facebook

5 Pemicu Konflik Finansial Dalam Rumah Tangga, Harus Dihindari!

Mutami Matul Istiqomah
5 Pemicu Konflik Finansial Dalam Rumah Tangga, Harus Dihindari!
ilustrasi pasangan bertengkar (Freepik.com/pressfoto)

Banyak rumah tangga yang berantakan disebabkan karena konflik finansial. Konflik finansial bisa dilatarbelakangi oleh banyak kejadian, tidak sekadar tentang uang yang kurang. 

Hal ini perlu menjadi kehati-hatian kita dalam menjalin rumah tangga agar bisa menyikapi konflik finansial dengan baik dan bijak. Banyak hal yang dipertaruhkan ketika rumah tangga berantakan. Maka, usahakan jangan sampai kita bernasib yang sama. 

Lalu, apa saja pemicu konflik finansial yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga? Simak ulasan berikut ini!

1. Perbedaan pendapatan yang besar

Perbedaan pendapatan yang besar antara kamu dan pasangan bisa memicu konflik finansial dalam rumah tangga. Mungkin tidak akan terjadi dengan selisih yang sedikit, namun bagaimana jika berlipat-lipat?  

Misalnya saja, pendapatan pasangan berselisih dengan begitu banyak dengan pendapatanmu. Sangat wajar bagi dirinya untuk merasa minder, rendah diri, merasa tersaingi, bahkan merasa tidak lagi berguna. 

Awalnya, mungkin kamu dan pasangan bertekad bekerja sama untuk memperbaiki taraf kehidupan. Namun, rasa iri dan rendah diri yang terjadi, sangat mungkin untuk memecah belah buat baik tersebut. 

Pasanganmu mungkin akan sedikit lebih sensitif ketika membicarakan tentang uang, pemasukan, maupun pengeluaran. 

2. Perbedaan mengatur prioritas keuangan

Perbedaan mengatur prioritas keuangan bisa dikarenakan jika kamu memilih mengutamakan sebagian besar pendapatan untuk tabungan. Lalu, pasanganmu justru menginginkannya untuk menikmati hidup. Tentu saja kedua hal tersebut merupakan hal yang berlawanan. 

Perbedaan ini akan memicu keributan antara kamu dan pasangan. Makanya, kamu harus membuat kesepakatan bersama agar pengelolaan uang rumah tangga bisa berjalan dengan persetujuan kedua belah pihak. 

3. Gaya hidup yang berlebihan

Sudah menjadi hal yang banyak terjadi di mana banyak orang merasakan finansial yang porak poranda dikarenakan gaya hidup yang berlebihan. 

Hati yang membara untuk terus menuruti keinginan, membuatmu kalang kabut dalam menggunakan uang. Alhasil, semuanya berantakan bahkan habis untuk sesuatu yang tidak kelihatan. 

Akan lebih baik jika kamu terus memiliki prinsip bahwa mencari uang itu tidak gampang, jadi menggunakannya pun harus penuh dengan pertimbangan. 

Hidup sederhana bukan berarti hidup miskin. Namun hidup dengan secukupnya. Kamu tidak akan dihina orang hanya karena kamu memilih untuk hidup sederhana. Asalkan dalam sisi yang lain, kamu tidak merepotkan orang lain, bahkan senang membantu sesama.

4. Membandingkan kondisi finansial keluarga lain

Membandingkan kondisi finansial dengan keluarga lain, biasanya dilakukan dengan membandingkan kehidupan rumah tangga diri sendiri dengan mereka yang hidup terlihat lebih mewah, bahagia dan enak. 

Hal ini bisa menyebabkan konflik finansial dalam rumah tangga karena adanya keinginan untuk hidup seperti mereka. Padahal, kemampuan jauh di bawahnya.

Hal ini akan membuat kamu merasa kurang bersyukur. Padahal banyak juga orang yang hidup dengan lebih susah. Selain itu, hal ini juga akan menjadi beban untuk pasangan karena bisa jadi dia merasa tidak bisa membuatmu bahagia. Pertengkaran pun menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan. 

5. Memiliki utang/tabungan yang disembunyikan 

Hutang maupun tabungan adalah hal yang tidak baik untuk disembunyikan dari pasangan. Meskipun sebuah hutang bisa menjadi beban untuk pasangan, namun akan lebih berdampak buruk lagi ketika menyembunyikannya. 

Begitu pula dengan tabungan. Kalaupun kamu ingin membuat tabungan untuk dirimu sendiri, kamu harus membicarakannya dengan pasangan agar dia tidak salah paham. 

Itu dia 5 pemicu konflik finansial dalam rumah tangga. Semoga kita bisa menghindarinya dan menjadikannya pembelajaran untuk menjalani kehidupan berumah tangga.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak