Cerita Fiksi

Teori Konspirasi di Warkop: Antara Hutan Terbakar dan BBM yang Langka

Teori Konspirasi di Warkop: Antara Hutan Terbakar dan BBM yang Langka
Ilustrasi AI cerita fiksi utnuk kelangkaan BBM dan kebakaran hutan (Gemini Ai)

Sore itu, Warkop "Marilah Cerita" lebih terasa seperti tempat penampungan bagi orang-orang yang terkena bencana kecil dibandingkan sebagai warkop. Terik matahari di Sulawesi Selatan sangat menyengat, membakar semua yang berani berjalan di depan kampus Universitas Tata Surya tanpa perlindungan seperti payung.

Di meja yang panjang, Pane meletakkan helmnya dengan kasar sambil menyeka keringat di dahinya menggunakan bagian ujung jaketnya. Di sebelah kanannya, Dahlan sedang mengipas diri menggunakan brosur pendaftaran mahasiswa baru, sementara Fajar baru saja tiba dengan berita buruk dari jalan.

"Gila ya, apakah bumi ini mau kiamat atau sedang uji coba?" Fajar mengatakan dengan suara yang tajam, langsung mengambil gelas es teh yang ada di dekatnya. "Di luar sana, banyak hutan yang terbakar. Dikatakan ini bencana, tapi kalau setiap musim kemarau hutan yang terbakar selalu terjadi di samping lahan perusahaan kelapa sawit, itu bukan takdir Tuhan, tetapi takdir untuk investor."

Pane mendengus dan ikut menambahkan sambil bersandar pada bangku kayu. "Ah, lebih baik kalau cuma hutan, Jar. Kamu tahu antrean di SPBU jalur trans-sulawesi sekarang lebih panjang dibanding antrean sembako murah, kan? Yang bikin bingung, BBM di Sulawesi Selatan ini sulit dicari. Sementara di pulau Jawa, orang-orang tetap tenang naik motor. Kenapa bisa begitu? Ternyata ada rencana besar, pemerintah sengaja buat BBM di sini langka supaya kita panik, stres, dan akhirnya terpaksa beralih ke motor listrik."

Dahlan, yang sedang asyik mengipas diri, langsung menghentikan aktivitasnya. Otaknya yang kadang lambat tiba-tiba bekerja dengan cara yang tidak masuk akal.

"Motor listrik? Di tengah cuaca panas begini?" Dahlan bereaksi dengan mata yang melotot. "Serius? Kalau kita pakai motor listrik saat cuaca panas ekstrem seperti ini, bukan cuma baterainya yang bisa overheat, tapi kita juga bisa terbakar jadi manusia setengah matang di jalan. Apakah pemerintah mau menyelamatkan bumi atau justru mengurangi jumlah mahasiswa pertanian perlahan-lahan?"

Percakapan mereka yang semakin aneh itu tiba-tiba terhenti karena suara batuk ringan dari meja sebelah. Pak Hendra, pria paruh baya yang rutin datang dan hari itu tetap setia dengan kebiasaannya minum kopi hitam dengan sedikit susu, melirik tajam kepada ketiga pemuda tersebut.

"Kalian ini saat membuat teori konspirasi, lebih cepat berputarnya daripada kipas yang rusak di sudut itu," kata Pak Hendra dengan santai sambil meneguk kopinya. "Kebakaran hutan dianggap sebagai rencana untuk membuka lahan, sedangkan kelangkaan BBM dianggap sebagai rencana untuk beralih ke listrik. Sebenarnya, anak muda... kelangkaan BBM bukan disebabkan oleh pemerintah yang ingin kalian beralih ke motor listrik. Tapi karena mobil-mobil mahal dan para penimbun yang serakah lebih suka mengambil subsidi yang seharusnya diberikan untuk traktor para petani di desa."

Fajar, Pane, dan Dahlan terdiam sejenak, saling menatap.

"Jadi maksud Bapak, tidak ada rencana rahasia dari alien atau perubahan energi yang canggih gitu?" tanya Dahlan dengan polos.

"Teori kalian itu terlalu berlebihan untuk sebuah negara yang bahkan kesulitan menulis proposal untuk perbaikan saluran irigasi sawah," jawab Pak Hendra tajam, diikuti oleh tawa kecil Mas Rio, pemilik warkop yang sejak tadi mendengarkan dari balik meja tempat ia bekerja.

Fajar tersenyum tipis. Ia meraih sakunya, mengeluarkan buku catatan kecil dan pulpen. Di tengah republik kecil yang panas ini, di bawah atap Warkop Marilah Cerita, setidaknya ia memahami satu hal, meskipun dunia luar sedang kacau, rusak, dan penuh dengan teori konspirasi yang konyol, selalu ada bahan baru yang bisa diceritakan sambil menikmati secangkir kopi hitam.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda