Teruntuk bagi mahasiswa baru (maba) mungkin masih ada yang bingung apa sih enaknya menjadi mahasiswa dan apa yang membedakan saat di waktu siswa? Pertanyaan itu memang lumrah, apalagi bagi maba yang memang tidak ada gambaran sebelumnya tentang dunia kampus dan mahasiswa.
Bahkan ada juga kasus maba merasa dilema saat baru masuk di dunia kampus, merasa bahwa dunia kampus begitu rumit, dan selalu merindukan masa-masa yang ada di sekolah. Merindukan kenangan di sekolah adalah hal wajar, namun mesti dipahami bahwa tiap manusia memiliki fase masing-masing dan maba harus tahu pula bahwa dirinya sudah berstatus mahasiswa.
Bagi sahabat maba yang baru ingin memasuki dunia kampus mungkin bisa membaca tulisan ini supaya punya ada sedikit gambaran terkait enaknya menjadi mahasiswa ketimbang saat jadi siswa. Bukan berarti bahwa dunia kampus lebih bagus ketimbang dari dunia di sekolah ya, karena tidak mungkin bisa menjadi mahasiswa kalau tidak melalui dulu fase siswa. Tetapi kalau menjadi mahasiswa mungkin akan merasakan enaknya yang tidak didapatkan di waktu sekolah.
1. Tidak ada upacara bendera dan apel pagi
Bagi sebagian siswa ada saja yang menganggap bahwa upacara bendera dan apel pagi yang dilaksanakan setiap hari itu terlalu membosankan dan bisa membuat merasa tidak enak, apalagi kalau upacaranya dilaksanakan terlambat dan lama, di situ kadang muncul pikiran tidak enak bagi siswa. Bukan berarti saya mengatakan bahwa upacara bendera itu tidak baik ya, justru lebih baik dan memang harus dijalankan kalau di sekolah.
Tetapi kalau di dunia kampus, mungkin ini akan menjadi kabar baik bagi mereka yang merasa kalau upacara bendera itu kadang melelahkan. Mengingat saat menjadi mahasiswa itu tidak ada lagi upacara bendera dan apel pagi, kalau pun tetap mau upacara bendera tidak juga masalah sih, hanya saja tidak ada kewajiban harus upacara bendera bagi mahasiswa.
2. Jam kuliah fleksibel
Di dunia kampus jam kuliah itu bisa saja berubah, tidak harus pagi tetapi bisa saja sore, tergantung kesepakatan antara dosen dan mahasiswa. Sementara kalau di sekolah jam pelajaran sudah diatur, biasanya dari pagi sampai siang, dan waktu libur biasanya hari munggu saja. Intinya kalau di mahasiswa jam kuliah bisa kapan saja selama dalam satu semester itu bisa diselesaikan berapa jumlah pertemuan yang telah ditetapkan antara dosen dan mahasiswa melalui kontrak kuliah, artinya jam kuliah lebih fleksibel gitu.
3. Tidak diharuskan memakai seragam
Kalau sudah menjadi mahasiswa pakaian sudah bukan lagi persoalan, yang penting rapi dan bersih itu sudah menghargai etika dalam perkuliahan. Terserah mau pakai pakaian apa saja dan bebas, bahkan kadang ada saja mahasiswa yang hanya memakai kaos oblong saat mengikuti perkuliahan. Tidak seperti saat menjadi siswa, pakaian seragam itu diwajibkan bagi tiap siswa, dan kalau pun melanggar aturan itu tentu akan ada hukuman dari guru.
4. Tidak ada razia rambut
Razia rambut di sekolah termasuk momok paling ditakutkan bagi siswa laki-laki. Seorang siswa laki-laki tentunya tidak bisa gondrong dan harus selalu rapih, kalau pun ada jelas akan menjadi buronan para guru untuk dicukur gratis. Jelas kondisi ini banyak membuat siswa laki-laki merasa tidak enak jika ada lagi razia rambut, dan kadang juga itu bisa membuat siswa tidak cocok sama gurunya hanya karena tidak mau dicukur gratis. Razia rambut di sekolah itu selalu rutin dilaksanakan dan membuat was-was bagi siswa laki-laki.
Sementara kalau sudah menjadi mahasiswa razia rambut itu sudah tidak ada lagi, terserah mahasiswa laki-laki mau botak atau gondrong, itu adalah bentuk ekspresi dari mahasiswa. Sehingga tidaklah heran kalau mahasiswa laki-laki banyak yang gondrong, entah sebagai bentuk balas dendam karena sering dicukur saat menjadi siswa atau karena hanya bentuk ekspresi saja. Nah, itu bukanlah suatu masalah yang harus diperdebatkan.
5. Bebas ikut komunitas dan organisasi
Kalau sudah menjadi mahasiswa jelas akan dihadapkan banyak organisasi yang dapat dimasuki. Masuk organisasi yang ada di kampus terserah dari mahasiswanya dan tentu organisasi tersebut dapat membantu proses pengembangan diri. Artinya kalau sudah menjadi mahasiswa sudah diharuskan bisa berpikir mandiri.
Oleh karena itu, maba boleh saja ikut organisasi yang ada di kampus selama tidak bertentangan dengan kampus dan bukan organisasi terlarang. Tetapi yang jelas, saat masuk di organisasi maba mesti tahu terlebih dahulu apakah organisasi tersebut dapat mendorong pengembangan diri atau tidak, serta tidak boleh membenturkan antara organisasi dan dunia kampus yang kadang justru melalaikan kewajiban kampus, jelas hal itu tidak direkomendasikan.
Itulah 5 enaknya menjadi mahasiswa ketimbang saat masih siswa. Teruntuk bagi mahasiswa baru tidak perlu risau lagi untuk menjadi mahasiswa, enaknya menjadi siswa juga tak kalah enak menjadi mahasiswa. Setiap fase akan selalu berbeda dan di situlah kita diharuskan untuk terus belajar dan beradaptasi dengannya.