Kolom
Fenomena Chat saat Butuh: Teman atau Sekadar Tempat Mencari Bantuan?
Pernahkah kamu berada dalam situasi di mana seorang teman mendadak datang mengirim chat singkat hanya ketika ia membutuhkan bantuan, informasi, atau jawaban atas suatu masalah atau persoalan? Lalu ia menghilang setelah kepentingannya selesai? Ketika menghadapi fenomena seperti ini, bagi sebagian orang, hal ini kerap mendatangkan rasa kecewa hingga perasaan hanya dimanfaatkan sebagai "alat" pelengkap kebutuhan semata.
Namun, jika dilihat lebih dalam secara objektif, fenomena atau pola 'chat saat butuh' ini sebenarnya memiliki dua sisi poin yang berbeda. Apakah hal ini murni bentuk efisiensi komunikasi (langsung to the point tanpa basa-basi), atau justru bentuk ketidakseimbangan relasi yang mulai mengarah pada pertemanan sepihak (one sided friendship atau bahkan mengarah pada toxic friendship?
Bila dilihat dari sisi sosiologis dan psikologis, tidak semua orang memiliki energi atau waktu untuk bertukar pesan setiap hari dan menceritakan urusan pribadi. Bagi seseorang yang berkarakter praktis, tidak bisa basa-basi, dan cuek biasanya menganggap menghubungi teman hanya saat ada keperluan spesifik adalah hal yang wajar. Hal ini tentunya dilakukan tanpa ada niat merendahkan arti pertemanan itu sendiri.
Namun, terkadang batas pertemanan tersebut menjadi sangat kabur ketika dinamika pertemanan bergeser menjadi hubungan yang berat sebelah. Masalah utama dari fenomena 'chat saat butuh' saja bukan terletak pada pesan bantuan yang dikirimkan, namun terkadang ada pihak yang merasa tidak adanya timbal balik dan ketimpangan empati dalam pertemanan mereka.
Bayangkan seorang teman yang menghilang berbulan-bulan, lalu tiba-tiba meminta tolong mengerjakan tugas atau meminjam uang. Kamu membantu tanpa pikir panjang. Namun, ketika giliranmu bercerita karena sedang kewalahan, ia hanya membalas “oh” atau tidak membalas sama sekali. Di titik inilah relasi mulai terasa tidak sehat.
Ketika ada salah satu pihak terus-menerus dituntut untuk memberi dukungan emosional, kebersamaan, dan bantuan, namun disisi lain pihak yang telah memberi dukungan emosional selalu mendapatkan penolakan atau ketidakpedulian saat membutuhkan hal serupa. Ketimpangan ini perlahan menimbulkan kelelahan mental, kejengkelan, dan hilangnya rasa nyaman. Rasa lelah itu wajar dan tidak berarti kamu terlalu sensitif. Jika pola tersebut berlangsung terus-menerus dan disertai sikap tidak peduli, barulah pertemanan layak disebut toxic.
Dalam perilaku toxic friendship, salah satu indikator utama pertemanan yang tidak sehat adalah timbulnya komunikasi buruk yang hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Pola toxic friendship kerap ditandai oleh perilaku teman yang tidak memiliki empati yakni hanya mendekat saat memiliki tujuan pribadi, namun bersikap acuh tak acuh dan enggan memberikan bantuan saat teman lainnya membutuhkan dukungan.
Pertemanan dengan pola seperti ini juga tidak jarang berisi hal-hal yang negatif, seperti menebar kebencian antar sesama teman, tidak suka jika orang lain bahagia, cemburu dengan orang lain, pesimis. dan lain-lain.
Menghadapi pertemanan yang menguras energi sosial tidak harus disikapi dengan luapan kemarahan konfrontatif. Menetapkan batas diri (personal boundaries) secara bijak adalah langkah awal yang sangat penting. Kita berhak menolak permintaan bantuan atau ajakan secara halus apabila kondisi emosional dan waktu kita memang tidak memungkinkan.
Fenomena ini juga mengajak kita bercermin. Mungkin tanpa sadar kita pernah menjadi pihak yang hanya muncul saat butuh. Menyapa tanpa maksud apa pun, menanyakan kabar, atau sekadar membalas cerita teman adalah hal kecil yang menjaga hubungan tetap hangat. Dengan begitu, kita tidak hanya menuntut keseimbangan dari orang lain, tetapi juga berusaha menjadi teman yang seimbang.
Pada akhirnya, pertemanan yang sehat tidak diukur dari seberapa intens kita bertukar pesan harian, melainkan dari adanya kepedulian yang tulus dan keseimbangan empati dari kedua belah pihak. Pertemanan dewasa adalah tentang saling mendukung secara adil, bukan memanfaatkan kehadiran seseorang hanya sebagai pemuas kepentingan sepihak.
Bagaimana menurutmu?