Kolom
Jeritan dari Balik Kabut: Menagih Kehadiran Nurani saat Tanah Air Terbakar
Musim kemarau yang panjang dan tandus kembali menghampiri, membawa deret risiko yang kian nyata dan menakutkan. Akan tetapi, hal yang paling menyayat batin bukan semata terik matahari yang menyengat raga, melainkan gumpalan asap tebal yang merayap pelan, membakar tanah air dan melahap asa. Kita sedang berdiri di ambang krisis ekologis yang teramat parah, sebuah kondisi darurat lingkungan yang menuntut kepedulian bersama sebelum pasokan udara bersih benar-benar musnah dari ruang napas kita.
Di bawah naungan langit yang berubah warna menjadi jingga dan di antara deru napas masyarakat yang kian sesak, panggung percakapan publik justru disesaki oleh irisan ironi yang memilukan.
Jika kita mau membuka mata dan membedah keadaan secara bijaksana, bencana kabut asap yang menerpa sejatinya bukan sekadar imbas alami dari teriknya kemarau panjang. Ia adalah buah pahit dari pengrusakan masif terhadap ekosistem lahan gambut. Lahan basah yang dikaruniai fungsi vital sebagai penampung air alami dan penyimpan karbon raksasa, kerap kali dikeringkan secara paksa demi memenuhi ambisi alih fungsi lahan.
Kala musim kemarau tiba, gambut yang mengering menjelma menjadi bahan bakar yang teramat berbahaya. Kobaran api menjalar liar di bawah permukaan tanah, sulit dipadamkan oleh air, dan terus-menerus memuntahkan racun ke udara.
Anehnya, tragedi ini berulang saban tahun bagaikan ritual kelam yang telah dihafal, publik panik seketika saat asap membubung tinggi, lalu amnesia massal saat rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Para pemetik keuntungan duduk tenang di balik meja ber-AC gedung-gedung jangkung, sementara warga di akar rumput harus membayar mahal dengan rusaknya paru-paru dan masa depan generasi mereka.
Riuh Buzzer, Bisu Influencer, dan Krisis Empati Digital
Di tengah jerit napas warga yang kian tercekik oleh asap, jagat maya justru riuh oleh sandiwara digital yang sangat mengelus dada. Isu mengenai pengerahan buzzer berbayar, yang disinyalir bertugas membentengi citra penguasa serta meredam gelombang kritik lingkungan, kembali mencuat dan menjadi perdebatan yang menyita perhatian.
Alih-alih memusatkan energi untuk merumuskan aksi penyelamatan hutan dan menyalurkan bantuan bagi korban kabut asap, linimasa kita justru dibanjiri oleh narasi pengalihan isu yang membingungkan nalar publik.
Cerita-cerita tanpa empati diproduksi secara masal, seolah-olah keselamatan nyawa manusia dan kelestarian ekosistem dapat ditukar dengan sebaris ciutan berbayar demi menjaga kestabilan citra. Ruang digital kita riuh oleh kebisingan yang tak berguna, namun teramat miskin akan solusi yang nyata.
Tak berhenti di situ, kegelisahan publik di media sosial juga bergeser menyoroti fenomena lain, sikap diam para pemfokus opini dan influencer bertengsi tinggi. Netizen mulai mempertanyakan, menuntut, hingga menghakimi para figur publik yang memiliki ribuan hingga jutaan pengikut, namun memilih membisu di tengah bencana Karhutla yang meluas.
Kala layar kaca gawai dipenuhi pameran gaya hidup glamor, liburan megah, hingga pembuatan konten nirmakna, para influencer ini seolah menutup mata dari realitas pahit bahwa jutaan saudara sebangsa sedang berjuang demi seteguk udara bersih. Sebuah pertanyaan besar membumbung tinggi: ke mana gerak pengaruh mereka tatkala tanah air sedang tidak baik-baik saja? Mengapa mereka begitu lantang dan berani menyuarakan hal-hal yang berbau komersial, namun seketika membisu saat alam dan kemanusiaan menjerit kesakitan?
Nyanyian Sunyi dan Sepucuk Doa di Balik Kabut
Krisis kabut asap yang membakar, riuh rendah buzzer yang terbayar, serta ketidakpedulian para influencer bergaya tenor, bermuara pada satu pertanyaan mendasar: di manakah tempat bagi hati nurani kita hari ini? Alam dan masyarakat yang terluka tidak membutuhkan pembelaan semu yang digerakkan oleh algoritma atau kepingan uang.
Alam membutuhkan langkah nyata, ketegasan hukum tanpa pandang bulu bagi para pembalok dan pembakar hutan, serta kepedulian yang tulus dari seluruh elemen bangsa, termasuk dari mereka yang memegang kendali atas ruang publik digital.
Sebab pada akhirnya, tolok ukur kemajuan suatu bangsa tidak dinilai dari seberapa riuh perdebatan di jagat maya atau seberapa berkilau citra yang dipoles oleh para selebriti, melainkan dari seberapa padu kita bergandengan tangan tatkala rumah bersama kita sedang terbakar.
Telah kukirimkan surat kecil ini kepadamu,
Kalimat-kalimat harapanku, kini telah menjelma menjadi awan syahdu,
Semoga berarak menjadi rintik hujan yang meneduhkan kobaran di hatimu,
Walau engkau tak pernah tahu namaku, atau siapa sosok yang diam-diam mengagumimu.
Namun Perlahan, Tuhan merajut suratku menjadi sepucuk harapan baru,
Menjadi hangatnya sinar matahari di pagi hari, atau lembutnya bulan di malam syahdu.
Mungkin pandanganmu kini kabur oleh pekatnya asap yang merajalela dan tak sanggup melihatnya dengan jelas,
Namun rindu dan cinta dalam rahasia ini mengalun deras ke arahmu tanpa batas.
Dan semoga dalam keheningan ini, engkau perlahan menyadari,
Bahwa di dunia yang riuh dan penuh emosi ini,
Ada sehelai rumput bersahaja yang sedang teduh memeluk padang hatimu yang gersang.