Cerita Fiksi
Sadap-Menyadap di Warkop: Dari Tiga Jenderal hingga Kasbon Berenkripsi
Asap rokok kretek membubung lunak di bawah lampu bohlam 15 watt yang dikerubungi laron. Di sudut Warkop Mas Rio, televisi tua 14 inci sedang menampilkan running text berwarna merah menyala: "HEBOH DUA ARAH: ISU 3 JENDERAL DUGAAN NYADAP PIMPINAN NEGARA."
Dahlan menepuk meja kayu yang agak bergetar sampai cangkir kopinya berdentang.
"Rakyat ini mau dibikin gila," kata Dahlan sambil memotong tempe goreng dingin dengan giginya. "Negara segede gini, jenderal sampai tiga biji bukannya ngurusin batas wilayah atau keamanan laut, malah sibuk pasang telinga di tembok Istana. Logikanya di mana coba?"
Pak Hendra yang dari tadi mengorek-ngorek colokan HP pakai obeng minus mendongak, matanya disipitkan gaya pakar intelijen. "Kau tak paham seni clandestine, Lan. Ini soal kontrol! Siapa yang pegang suara, dia yang pegang kemudi. Kamu bayangkan, tiga jenderal bintang melingkar-lingkar melotot depan monitor tiap malam cuma buat dengar bisikan Presiden."
"Bisikan apanya?" potong Fajar, mahasiswa semester tua yang laptopnya lebih sering dipakai main catur ketimbang skripsi. "Kalian itu termakan narasi media massa. Kalian pikir Presiden di sana cuma duduk manis pasrah jadi korban?"
Mas Rio yang sedang mengaduk kopi saset berhenti. "Maksudmu piye, Jar? Presidennya tahu kalau lagi didengar?"
Fajar tersenyum misterius, menuangkan sedikit kecap ke pisang gorengnya. "Bukan cuma tahu, Mas. Presidennya justru balik menyadap tiga jenderal itu! Bahkan lebih parah, Presiden sengaja bikin panggung teater suara!"
Dahlan dan Pak Hendra saling pandang.
"Lho, piye konsepnya?" tanya Pak Hendra penasaran.
"Gini," Fajar condong ke depan, suaranya dipelankan seolah warkop itu sudah dipasangi mikrofon tersembunyi. "Presiden itu paham hukum sains politik modern: musuh yang paling bahaya adalah musuh yang merasa paling pintar. Tiga jenderal itu merasa hebat karena berhasil menanam alat sadap di bawah meja kerja Presiden. Tapi Presiden tahu!"
"Terus?" Dahlan menahan napas.
"Setiap malam jam satu pagi," lanjut Fajar dengan nada dramatis, "Presiden sengaja jalan mondar-mandir di ruang kerja, desah napasnya dibikin berat, lalu ngomong sendirian di dekat meja: 'Duh, besok jenderal yang mukanya agak bulet mau tak pindahkan ke pulau terluar... tapi yang satu lagi mau tak jadiin Kapolri... eh atau tak pecat dua-duanya ya?' Nah!"
Mas Rio menepuk jidatnya. "Oalah! Jadi alih-alih rahasia negara, Presiden sengaja menebar teror mental?!"
"Tepat!" seru Fajar bangga. "Tiga jenderal yang lagi pakai headphone di markas rahasia langsung keringat dingin semalaman. Yang merasa mukanya agak bulat langsung panik cari cermin. Yang dua lagi saling curiga siapa yang mau dipecat. Senjata penyadapnya balik memakan tuannya sendiri. Penyadapan dua arah: satu nyadap suara, satu nyadap ketakutan!"
Pak Hendra mengangguk-angguk, terpesona oleh logika absurd itu. "Bener juga. Pantesan kemarin pas wawancara di TV, itu jenderal-jenderal matanya pada merah sama ada kantung hitamnya. Tak kira habis rapat strategi nasional, ternyata habis begadang dengar psywar!"
"Iya," tambah Dahlan. "Lagian aneh-aneh saja. Rakyat kecil disadap pinjol tiap jam tiga sore gara-gara terlambat bayar dua hari aja santai-santai aja. Ini kelas jenderal sama Presiden kok malah main petak sembunyi suara."
"Beda urusan, Lan," kata Mas Rio sambil menyapu remahan gorengan di meja. "Kalau pinjol nyadap HP-mu, yang ditagih itu uangmu. Tapi kalau jenderal nyadap Presiden, yang ditagih itu kursi dan kuasanya."
Suasana warkop mendadak hening sebentar. Suara jangkrik di luar bersaing dengan dengung kipas angin tua warkop.
Fajar menyandarkan badannya ke kursi plastik. "Intinya, di panggung atas sana, tak ada korban murni, Mas. Yang nyadap merasa paling tahu, yang disadap pura-pura tidak tahu padahal sengaja memberi umpan. Yang kasihan ya kita ini."
"Lah, kok kita?" tanya Dahlan heran.
"Ya kita," Fajar menunjuk layar TV. "Mereka sibuk main detektif-detektifan pake anggaran negara bertriliun-triliun, giliran beras sama minyak goreng naik, alasannya karena 'dinamika global'. Padahal dinamika intrik mereka sendiri yang bikin gaduh."
Mas Rio tertawa terkekeh, lalu meletakkan secarik kertas lusuh bekas bungkus rokok di depan Fajar dan Dahlan.
"Sudah, tak usah ngurusin jenderal mana yang nyadap Presiden mana," kata Mas Rio santai. "Mau disadap dua arah, tiga arah, atau lima arah, yang jelas ini catatan kasbon kopi kalian berdua sudah dienkripsi di kertas ini dari minggu lalu. Jangan berpura-pura terkena psywar kalau ditagih."
Fajar dan Dahlan mendadak saling pandang, lalu serentak melihat ke TV.
"Mas," kata Dahlan pelan, "coba volumenya dibesarkan sikit. Kayaknya beritanya makin tegang ini..."
Mas Rio hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum kecut, membiarkan layar televisi itu terus berdengung menyiarkan drama para penguasa. Fajar merogoh sakunya, menghitung koin-koin logam yang tersisa dengan pasrah.
Di "Republik Marilah Cerita" malam itu, mereka akhirnya menyadari satu kebenaran mutlak: di negeri ini, alat sadap tercanggih milik negara mungkin bisa merekam rahasia para jenderal, tapi tidak ada satu pun teknologi di dunia yang bisa meretas pusingnya kepala mahasiswa tua yang dikejar tanggal jatuh tempo kasbon kopi.