Kolom

Dua Wajah Indonesia: Sibuk Kejar Dolar Turis, Lalai Urus Kabut Asap

Dua Wajah Indonesia: Sibuk Kejar Dolar Turis, Lalai Urus Kabut Asap
Ilustrasi Kebakaran hutan. (Unsplash/@emren)

Pemerintah belakangan ini tampak sangat sibuk dan agresif mempromosikan berbagai destinasi wisata unggulan ke panggung internasional. Kampanye besar-besaran diluncurkan, pameran pariwisata luar negeri diikuti, dan anggaran miliaran rupiah digelontorkan demi menarik minat jutaan turis asing agar bersedia datang dan membelanjakan uang mereka di Indonesia.

Namun, ada ironi besar yang luput dari sorotan di balik gemerlapnya promosi tersebut. Di saat para pejabat sibuk memamerkan video estetis tentang keindahan alam Nusantara, di lapangan realita-nya justru berkata lain. Sebagian besar wilayah Indonesia saat ini justru sedang terkepung oleh pekatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kontras ini tentu menjadi sebuah tamparan keras bagi narasi pariwisata kita. Kita sibuk mengundang orang datang untuk menikmati kesegaran alam, namun udara yang disuguhkan di pintu kedatangan justru berbahaya untuk dihirup. Ketika citra di media sosial sangat bertolak belakang dengan realita kualitas udara di lapangan, kredibilitas pariwisata nasional kini berada di ujung tanduk. Kepercayaan pasar internasional yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam sekejap akibat krisis lingkungan yang berulang ini.

Lumpuhnya Gerbang Penerbangan dan Pembatalan Massal

Dampak nyata dari krisis ini dapat kita lihat langsung pada kekacauan yang terjadi di sektor transportasi udara. Berdasarkan rilis data penerbangan komersial, ribuan jadwal penerbangan domestik maupun internasional terpaksa dibatalkan atau ditunda akibat jarak pandang yang merosot tajam di bawah batas aman operasional. Kelumpuhan jadwal ini secara otomatis memutus rantai pasok utama wisatawan menuju destinasi unggulan.

Dari Bandara Soekarno-Hatta hingga pintu-pintu udara di wilayah timur seperti Bandara Pattimura Ambon dan Sultan Hasanuddin Makassar, pembatalan massal ini menjadi mimpi buruk bagi ekosistem pariwisata. Ketika pesawat tidak dapat mendarat, hotel-hotel kehilangan tamu, pemandu wisata kehilangan pekerjaan, dan restoran di sekitar destinasi berakhir sepi. Efek domino ini memukul telak ekonomi lokal yang mengandalkan perputaran uang harian dari turis.

Bahkan dampak polusi ini telah melintasi batas negara. Sektor pariwisata di negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia kini ikut mengeluhkan merosotnya pemesanan paket wisata luar ruangan akibat kabut asap kiriman. Keadaan ini jelas memperburuk citra kawasan regional di mata pelancong global, menempatkan kredibilitas pengelolaan lingkungan kita dalam sorotan tajam internasional, sekaligus memicu sentimen negatif dalam hubungan diplomasi antarnegara tetangga.

Kerugian Terselubung yang Tak Tercatat

Masalah terbesar dari dampak asap terhadap pariwisata adalah kerugian yang sering kali tidak tercatat secara langsung dalam angka kunjungan formal. Secara statistik, wisatawan mungkin saja tetap datang ke sebuah daerah, namun kualitas pengalaman mereka telah rusak sepenuhnya oleh kepungan polusi udara yang pekat. Mereka pulang dengan kekecewaan, dan membawa testimoni buruk yang berpotensi merusak pasar masa depan.

Durasi tinggal pelancong menjadi jauh lebih pendek, dan pengeluaran mereka otomatis menurun drastis karena aktivitas luar ruangan dibatasi demi keselamatan fisik. Pemandu wisata, pengelola homestay kecil, hingga pedagang cendera mata di area terbuka terpaksa menanggung beban ekonomi akibat lesunya transaksi harian.

Lebih dari itu, aset terbesar wisata alam kita adalah ekosistem yang sehat dan keanekaragaman hayati. Ketika habitat satwa ikonik seperti orangutan di Kalimantan dan Sumatra ikut terfragmentasi dan terancam oleh paparan asap, kita sedang menghancurkan modal jangka panjang pariwisata masa depan demi kelalaian jangka pendek. Kita mengorbankan daya saing ekowisata demi pembiaran perusakan alam yang terus berulang.

Mengubah Pendekatan Sebelum Terlambat

Menyelamatkan sektor pariwisata dari kepungan asap tidak akan pernah berhasil jika pemerintah hanya mengandalkan langkah penanganan yang sifatnya reaktif. Membagikan masker, menyemprotkan air di darat, atau sekadar mengeluarkan imbauan kesehatan adalah solusi sementara yang tidak menyentuh akar permasalahan yang mendasar, seperti ketegasan hukum bagi pelaku pembakaran hutan dan evaluasi konsesi lahan.

Perencanaan pariwisata daerah sudah sepatutnya mengintegrasikan mitigasi risiko karhutla dan baku mutu kualitas udara ke dalam kebijakan jangka panjang mereka. Komunitas lokal di area rawan harus dilibatkan secara aktif sebagai garda terdepan dalam pemantauan titik api, bukan sekadar diposisikan sebagai penerima dampak pasif.

Sebab, pariwisata Indonesia tidak akan pernah bisa mencapai status berkelanjutan jika perlindungan lingkungan masih dianggap sebagai urusan sampingan. Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk menjual keelokan alam kepada dunia, kita harus memastikan terlebih dahulu bahwa ruang hidup ini tetap aman dan layak untuk dihuni dan dihirup oleh masyarakatnya sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda