Kolom
Sadar Nggak? Kamu Sedang Diperbudak Algoritma Lewat Skandal Artis
Coba ingat kembali apa yang pertama kali kamu lihat saat membuka aplikasi media sosial pagi ini. Kemungkinan besar, layar ponselmu langsung disambut oleh potongan video dramatis, tangkapan layar obrolan yang sengaja disebar, atau utas analisis super cepat mengenai keretakan rumah tangga seorang figur publik.
Mulai dari isu perselingkuhan, percekcokan keluarga, hingga adu sindir antar-influencer di ruang publik digital. Tanpa disadari, kita begitu mudah tersedot ke dalam pusaran informasi tersebut. Kita rela menggulir layar berjam-jam (doomscrolling), membaca ribuan komentar orang asing, bahkan ikut berdebat sengit membela salah satu pihak seolah-olah masalah itu terjadi pada anggota keluarga kita sendiri.
Fenomena kecanduan mengonsumsi dan menghakimi drama selebriti ini sebenarnya tidak pernah terjadi secara kebetulan. Di balik layar, algoritma platform digital memang dirancang cerdik untuk memikat perhatian manusia melalui konten beremosi tinggi (high-arousal content)—seperti amarah, kejutan, dan rasa ingin tahu yang impulsif. Ketika sebuah konflik personal dipamerkan ke linimasa, otak meresponsnya sebagai tontonan dramatis yang memicu pelepasan dopamin instan. Sensasi keterikatan emosional semu inilah yang membuat gawai sulit diletakkan; kita terus haus akan kabar terbaru (update) dari skandal yang sedang hangat.
Namun, jika ditarik lebih dalam, fenomena ini bukan sekadar urusan algoritma, melainkan soal psikologi manusia. Dorongan untuk terus mengawasi dan mengomentari hidup orang yang tidak kita kenal sering kali menjadi bentuk pengalihan (coping mechanism atau escapism). Membahas kegagalan, kesalahan moral, atau keretakan hidup seorang selebriti memberi kita ilusi kepuasan dan superioritas moral. Ada rasa 'lega' terselubung saat merasa hidup kita jauh lebih rapi dibanding mereka yang sedang hancur di media sosial. Mengadili orang lain di kolom komentar menjadi cara paling praktis untuk melarikan diri sebentar dari tumpukan beban hidup nyata, kecemasan finansial, atau sekadar rasa bosan yang membelenggu.
Sayangnya, kita sering lupa bahwa di balik keributan digital ini, ada industri raksasa yang meraup keuntungan dari waktu dan emosi kita. Drama artis telah bertransformasi menjadi komoditas berharga dalam era attention economy. Setiap klik, komentar amarah, dan pembagian ulang (share) yang kita lakukan adalah bahan bakar yang diubah menjadi statistik interaksi dan angka rupiah bagi pemilik platform maupun pembuat konten. Kita mengorbankan ketenangan pikiran secara cuma-cuma, sementara mereka memanen kapital dari rasa penasaran kita yang tak ada habisnya.
Dampak dari kebiasaan ini teramat nyata bagi kesehatan emosional dan efisiensi waktu kita. Energi mental yang seharusnya dialokasikan untuk menyelesaikan pekerjaan, merawat hubungan nyata dengan orang terdekat, atau mengasah keterampilan baru justru terkuras habis. Kelelahan emosional yang tak disadari ini lambat laun menurunkan rentang perhatian (attention span), memicu kecemasan terselubung, serta menumpulkan fokus kita dalam menggapai target hidup pribadi.
Lebih jauh lagi, partisipasi aktif warganet dalam menghakimi konflik pribadi di linimasa turut menyuburkan kultur perundungan digital (cyberbullying) yang destruktif. Di bawah payung anonimitas atau perasaan 'berhak menghakimi publik figur', vonis sosial dilontarkan tanpa rasa iba. Kita cenderung mengalami dehumanisasi—lupa bahwa di balik panggung dan kilatan kamera, orang-orang yang kita komentari adalah manusia biasa yang juga bisa terluka, stres, dan hancur. Ruang digital kita pun berubah menjadi arena bising tempat empati kemanusiaan ditukar dengan dahaga akan sensasi hiburan murah.
Melihat ancaman tersebut, sudah saatnya kita menyikapi penggunaan media sosial secara lebih kritis dan berjarak. Kita perlu menetapkan batas yang tegas antara mencari hiburan sejenak dan terjebak dalam kecanduan drama yang merugikan diri sendiri. Mengambil kendali atas pola konsumsi media—seperti membatasi durasi penggunaan aplikasi, berani mematikan notifikasi, serta rajin menyaring (mute/unfollow) akun-akun penyebar rumor—adalah langkah nyata untuk merebut kembali kedamaian pikiran.
Pada akhirnya, kehidupan nyata kita yang penuh dengan tanggung jawab, impian, dan potensi adalah hal yang paling berharga untuk diperjuangkan. Menghabiskan energi mental untuk mengurusi skandal dan keretakan hidup orang lain di dunia maya hanyalah pengalihan semu yang merusak fokus serta ketenangan hidup. Mari belajar melepaskan dahaga atas drama orang lain, dan kembali menginvestasikan perhatian serta kasih sayang pada perjalanan hidup kita sendiri di dunia nyata.