Kolom

Code-Switching: Ketika Dua Bahasa Bercampur Membentuk Identitas Baru

Code-Switching: Ketika Dua Bahasa Bercampur Membentuk Identitas Baru
Ilustrasi percakapan anak muda (pexels.com/Yan Krukau)

Satu-satunya hal yang tidak akan berubah adalah perubahan itu sendiri, tidak terkecuali dalam hal bahasa. Sejak dahulu, cara berkomunikasi manusia terus mengalami perkembangan. Perluasan tersebut menyentuh beragam aspek, mulai dari kosakata, logat, hingga gaya bahasa.

Salah satu dari mereka yang terasa kental pertumbuhannya yaitu slang. Tak seperti bahasa baku yang tunduk pada aturan, bahasa gaul memiliki fleksibilitas yang lebih lunak. Tidak heran bahasa ini bisa dengan mudah masuk ke sela-sela percakapan anak muda.

Meski begitu, bahasa gaul juga tidak terlepas dari satu kekurangan: Pengguna musiman. Sudah menjadi rahasia umum jika setiap generasi memiliki slang-nya masing-masing. Sesuatu yang dianggap modern pada masanya bisa dipandang usang oleh masa yang lain. Sebagai contoh, bahasa prokem dan bahasa G yang kini mulai kehilangan pamornya.

Kedua slang tersebut memang masih hadir di beberapa kesempatan. Meski begitu, frekuensi kemunculannya mulai memperlihatkan penurunan. Beberapa kata masih eksis digunakan, seperti bokap dan nyokap. Namun, sebagian yang lain mulai tergantikan oleh tren bahasa terkini.

Code-switching dan code-mixing: Ketika dua bahasa bertemu dalam obrolan

Gen Z juga memiliki bahasa gaulnya sendiri. Meskipun pola tersebut telah lama digunakan, campur bahasa bisa dikatakan sebagai salah satu identitas anak muda masa kini. Mereka kerap menyelipkan kata atau istilah asing ke dalam komunikasinya.

Fenomena mencampur bahasa ternyata memiliki nama tersendiri, yaitu code-switching dan code-mixing. Meski sekilas mirip, keduanya mempunyai kontras dalam hal kesadaran pengguna dan kelengkapan unsur gramatikal.

Code-switching mempertemukan dua atau lebih bahasa dalam kalimat yang berbeda. Sebagai contoh, kalimat pertama mengadopsi bahasa asing, sedangkan kalimat selanjutnya memakai bahasa Indonesia. Penuturnya sadar bahwa ia sedang beralih bahasa.

Lain hal dengan code-mixing. Jenis ini hanya mengganti kata atau frasa tertentu dalam sebaris kalimat. Kita sering kali tidak mengetahui bahwa itu adalah istilah asing sampai memeriksa versi Indonesia-nya di KBBI. Pengalihan ini erat kaitannya dengan terjemahan atau padanan kata. Sebagai contoh, mengucapkan kata overthinking alih-alih lewah pikir.

Kehadiran bahasa gaul bukan untuk mengancam aturan baku

Salah satu kekhawatiran mengenai dampak penggunaan slang yaitu menggerus bahasa baku. Ragam nonformal, termasuk campur bahasa, memang masif digunakan dalam percakapan sehari-hari. Terlebih lagi, kemajuan teknologi membuat ekspansinya makin cepat menyebar luas.

Akan tetapi, alih-alih hanya dianggap sebagai gangguan, fenomena ini dapat dilihat sebagai proses pembentukan identitas baru. Pola tersebut, bahasa gaul, sebenarnya telah ada jauh sebelum era modern seperti sekarang ini. Hanya saja, kini arahnya sedang condong kepada pencampuran bahasa dan salah ketik (typo) disengaja.

Bahasa gaul bukanlah ancaman asalkan diterapkan pada momen yang tepat. Dalam komunikasi, pemilihan kata membawa nuansa tersendiri. Ragam formal memperlihatkan kewibawaan dan kesan profesional. Sementara itu, ragam nonformal memberikan keluwesan dan keakraban. Tidak ada yang salah antara dua gaya tersebut. Mereka sama-sama memiliki porsinya masing-masing.

Meski demikian, perlu menjadi perhatian bahwa kekeliruan memilih style dapat berujung pada masalah. Kata baku umum digunakan dalam acara formal, seperti urusan pekerjaan atau pendidikan. Memilih ragam nonformal, misalnya bahasa gaul, dapat menunjukkan ketidakseriusan individu dalam menghadapi situasi tersebut.

Pencampuran dua atau lebih bahasa tidak selalu berarti masalah. Ia justru memperlihatkan minat anak muda dalam mempelajari bahasa baru. Selama mereka tidak meninggalkan bahasa persatuan, penggunaan istilah-istilah unik justru bisa menjadi ciri komunikasi suatu masyarakat.

Oleh karena itu, penting bagi anak muda untuk dapat menyelaraskan gaya komunikasi dengan kondisi yang dihadapi. Memilah mana kata yang dapat diucapkan dan mana yang lebih baik disimpan. Bukan selalu karena bernada negatif, melainkan karena bahasa juga memiliki kesan tertentu dalam membentuk persepsi.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda