, di tengah keadaan tersebut, semoga kita tetap bisa menemukan ruang kecil untuk diri sendiri. Sebab terkadang, kita terlalu sibuk menjadi seseorang yang bisa diandalkan sampai lupa bahwa kita juga boleh membutuhkan seseorang untuk bersandar.
Tidak harus selalu berupa sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari memberikan waktu untuk istirahat tanpa rasa bersalah, melakukan hobi yang disukai, menjaga kesehatan, atau menyisihkan sedikit ruang untuk memikirkan mimpi pribadi.
Mungkin kita tidak bisa langsung mengubah semua keadaan. Tetapi kita bisa mulai berhenti menganggap kebutuhan diri sendiri sebagai sesuatu yang tidak penting. Menjadi bagian dari sandwich generation memang berarti memiliki banyak tanggung jawab.
Namun, itu tidak berarti kita harus menghilangkan diri sendiri dari dalam kehidupan yang sedang kita jalani. Karena pada akhirnya, kita juga adalah seseorang yang perlu dijaga. Dan mungkin, memilih diri sendiri sesekali bukanlah bentuk egoisme.
Mungkin itu hanya sebuah jeda kecil untuk mengingatkan diri bahwa kita juga berhak memiliki kehidupan yang ingin kita jalani.