4 Perbedaan Hukuman vs. Konsekuensi, Langkah Tepat Mendisiplinkan Anak

Ayu Nabila | Dea Pristotia
4 Perbedaan Hukuman vs. Konsekuensi, Langkah Tepat Mendisiplinkan Anak
Ilustrasi anak dimarahi orang tua [Pexels/August de Richelieu]

Menumbuhkan anak untuk menjadi sosok yang disiplin diperlukan usaha keras dari orang tua. Harus membentuk lingkungan yang disiplin mulai dari penerapan kebiasaan sehari-hari. Hingga memahami konsekuensi dari sebuah keputusan. Namun, terkadang orang tua menjadi bias antara hukuman dengan konsekuensi.

Hukuman bukanlah hal yang tepat untuk menjadikan anak sosok yang disiplin, sedangakn konsekuensi dapat membantu anak memahami cara kerja kehidupan dengan disiplin. 

Menurut Damar Wijayanti, seorang konselor positive discipline parents mengatakan bahwa melakukan hal yang bertujuan membuat anak jera itu adalah hukuman, bukan konsekuensi. 

Sementara konsekuensi akan menekankan agar anak belajar mengambil keputusan yang bijak di lain waktu. Secara lengkap yuk simak perbedaan konsekuensi vs. hukuman. 

1. Sifat Dasar Konsekuensi vs Hukuman

Konsekuensi: membantu anak memahami sebab akibat dari keputusannya.

Hukuman: membuat anak merasa dirinya buruk. 

2. Dampak di Masa Depan

Konsekuensi: membantu anak membuat pilihan yang lebih baik di lain waktu.

Hukuman: mendorong anak untuk menyembunyikan kesalahan di lain waktu. 

3. Respon Tentang Kesalahan

Konsekuensi: membantu anak menemukan solusi atas kesalahannya.

Hukuman: mendorong anak untuk mencari alasan agar tidak dihukum. 

4. Perasaan Anak

Konsekuensi: membuat anak merasa mampu memperbaiki kesalahan.

Hukuman: mempermalukan anak atau membuat anak tak berdaya saat melakukan kesalahan. 

Contoh Nyata Konsekuensi vs. Hukuman

Seorang anak menolak untuk makan karena ia ingin segera bermain ke taman. Padahal ini sudah masuk waktu makan anak. Konsekuensi yang dapat dberikan adalah dengan mengatakan bahwa jika tidak makan ia akan merasa lapar ketika bermain di taman. Lalu ia harus pulang lagi dan makan agar tidak lapar.

Hal ini dapat mengurangi waktu bermain anak dan membuatnya karena harus kemballi lagi ke rumah. Namun jika orang tua menerapkan hukuman maka akan dikatakan bahwa anak tidak boleh pergi ke taman sebelum ia menyelesaikan makannya. 

Dengan konsekuensi anak akan belajar memahami bahwa terdapat pilihan dan sebab akibat yang dapat dipertimbangkan anak. Sedangkan anak yang memproses hukuman akan gagal paham tentang hubungan makan dan tidak boleh ke taman. Karena itu ancaman dan hukuman tidak dapat membuat anak memahami kondisi yan gia hadapi. 

Syarat Menerapkan Konsekuensi

Terdapat beberapa poin yang harus diterapkan orang tua untuk membuat konsekuensi yang tepat pada anak. Seperti membantu anak memahami keterkaitan antara perilaku dan konsekuensinya, menghormati perasaan anak, diterapkan secara masuk akal, dan membantu anak memperbaiki kesalahannya. 

Itu adalah hal-hal yang perlu diperhatikan saat membentuk anak yang disiplin. Sekaran sudah paham bukan perbedaan konsekuensi dengan hukuman. Jangan sampai salah menerapkan ya, parents

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak