Lifestyle

Mitos Minyak Bersih: Menyingkap Ancaman Akrilamida di Balik Gorengan Rumahan

Mitos Minyak Bersih: Menyingkap Ancaman Akrilamida di Balik Gorengan Rumahan
Ilustrasi gorengan bakwan (Sumber: Freepik)

Mengira gorengan buatan sendiri otomatis aman dinikmati tanpa batas hanya karena dimasak di dapur bersih rumahmu? Jangan senang dulu, minyak panas tetaplah minyak panas yang siap merusak kualitas nutrisi makananmu.

Minyak Rumah vs Minyak Pinggir Jalan: Kontrol Kualitas dan Titik Asap

Perbedaan terbesar gorengan rumah dan jualan di jalanan terletak pada kualitas minyak dan titik asap (smoke point). Menurut Prof.Dr.ir. Hardinsyah, MS, pakar gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), gorengan rumah tangga cenderung lebih baik karena minyak yang digunakan jarang dipakai berulang-ulang hingga berwarna hitam pekat seperti di pedagang kaki lima.

Minyak jelantah yang dipakai berkali-kali mengalami proses oksidasi ekstrem yang membentuk senyawa radikal bebas dan asam lemak trans (trans fat). Meski begitu, Dr. Dariush Mozaffarian, pakar kardiologi dan nutrisi dari Tufts University, mengingatkan bahwa proses penggorengan dengan metode deep fried—bahkan dengan minyak baru sekalipun—tetap mengubah struktur molekul makanan, merusak vitamin yang rentan panas, dan melipatgandakan kalori secara drastis melalui penyerapan lemak jenuh.

Suhu Memasak dan Pembentukan Akrilamida

Bahaya gorengan tidak hanya berasal dari jenis minyaknya, tetapi juga dari reaksi kimia akibat suhu tinggi. Ketika bahan makanan berbahan dasar karbohidrat seperti pisang, ubi, atau adonan tepung digoreng di atas suhu 120°C, terjadi reaksi Maillard yang menghasilkan senyawa beracun bernama akrilamida.

Senyawa ini telah berpotensi sebagai bahan yang berpotensi karsinogen (pemicu kanker) bagi manusia. Membuat gorengan di rumah memang memberi kita kontrol penuh untuk tidak memakai minyak bekas, namun tanpa kontrol suhu dan durasi masak yang tepat, risiko paparan akrilamida dan membebani kalori berlebih tetap tidak bisa dihindari sepenuhnya.

Relevansi dengan Kondisi Indonesia Saat Ini

Masyarakat Indonesia memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan gorengan, mulai dari bakwan, tahu isi, hingga pisang goreng yang hampir selalu ada di meja makan setiap hari.

Di tengah melonjaknya kasus penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, kolesterol tinggi, hingga serangan jantung di usia muda, anggapan bahwa “gorengan rumah pasti sehat” menjadi pembenaran yang berbahaya.

Banyak keluarga yang merasa tenang mengonsumsi gorengan dalam jumlah banyak setiap hari hanya karena diolah di dapur sendiri, padahal akumulasi lemak jenuhnya tetap membebankan kerja pembuluh darah dan organ hati dalam jangka panjang.

Gorengan buatan rumah memang menampilkan lebih bersih dan meminimalkan racun dari minyak jelantah, tetapi itu bukan kartu hijau untuk mengonsumsinya secara ugal-ugalan. Makanan sehat atau tidaknya makanan bukan hanya ditentukan dari mana ia dimasak, melainkan bagaimana kamu memperlakukan tubuhmu sendiri.

Mulailah dengan bijak membatasi asupan minyak dan variasikan teknik mengolah makanan, karena kesehatan masa depanmu ditentukan oleh apa yang kamu masukkan ke dalam piring hari ini.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda