Lifestyle

Mengenal Nonchalant Core: Tren Bersikap 'Bodo Amat' ala Gen Z, Sehatkah Secara Mental?

Mengenal Nonchalant Core: Tren Bersikap 'Bodo Amat' ala Gen Z, Sehatkah Secara Mental?
Ilustrasi perempuan muda sedanga santai (Sumber: Freepik)

Dikit-dikit emosi, dikit-dikit bikin klarifikasi berjam-jam di media sosial: capek enggak, sih?

Dunia yang makin bising justru bikin tren Nonchalant Core mendadak estetik dan diburu anak muda. Gaya santai, tenang, dan terkesan "nggak enakan untuk urusan drama" ini berubah jadi vibes paling dicari di kalangan Gen Z dan keluarga muda. Namun, apakah ini murni bentuk kematangan emosi, atau cuma topeng kepura-puraan biar kelihatan keren?

Makna Teoritis dan Contoh Sikap Nonchalant Core

Secara bahasa, nonchalant berarti bersikap tenang, santai, dan acuh tak acuh tanpa memperlihatkan kepanikan atau emosi berlebih. Ketika digabungkan dengan kata core (subkultur gaya hidup), Nonchalant Core mengacu pada sikap mental yang berusaha tidak mudah triggered oleh tekanan sosial, komentar warganet, maupun drama hubungan interpersonal. Seseorang yang mengadopsi Nonchalant Core akan memprioritaskan kontrol emosi daripada bereaksi secara impulsif.

Contoh konkretnya bisa dilihat dari cara merespons konflik. Saat dihujani kritik tajam di media sosial atau menghadapi masalah pekerjaan, alih-alih membalas dengan amarah menggebu-gebu, mereka yang mempraktikkan Nonchalant Core cukup membalas dingin, menyelesaikan masalah secara privat, atau bahkan tidak merespons sama sekali jika itu cuma provokasi.

Dalam dinamika keluarga muda, sikap ini tercermin ketika orang tua tetap berkepala dingin dan santai saat menghadapi tantrum anak tanpa perlu ikut-ikutan emosi meledak-ledak.

Sikap acuh tak acuh ini mendapat perhatian dari para praktisi psikologi dan pakar perilaku sosial:

Dr. Mark Travers, Ph.D. (Psikolog Klinis dari American Psychological Association / APA) menyebutkan bahwa sikap nonchalant bisa menjadi mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) yang sehat jika didasari oleh regulasi emosi yang matang. Namun, ia memberi catatan tegas bahwa jika sikap ini dipakai untuk menghindari intimasi emosional atau melarikan diri dari tanggung jawab, hal tersebut berubah menjadi bentuk emotional detachment yang merusak hubungan.

Dra. A. Kasandra Putranto (Psikolog Klinis asal Indonesia) menjelaskan bahwa gaya hidup santai ala Gen Z ini sebenarnya cerminan dari kejenuhan terhadap tingginya kelelahan mental (burnout) dan tekanan ekspektasi sosial. Menurutnya, bersikap nonchalant efektif mengurangi beban pikiran, selama seseorang tetap memiliki empati dan tidak berubah menjadi pribadi yang apatis terhadap orang sekitarnya.

Relevansi dengan Kondisi Indonesia Saat Ini

Di tengah gempuran fenomena oversharing, cyberbullying, dan perselisihan yang sengaja diumbar demi konten di Indonesia, Nonchalant Core hadir sebagai oase mental.

Gen Z dan keluarga muda Indonesia yang jenuh dengan drama politis maupun judgement lingkungan sekitar mulai memilih untuk menahan diri. Mereka sadar bahwa tidak semua hal di dunia ini membutuhkan reaksi emosional mereka.

Namun, penerapan Nonchalant Core di budaya Indonesia yang kental dengan nilai kekeluargaan harus dilakukan secara bijak. Jika berlebihan, sikap "terlalu cuek" ini berisiko dicap tak sopan atau egois.

Menjadi nonchalant bukan berarti kamu tidak peduli pada orang lain, melainkan tahu kapan harus menghemat energi emosional agar tidak terkuras oleh hal-hal yang tidak penting.

Penutup

Tampil tenang dan santai di tengah dunia yang makin kacau adalah bentuk kedewasaan mental yang patut diapresiasi. Nonchalant Core memberikan pelajaran berharga bahwa kedamaian pikiran sering kali didapat bukan dari seberapa keras kita bertarung, melainkan dari sejauh mana kita mampu memilih hal-hal yang pantas untuk dipedulikan.

Kendati demikian, jangan sampai topeng  cuek ini justru mengikis rasa empatimu terhadap orang-orang terdekat. Menjaga jarak dari drama sosial itu perlu, tetapi menutup diri dari keterbukaan emosional adalah kesalahan fatal.

Jadilah pribadi yang tenang di luar, tetapi tetap hangat dan peduli di dalam. Sikap tenangmu harusnya menjadi penyeimbang, bukan tembok pembatas hubungan kemanusiaanmu.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda