Lifestyle

Kisah Bli Nyoman Merawat Alam di Desa Sejahtera Astra, Les Buleleng Bali

Kisah Bli Nyoman Merawat Alam di Desa Sejahtera Astra, Les Buleleng Bali
Bli Nyoman (Tourdeles Bali)

Di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng Bali ada sebuah desa yang menyimpan kisah menarik tentang bagaimana sebuah tradisi, alam, dan kemajuan ekonomi dapat bersatu padu berjalan secara beriringan nan harmonis.

Desa Les namanya. Salah satu desa yang dapat  ditempuh sekitar tiga jam perjalanan dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Di desa Les ini kamu akan menemukan wajah pulau Bali yang berbeda dari rata-rata kawasan wisata lainnya.

Desa Les ini rata-rata hidup dengan keterhubungan alam dari kawasan perbukitan hingga laut. Di tengah arus modernisasi yang kian berkembang ini justru masyarakat Desa Les memilih merawat kekayaan alam dan tradisi leluhur yang sangat kental sebagai  wujud modal untuk membangun masa depan desa yang lebih baik dan sejahtera.

Bli Nyoman, Sosok Hero Penggerak Perubahan dari Desa Les, Buleleng Bali.

Di balik geliat Desa Les yang kian maju dan berkembang ini  terdapat satu sosok lokal bernama Nyoman Nadiana, atau yang akrab disapa Bli Don Rare. Lahir di Desa Les pada 11 Februari 1987, ia merupakan pemandu wisata sekaligus penggerak pariwisata berbasis masyarakat.

Bli Nyoman menjabat sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Segare Gunung dan menjadi penggerak Kampung Berseri Astra (KBA) atau Desa Sejahtera Astra di Desa Les.

Sebelumnya, Bli Nyoman memang pernah menjadi pemandu wisata di Bali Selatan. Dari pengalaman tersebut, ia melihat bahwa Desa Les sebenarnya memiliki potensi luar biasa.

“Kenapa harus jauh-jauh kalau desaku sendiri ada surga yang belum dijual?”

Hal inilah yang menguatkan prinsipnya. Bahwa memperkenalkan desa Les Buleleng kepada dunia luar itu berbeda dengan mengeksploitasi, seperti tuduhan orang yang tidak bertanggung jawab. Melainkan memperkenalkan kekayaan desa ini memiliki tujuan mulia agar budaya desa setempat dapat dikenal, dinikmati, sekaligus dijaga bersama-sama oleh Masyarakat.

Semangat inilah yang kemudian dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan terpadu, mulai dari membantu pemasaran produk lokal seperti garam, gula, minyak kelapa, arak lokal, hingga kerajinan masyarakat.

Bli Nyoman jugalah yang mengembangkan Tourdeles Bali bersama anak-anak muda disana. Tourdeles merupakan sebuah konsep wisata yang mengajak pengunjung merasakan kehidupan Desa Les secara lebih dekat.

Para wisatawan kini tidak hanya sekadar datang ke destinasi desa yang populer saja, tetapi juga dapat diajak berjalan menyusuri permukiman warga, pantai, bukit, melihat aktivitas nelayan, hingga mempelajari proses pembuatan garam tradisional.

 Konservasi Terumbu Karang

Di Desa Les ini ada salah satu perubahan yang dirasa sangatlah besar yang  terjadi di kawasan laut. Dahulu kala, aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan itu sempat menyebabkan kerusakan parah pada terumbu karang yang mengakibatkan habitat laut menjadi sangat menyedihkan.

Namun untungnya para Masyarakat dapat berfikir jernih dan kemudian mengambil Langkah protektif untuk dapat memperbaiki kondisi tersebut. Kelompok konservasi laut yang dibentuk oleh warga bersama para nelayan ini kini mulai melakukan transplantasi terumbu karang serta meninggalkan penggunaan racun dan bom ikan.

Alhasil laut yang sebelumnya mengalami kerusakan parah kini mulai perlahan-lahan dapat memiliki wajah baru. Kawasan pesisir pantai kemudian mulai dapat  dikembangkan sebagai bagian dari ekowisata bahari, termasuk melingkupi aktivitas snorkeling dan diving berbasis konservasi.

Upaya ini tentunya dapat menunjukkan bahwa  dengan menjaga lingkungan itu tidak harus bertentangan dengan berbagai kepentingan ekonomi. Justru dengan adanya laut yang sehat dapat menjadi sumber penghidupan baru bagi masyarakat melalui pariwisata yang bertanggung jawab.

Garam Palungan, Warisan yang Menjadi Daya Tarik Wisata

Ada salah satu tradisi yang menjadi ciri khas Desa Les, namanya garam palungan. Pembuatan garam yang dilakukan secara alami. Cara pembuatannya air laut dialirkan ke area pengolahan, dikeringkan di bawah sinar matahari, kemudian diproses menggunakan palungan atau cetakan kayu tradisional yang khas.

Prosesnya memang memakai waktu yang lumayan panjang. Semua bergantung pada panas matahari, air laut, waktu, dan keterampilan petani garam menjadi bagian penting dalam menghasilkan butiran garam khas Desa Les.

Tradisi tersebut kini tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga ekonomi. Garam tradisional diperkenalkan sebagai pengalaman wisata sehingga pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatannya.

Melalui penguatan pemasaran, garam Desa Les juga memperoleh akses pasar yang lebih luas. BUMDes Giri Segara turut membuka peluang pemasaran, sementara dukungan berbagai pihak membantu meningkatkan nilai ekonomi produk lokal.

Dengan demikian, tradisi yang sebelumnya berpotensi ditinggalkan justru mendapatkan alasan baru untuk terus dipertahankan.

Desa Sejahtera Astra dan Empat Pilar Pemberdayaan

Perjalanan Desa Les semakin berkembang sejak mendapatkan pendampingan melalui program Desa Sejahtera Astra pada 2024. Program ini berfokus pada penguatan masyarakat desa melalui empat bidang utama, yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.

Di bidang lingkungan, masyarakat didorong untuk melakukan aksi iklim berbasis komunitas. Selain konservasi terumbu karang, terdapat pula program Les Grow yang mengolah sampah organik menjadi kompos melalui pengelolaan TPST desa.

Di bidang kesehatan, kegiatan Posyandu, edukasi kehamilan, serta pemberian makanan tambahan bagi anak yang membutuhkan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesehatan ibu dan anak.

Sementara di bidang pendidikan, penguatan kualitas pendidikan dasar dan pembekalan generasi muda menjadi perhatian. Salah satunya melalui pembelajaran bahasa Inggris dan pengenalan pariwisata.

Program tersebut penting karena generasi muda merupakan pemegang estafet identitas Desa Les. Mereka diharapkan mampu menjadi local guide, pelaku UMKM, sekaligus penggerak promosi desa melalui teknologi digital.

Pariwisata yang Tidak Menghilangkan Jati Diri

Desa Les juga memiliki potensi wisata lain, seperti Air Terjun Yeh Mampeh, kawasan pesisir, kehidupan nelayan, hingga pengalaman menikmati proses pembuatan garam.

Pengembangan wisata dilakukan dengan pendekatan berbasis masyarakat. Homestay menjadi salah satu pilihan agar manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan langsung oleh warga.

Konsep tersebut membuat wisatawan tidak hanya menjadi penonton. Mereka dapat berinteraksi dengan masyarakat, mengenal kehidupan sehari-hari, mencicipi kuliner lokal, serta memahami hubungan antara warga dengan alam di sekitarnya.

Inilah yang membuat Desa Les menarik. Modernisasi tidak harus menghadirkan hotel besar atau bangunan baru yang mengubah wajah desa. Sebaliknya, kehidupan asli masyarakat justru dapat menjadi daya tarik wisata

Kolaborasi masyarakat, pemerintah desa, BUMDes, dan pendampingan Desa Sejahtera Astra mulai memberikan dampak nyata. Program yang berjalan telah menjangkau lebih dari 800 warga, mendorong peningkatan pendapatan masyarakat hingga 25 persen, membuka lapangan kerja baru, serta membantu meningkatkan penyerapan produk lokal.

Kerja keras tersebut juga membawa Desa Les meraih Juara Umum Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024.Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa desa dapat berkembang tanpa harus meninggalkan akar budayanya warga desanya membuat hidup lebih sejahtera. Dari desa yang biasa saja akhirnya menjadi desa wisata terbaik tingkat nasional.

Desa Les kini mampu bangkit dengan beragam program Astra. Tak hanya menjadi Desa Sejahtera kini ternyata dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, membuka peluang kerja baru, meningkatkan kesehatan warga desa, dan juga memfasilitasi kelestarian lingkungan berbasis komunitas.

Kerja sama yang berkelanjutan antara local hero, warga desa dan PT Astra Internasional Tbk menjadikan sebuah  desa itu bisa lebih berkembang, mandiri, dan produktif. Program Desa Sejahtera Astra di Desa Les telah memberikan dampak sosial dan ekonomi yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Ketika Tradisi Menjadi Modal Masa Depan

Kisah Desa Les mengajarkan bahwa tradisi dan kemajuan bukan dua pilihan yang harus dipertentangkan. Petani tetap membuat garam dengan cara leluhur sambil memperluas pasar. Warga menjaga terumbu karang sekaligus mengembangkan wisata bahari. Generasi muda belajar bahasa asing bukan untuk meninggalkan desa, tetapi untuk memperkenalkan kampung halamannya kepada dunia.

Di sinilah makna nyegara gunung terasa begitu kuat. Gunung, desa, manusia, laut, dan tradisi merupakan satu kesatuan yang saling terhubung.

Pendampingan Astra melalui Desa Sejahtera Astra menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Bukan sekadar menghadirkan program, tetapi membantu masyarakat mengembangkan potensi yang sebenarnya sudah mereka miliki.

Pada akhirnya, Bli Nyoman bersama Desa Les membuktikan bahwa kemajuan suatu deea tidak selalu berarti harus meninggalkan masa lalu. Terkadang, masa depan itu justru dapat dibangun dengan merawat apa yang telah diwariskan oleh para leluhur yang harus kita hormati.

Dari palungan garam, terumbu karang yang cantik, perahu nelayan, hingga langkah anak-anak muda yang memilih membangun desa sendiri ketimbang pergi ke luar daerah, Desa Les menunjukkan bahwa identitas lokal dapat menjadi kekuatan untuk bersaing di tengah perubahan zaman.

Ke depannya semoga muncul banyak sosok-sosok yang menginspirasi, para penggerak desa yang kita miliki ataupun local hero seperti Bli Nyoman yang dapat mengubah desa menjadi lebih baik. Para generasi emas yang tercipta untuk berdedikasi pada lingkungan sekitarnya

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda