Kolom

Delayed Gratification: Ketika Jarak Membuat Mental Makin Tangguh

Delayed Gratification: Ketika Jarak Membuat Mental Makin Tangguh
Ilustrasi pria merasa bahagia (pexels.com/Khoa Le)

Ada yang berkata pada saya, “Menunda kepuasan dapat meningkatkan kebahagiaan saat meraihnya.”

Kalimat tersebut merupakan penjabaran dari istilah delayed gratification. Dilansir Positive Psychology, prinsip ini merujuk pada kemampuan mental seseorang untuk menunda kesenangan sesaat demi kepuasan di masa depan. Lebih dari sekadar jeda, konsep ini diklaim mampu meningkatkan kebahagiaan penggunanya.

Awalnya, saya ragu untuk menerapkannya. Mengapa perlu menunggu nanti jika pencapaian tersebut bisa dimiliki sekarang? Lebih lanjut, bukankah prinsip itu melangkahi larangan prokrastinasi yang digaungkan influencer? Beragam pertanyaan memenuhi pikiran hingga saya nekat untuk mencobanya.

1. Dari tantangan menuju kesadaran: Game ponsel yang mengubah pandangan saya tentang jeda 

Pekan lalu, sebuah game ponsel mengundang perhatian saya. Permainan tersebut bertema pembangunan kota, di mana saya berperan sebagai walikotanya. Sebuah konsep yang jelas bukan hal baru lagi. Namun entah mengapa, ada sisi dalam diri saya merengek untuk mencobanya.

Sebenarnya, saya memiliki kesempatan untuk memainkannya saat itu juga. Hanya perlu mengunduh aplikasi, lalu bergegas merasakan keseruannya. Hanya saja, sisi lain diri saya justru memberi tantangan: Jangan coba sekarang, tapi pekan depan!

Saya menyetujuinya. Rasanya penuh godaan. Ada bisikan untuk membatalkannya saja. Namun, saya tahan hingga batas waktu yang ditentukan. Ternyata konsep itu benar. Saya merasa lebih senang, seperti berhasil mengambil kendali dalam hidup ini.

Lebih dari itu, pandangan saya terkait jeda juga telah berkembang. Tidak lagi melihatnya sebagai jarak yang memisahkan, tetapi rehat sejenak dari kehidupan serba instan—yang semuanya bisa dan harus didapat sekarang.

2. Gratifikasi tertunda: Tidak semua hal harus dimiliki sekarang

Keputusan kecil tersebut ternyata menolong saya dari jebakan budaya serba instan. Hari ini, teknologi telah memanjakan kita sedemikian rupa. Banyak hal bisa didapat hanya dalam sekali sentuh. Mau makan? Tinggal klik pesan antar. Mau hiburan? Sudah tersedia ribuan konten video pendek. Mau tahu hal baru? Cukup ketik di internet.

Sayangnya, kemudahan ini merebut kemampuan manusia untuk sabar. Kita ingin segala hal bisa dicapai sekarang juga. Tanpa jeda, tanpa proses panjang. Akibatnya, kita sering kali merasa tertinggal dari orang lain. Padahal, itu terjadi bukan karena kita kalah, melainkan karena kita masih berproses.

Di sinilah delayed gratification terasa menarik. Prinsip ini mengajarkan kita untuk melawan arus tersebut. Kebahagiaan bukan bersumber dari seberapa cepat kita mendapat sesuatu. Kebahagiaan juga tentang menikmati setiap proses. Sadar jika garis start dan lintasan setiap orang itu berbeda.

3. Batas antara penundaan biasa dengan delayed gratification 

Terkadang, batas antara penerapan delayed gratification dengan prokrastinasi terasa tipis. Keduanya sama-sama melibatkan unsur penundaan. Namun, ada perbedaan besar jika diamati lebih dalam. Garis pembatas antara melatih mental atau lari dari tanggung jawab.

Prokrastinasi biasanya didorong oleh rasa malas, takut gagal, atau perfeksionisme. Berawal dari menghindari tugas penting, berakhir menjadi penyesalan di kemudian hari. Sebaliknya, delayed gratification dilakukan secara terencana dan memiliki tujuan jelas. Kita tidak sedang menghindari sesuatu. Kita memang sengaja menahan diri demi hasil yang jauh bernilai di waktu yang tepat.

Ada temuan menarik tentang ini. Dilansir Simply Psychology, eksperimen Marshmallow Test pada tahun 1970 memberi gambaran nyata tentang manfaat menunda kepuasan. Anak-anak yang tidak langsung memakan marshmallow mendapat ganjaran yang lebih besar daripada mereka yang dikendalikan oleh keinginan sesaat.

Kehidupan serba instan tentu membawa banyak kemudahan. Namun, bukan berarti ia datang tanpa konsekuensi. Sudah saatnya kita mengambil kembali kendali diri kita.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda