Kolom

Kenapa Korban Sering Disalahkan? Stop Bungkam Orang yang Menceritakan Luka

Kenapa Korban Sering Disalahkan? Stop Bungkam Orang yang Menceritakan Luka
Ilustrasi Lelah (Unsplash/Vitaly Gariev)

Ada anggapan yang cukup sering muncul dalam relasi sosial, ketika seseorang menceritakan perlakuan buruk yang pernah diterimanya, ia dianggap sedang menjelek-jelekkan orang lain. Tuduhan semacam ini membuat seolah-olah orang yang berbicara adalah pihak yang bersalah, sementara orang yang tindakannya diceritakan otomatis menjadi korban. Padahal, tidak semua cerita tentang keburukan seseorang merupakan bentuk kebencian.

Ada perbedaan penting antara menyebarkan fitnah dan menyampaikan pengalaman. Fitnah dibangun dari informasi yang tidak benar atau sengaja diputarbalikkan untuk merusak reputasi seseorang. Sebaliknya, menceritakan pengalaman berarti menyampaikan sesuatu yang dialami sendiri, berdasarkan fakta dan pemahaman terhadap suatu peristiwa.

Perbedaan ini penting karena kebebasan seseorang untuk menjaga reputasinya tidak seharusnya menghapus hak orang lain untuk berbicara tentang pengalaman yang dialaminya. Persoalannya, masyarakat sering kali lebih mudah mempertahankan citra daripada memeriksa tindakan.

Seseorang yang dikenal baik, ramah, atau memiliki reputasi positif cenderung memperoleh kepercayaan lebih besar. Ketika muncul cerita yang bertentangan dengan citra tersebut, orang justru mempertanyakan kredibilitas pihak yang bercerita.  Cara berpikir semacam ini berisiko mengaburkan persoalan.

Reputasi seseorang memang patut dihormati, tetapi reputasi bukanlah bukti bahwa seseorang selalu bertindak benar. Manusia dapat menunjukkan perilaku berbeda dalam situasi dan relasi yang berbeda pula. Seseorang bisa dipandang baik oleh banyak orang, tetapi tetap pernah melakukan tindakan yang menyakiti orang lain.

Kedua kenyataan tersebut dapat hadir secara bersamaan tanpa harus saling meniadakan. Karena itu, ketika seseorang mengungkapkan pengalaman buruk, yang perlu dinilai bukan semata-mata apakah cerita tersebut membuat seseorang terlihat buruk, melainkan apakah cerita itu benar, relevan, dan disampaikan secara bertanggung jawab.

Tentu, kejujuran bukan berarti kebebasan tanpa batas. Ada tanggung jawab moral dalam setiap pernyataan yang disampaikan kepada publik. Seseorang tidak boleh menambahkan fakta yang tidak ada, membuat tuduhan tanpa dasar, menyebarkan informasi pribadi yang tidak relevan, atau menggunakan pengalaman sebagai alasan untuk melakukan penghinaan dan perundungan. Kritik tetap harus dibedakan dari serangan personal. Namun, prinsip kehati-hatian tersebut tidak berarti seseorang harus membungkam pengalaman yang memang pernah dialaminya.

Justru di sinilah kedewasaan dalam berkomunikasi diuji. Seseorang dapat menyampaikan pengalaman secara objektif tanpa menjadikannya sebagai ajang penghukuman. Ia dapat mengatakan, “Ini yang terjadi kepada saya,” tanpa harus menyimpulkan bahwa orang tersebut sepenuhnya buruk. Memisahkan tindakan dari keseluruhan karakter seseorang merupakan bentuk kehati-hatian yang penting.

Sayangnya, dalam banyak konflik interpersonal, orang yang merasa dirugikan justru dituntut untuk diam demi mempertahankan kenyamanan pihak lain. Mereka diminta melupakan, memaafkan, atau menjaga nama baik orang yang telah menyakiti mereka. Seakan-akan menjaga reputasi seseorang merupakan tanggung jawab pihak yang mengalami dampak dari tindakannya. Padahal, setiap orang pada dasarnya bertanggung jawab atas perilakunya sendiri.

Jika suatu tindakan memang terjadi dan kemudian diceritakan secara jujur, ketidaknyamanan yang muncul tidak serta-merta menjadikan cerita tersebut sebagai kebencian. Terkadang, masalahnya bukan terletak pada orang yang berbicara, melainkan pada kenyataan bahwa seseorang tidak siap melihat tindakannya sendiri dari sudut pandang orang yang menerimanya. Karena itu, kita perlu lebih berhati-hati menggunakan istilah “menjelek-jelekkan”. Jangan sampai istilah tersebut menjadi alat untuk membungkam kritik atau pengalaman yang tidak menyenangkan.

Kebenaran memang tidak selalu menguntungkan citra seseorang. Namun, tugas orang yang mendengar bukan sekadar menentukan siapa yang terlihat baik dan siapa yang terlihat buruk. Tugas kita adalah membedakan fakta dari opini, pengalaman dari fitnah, serta kritik dari kebencian.

Menceritakan apa yang pernah dilakukan seseorang kepada kita tidak selalu berarti membencinya. Dalam banyak keadaan, itu hanyalah bentuk kejujuran: sebuah upaya untuk menyampaikan pengalaman sebagaimana adanya.

Sebab jika sebuah cerita yang benar membuat seseorang terlihat buruk, persoalannya mungkin bukan terletak pada cerita tersebut, melainkan pada tindakan yang melatarbelakanginya. Kebenaran tidak menjadi kebencian hanya karena seseorang merasa tidak nyaman ketika mendengarnya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda