Lifestyle
Lebaran Belum Lengkap Kalau Belum Ada Nastar di Meja
Setelah sebulan penuh berpuasa dan melatih kesabaran, akhirnya tiba hari yang dinanti-nantikan yaitu Idulfitri. Hari kemenangan ini selalu identik dengan suasana hangat yang dipenuhi kebersamaan. Keluarga berkumpul, kerabat datang bersilaturahmi, dan rumah pun terasa lebih hidup dari biasanya. Tidak hanya percakapan yang mengalir, meja makan juga ikut diwarnai dengan berbagai hidangan khas yang menggugah selera.
Jika membicarakan kuliner lebaran, pikiran kita biasanya langsung tertuju pada ketupat dan opor ayam yang menjadi pasangan setia di banyak rumah. Namun ketika pembahasannya beralih ke kue kering, ada satu nama yang hampir selalu muncul tanpa perlu dipanggil.
Kue kecil ini biasanya disimpan rapi di dalam toples, bahkan kadang “diamankan” jauh-jauh dari jangkauan sebelum hari raya tiba. Baru saat lebaran benar-benar datang, toples itu dibuka dan ditunjukkan ke semua orang. Kue tersebut tidak lain adalah nastar.
Nastar, kue mungil berisi selai nanas ini sudah lama menjadi ikon Idulfitri. Rasanya yang manis dengan tekstur lembut membuatnya mudah disukai oleh berbagai kalangan. Anak-anak menyukainya karena rasanya legit, sementara orang dewasa sering kali menyantapnya sambil menyeruput teh atau kopi saat menerima tamu. Tanpa nastar, meja tamu saat lebaran terasa seperti ada yang kurang, meskipun sebenarnya masih dipenuhi berbagai kue lainnya.
Menariknya, keberadaan nastar dalam tradisi lebaran bukan sekadar kebetulan. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa kue ini sudah lama menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat Indonesia saat hari raya. Di banyak rumah, menyiapkan toples nastar bahkan menjadi ritual tersendiri menjelang lebaran. Ada yang membuatnya sendiri bersama keluarga, ada juga yang membeli dari toko kue langganan. Apa pun caranya, yang penting nastar tetap hadir saat tamu datang berkunjung.
Selain sebagai hidangan, nastar juga sering dianggap sebagai simbol keramahan tuan rumah. Ketika tamu datang, toples kue biasanya langsung disodorkan ke meja. Dari sekian banyak pilihan yang tersedia, tangan sering kali secara refleks mengambil nastar terlebih dahulu. Entah karena bentuknya yang kecil dan praktis, atau mungkin karena sudah menjadi “kue favorit nasional” setiap kali lebaran tiba.
Jika ditelusuri lebih jauh, sejarah nastar ternyata cukup menarik. Kue ini memiliki pengaruh dari tradisi kuliner Eropa pada masa kolonial. Kata “nastar” sendiri berasal dari bahasa Belanda, yaitu “ananas” yang berarti nanas dan “tart” yang berarti kue. Pada awalnya, kue bergaya pie buah ini menggunakan bahan yang populer di Eropa seperti apel atau stroberi. Namun karena buah-buahan tersebut tidak mudah ditemukan di wilayah tropis, masyarakat lokal kemudian menggantinya dengan nanas yang justru melimpah di Indonesia. Dari situlah lahir versi nastar yang kita kenal sekarang: kue kering dengan isian selai nanas yang manis dan sedikit asam.
Seiring waktu, nastar berkembang menjadi kue khas yang identik dengan perayaan besar, terutama Idulfitri. Bentuknya pun semakin beragam. Ada yang klasik bulat dengan olesan kuning telur di atasnya, ada juga yang dihias cengkeh, keju, bahkan dibentuk seperti daun dan bunga. Walaupun tampilannya berubah-ubah, satu hal tetap sama: rasa khas yang membuat orang sulit berhenti setelah mengambil satu.
Menariknya lagi, di banyak rumah ada fenomena yang hampir selalu terjadi setiap lebaran. Dari sekian banyak kue yang tersaji di meja, nastar sering menjadi yang paling cepat habis. Padahal awalnya toplesnya terlihat penuh. Namun beberapa jam setelah tamu berdatangan, isinya mulai menyusut perlahan. Tiba-tiba saja bagian dasar toples sudah terlihat. Anehnya, tidak ada yang merasa mengambil terlalu banyak. Sepertinya memang ada “kekuatan misterius” yang membuat orang tanpa sadar mengambil satu kue lagi, lalu satu lagi.
Dengan demikian, nastar bukan sekadar kue kering biasa. Kudapan ini sudah menjadi bagian dari suasana lebaran itu sendiri. Kehadirannya mungkin sederhana, hanya kue kecil dengan isian nanas. Namun dari tahun ke tahun, nastar selalu berhasil menghadirkan rasa akrab yang sama. Jadi tidak berlebihan jika banyak orang merasa bahwa lebaran belum benar-benar lengkap kalau belum ada nastar di meja.