Lifestyle

Loneliness in Hyper-Conectivity: Kesepian di Tengah Keterhubungan Digital

Loneliness in Hyper-Conectivity: Kesepian di Tengah Keterhubungan Digital
Ilustrasi perempuan bermain Handphone (magnific)

Ketika teknologi sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, rasanya hampir mustahil bagi kita untuk benar-benar terputus dari orang lain. Karena dalam hitungan detik saja kita bisa mengirim pesan, melakukan panggilan video, membagikan postingan di media sosial, bahkan memberi reaksi atau komentar pada postingan seseorang. 

Tetapi di balik kemudahan tersebut muncul sebuah pertanyaan mengapa kita masih merasa kesepian meskipun selalu terhubung dengan banyak orang?

Fenomena ini sangat dekat dengan kehidupan Gen Z di era sekarang, karena media sosial sudah menjadi bagian dari cara mereka untuk mengekspresikan diri, berinteraksi, hingga membangun hubungan dengan orang lain.

Akan tetapi, banyaknya koneksi yang dimiliki di dunia digital ternyata tidak selalu berarti seseorang memiliki hubungan yang dekat secara emosional, sebab kita bisa saja memiliki banyak orang untuk diajak berkomunikasi tanpa benar-benar memiliki seseorang yang memahami apa yang sedang kita rasakan. 

Persoalannya kemudian bukan hanya terletak pada seberapa sering kita menggunakan media sosial. Melainkan pada bagaimana teknologi perlahan mengubah cara kita memahami sebuah hubungan karena perhatian mulai sering diukur melalui kecepatan seseorang membalas pesan, seberapa cepat mereka melihat story, atau seberapa sering mereka memberikan reaksi terhadap unggahan kita. 

Sehingga notifikasi yang awalnya hanya berfungsi sebagai pemberitahuan dapat berubah menjadi bentuk validasi bahwa kita masih diperhatikan oleh orang lain. 

Kesepian di era digital juga tidak selalu terlihat seperti seseorang yang duduk sendirian tanpa memiliki teman karena seseorang bisa saja berada di tengah banyak orang, memiliki grup percakapan yang ramai, atau mendapatkan banyak interaksi di media sosial, tetapi tetap merasa tidak memiliki tempat yang cukup aman untuk menceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hidupnya. 

Ramainya media sosial bahkan sering kali membuat perasaan tersebut menjadi semakin sulit terlihat karena setiap hari kita disuguhi berbagai unggahan tentang pertemanan, hubungan romantis, liburan, pencapaian, hingga kehidupan yang terlihat menyenangkan. 

Sementara kita jarang melihat sisi lain dari kehidupan orang-orang tersebut yang mungkin sedang merasa lelah, cemas, bingung, atau kesepian saat kamera sudah dimatikan dan layar ponsel kembali ditutup. 

Kebiasaan untuk hanya menunjukkan sisi terbaik kehidupan di media sosial akhirnya membuat ruang digital seperti sebuah panggung tempat setiap orang berusaha terlihat baik-baik saja, sehingga tanpa disadari kita bukan hanya membandingkan kehidupan nyata dengan kehidupan digital, tetapi juga membandingkan diri kita dengan versi kehidupan yang sengaja dipilih untuk ditampilkan kepada publik. 

Ketika kondisi tersebut terus berlangsung, kita akhirnya dapat terjebak dalam sebuah paradoks ketika semakin sibuk menunjukkan bahwa kita memiliki kehidupan sosial yang menyenangkan, semakin sedikit pula ruang yang kita berikan untuk mengakui bahwa sebenarnya kita sedang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan, dan pada titik inilah keterhubungan digital dapat berubah menjadi sesuatu yang terasa ramai di layar tetapi sepi dalam kehidupan nyata. 

Karena itu, membangun hubungan yang lebih manusiawi tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Kita dapat memulainya dari hal sederhana seperti mengajak seseorang berbicara dengan tulus, menanyakan kabarnya tanpa sekedar basa-basi, atau memberikan ruang bagi mereka untuk bercerita tanpa merasa harus langsung memberikan solusi atas masalah yang sedang dihadapi. 

Kebiasaan untuk benar-benar hadir ketika sedang bersama orang lain juga menjadi sesuatu yang semakin penting di tengah kehidupan yang penuh notifikasi.

Karena ketika sedang berbicara dengan seseorang, meletakkan ponsel untuk beberapa saat dan memberikan perhatian penuh dapat menjadi bentuk penghargaan sederhana yang membuat lawan bicara merasa bahwa dirinya benar-benar didengarkan. 

Pada akhirnya, teknologi seharusnya membantu manusia untuk saling mendekat tanpa mengambil alih makna dari sebuah hubungan karena secanggih apapun teknologi yang kita gunakan, manusia tetap membutuhkan percakapan dan perhatian yang nyata, juga kehadiran yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh layar. 

Ketika dunia semakin ramai dengan notifikasi, postingan, dan berbagai bentuk interaksi digital, mungkin sudah waktunya bagi kita untuk berhenti menghitung berapa banyak orang yang terhubung dengan kita dan mulai bertanya berapa banyak orang yang benar-benar bisa kita hubungi ketika sedang tidak baik-baik saja.  

Kita tidak membutuhkan ribuan koneksi untuk menghilangkan kesepian, melainkan beberapa hubungan yang cukup tulus untuk membuat kita merasa benar-benar ditemani.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda